Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 231. Tidak Enak Badan


__ADS_3

Umi Maryam langsung bernapas lega setelah yang datang di belakang Daddy Kim Oen adalah Lee Kim Oen. Setelah itu tidak ada lagi yang mengucapkan salam, "Walaikum salam." Umi Maryam menjawab dengan semangat.


Celotehan baby Aaron menjadi perhatian semua orang. Sehingga tidak ada yang bertanya tentang Kakek Raharjanto. Membuat Umi Maryam merasa kega.


"Mi ... Mi ... Mi!" teriak baby Aaron.


"Iya Nak. Aaron lapar atau kangen Mami?" tanya Vefe.


Baby Aaron meronta sambil menarik gaun Vefe. Seolah sudah tidak tahan untuk menikmati asupan gizi favorit. Terus saja berceloteh tidak sabaran ingin membuka sendiri.


"Tunggu dong, Nak. Mami harus mengusir para bapak dan opa tampan yang ada di sini dulu."


Tanpa di komando mereka yang merasa laki-laki ke luar ruang rawat inap. Mereka sangat mengerti jika baby Aaron akan menikmati ASI. Tidak mungkin Vefe akan membuka jika masih ada orang yang bukan muhrim.


"Ayo kita ke lua dulu!" ajak Pak Gun sambil berpamitan kepada Mpok Ria dengan bahasa isyarat.


Setelah baby Aaron anteng dan menikmati ASI. Vefe baru teringat dengan Kakek Raharjanto. Dari kemarin semangat empat lima mencari Umi Maryam, tetapi sekarang tidak ikut ke rumah sakit.


"Mom ... ke mana Kakek, kok tidak ikut ke sini?"


Umi Maryam langsung melotot melihat ke arah Vefe. Memberikan kode dengan menggelengkan kepala. Agar Mommy Astrid tidak tahu tentang masalah Kakek Raharjanto yang menyukainya.


"Ayah ada undangan hajatan teman mantan anggota dewan yang sudah seperti saudara, katanya ayah diminta sebagai saksi akad nikah."


"Ooo pantesan tidak ikut ke sini."


"Ayah kirim salam untuk Umi dan Nak Ve. Kemungkinan sekitar satu minggu di sana."


"Lo kok lama, Undangan di mana, Mom?"


"Di kampung halaman ayah, Wonogiri Jawa Tengah."


Mommy Astrid bercarita sore ini keluarga Kakek Raharjanto berangkat ke Wonogiri. Mereka naik kereta api ekspres dari stasiun. Lebih memilih naik angkutan umum karena lebih hemat waktu dan tidak terlalu capek dibanding membawa mobil sendiri.


"Mengapa tidak naik pesawat saja cepat, Mom?"

__ADS_1


"Cucunya yang minta naik kereta, katanya bosan naik pesawat terus."


Mommy Astrid kembali bercerita, awalnya ingin mengajak Vefe sekeluarga ke sana. Karena Mpok Ria baru melahirkan. Niatnya diurungkan dan akan mengajak nanti lain waktu.


"Iya lain kali aja, Vefe tidak mungkin meninggalkan Mpok Ria saat ini," jawab Vefe sambil melirik Umi Maryam.


Yang terlihat bahagia dan tersenyum saat ini adalah Umi Maryam. Setidaknya bisa tenang dalam satu minggu ke depan. Tidak harus menghindar atau menemui Kakek Raharjanto yang terus mencarinya.


Setelah empat hari berlalu, Mpok Ria diizinkan untuk pulang ke rumah. Sayangnya baby Ilham harus masih dirawat di inkubator. Sampai menunggu berat badan mencapai dua kilogram.


Mpok Ria lebih memilih tinggal di rumah sakit. Padahal Vefe menawarkan untuk tinggal di hotel yang tidak jauh dari rumah sakit. Tidak jadi keluar rawat inap dan lebih memilih menunggu putranya sambil memberikan ASI eksklusif.


Sekarang ini mulai musim hujan di daerah Jakarta dan sekitarnya. Pergantian musim seperti akan menurunkan daya tahan tubuh terutama pada anak kecil. Termasuk baby Aaron yang sekarang ini tidak pernah mau diam.


Baby Aaron mulai bisa berjalan walau masih tertatih dan terkadang terjatuh. Selalu bangun dan bangun lagi saat jatuh. Selalu ada saja yang menjadi incaran untuk diacak dan dijadikan bahan mainan.


Karena tidak pernah mau diam itulah, sore ini baby Aaron rewel dan selalu merengek. Tidak mau turun dari gendongan. Berpindah dari Bunda Fatia, Mommy Astrid dan Vefe.


"Cucu Oma tidak enak badan ya, mau berobat ke dokter atau mau urut?" tanya Bunda Fatia.


"Jam berapa minumnya, Nak?"


"Satu jam yang lalu."


Bunda Fatia mengerutkan keningnya teringat metode memberikan obat kepada bayi yang masih minum ASI eksklusif. Memang ada beberapa obat yang apabila diminum oleh Ibu, dapat masuk dan terserap ke dalam ASI yang dihasilkan. Namun hanya berapa persen kandungan yang terserap dalam ASI dan tidak dapat diketahui dengan pasti. 


Obat yang diminum oleh Ibu, akan mengalami proses metabolisme di dalam tubuh Ibu. Sehingga kadar obat yang masuk dan terkandung dalam ASI akan kecil sekali. Tidak akan menimbulkan efek, apalagi memberikan kesembuhan bagi bayi.


Obat yang diresepkan untuk bayi, sudah pasti dosisnya cukup rendah. Apabila orang dewasa yang meminumnya, sudah tentu tidak akan menimbulkan efek apapun bagi sang Ibu, apalagi bagi bayinya. Sehingga dapat dikatakan, bahwa obatnya akan terbuang percuma, dan bayi tidak akan mendapatkan penanganan kesehatan yang dibutuhkan.


Berkali-kali Bunda Fatia memeriksa kening dan lengan baby Aaron, "Sepertinya kurang efektif obat yang Nak Ve minum."


"Kita ke dokter anak saja kalau begitu, Bun."


Bunda belum sempat menjawab ajakan Vefe. Datang Khan dari pulang kerja dan mendengar percakapan Vefe dan Bunda Fatia, "Apakah putra Papi sakit?"

__ADS_1


Bunda Fatia dan Vefe tidak menjawab pertanyaan Khan. Karena baby Aaron langsung menangis sambil merentangkan tangannya. Batita itu sudah pandai mengadu walaupun dengan bahasa planet yang susah dimengerti.


"Gendong Papi kah?" Khan meletakkan tas kerja di meja. Langsung menggendong baby Aaron dan memeluknya erat.


Baby Aaron terus mengoceh seolah sedang memberikan laporan pada papinya, "Iya ... Nak, rasanya tidak enak badan ya?"


"Dari tadi tidak mau turun dan minta gendong terus dia, Papi." Vefe juga ikut memberikan laporan.


"Mungkin capek juga, selalu saja berpetualang tanpa henti, Mau Papi pijitin?"


Khan mulai memberikan sentuhan lembut di leher baby Aaron. Hanya sayangnya batita itu bukan kesakitan melainkan tertawa cengengesan. Mungkin rasanya geli seperti dikelitiki.


"Eee kok tertawa, Aaron geli?" tanya Vefe ikut tertawa.


Bunda Fatia yang awalnya khawatir juga ikut tertawa, "Apakah obatnya hanya Papi saja, mengapa sekarang cengengesan gitu?"


Baby Aaron terus tertawa saat tangan Khan mulai melemaskan otot leher dan punggung dengan lembut. Keuntungan orang yang memiliki keahlian silat sebagian besar faham tentang otot dan urat. Bahkan Khan memang memiliki keahlian khusus tentang urat atau tulang yang keseleo.


Hanya sayangnya satu jam berlalu setelah diurut, baby Aaron tetap saja rewel dan terus menangis. Tetap tidak mau turun dari gendongan. Bahkan sekarang tidak mau pindah dari gendongan Vefe.


"Ke rumah sakit saja, sepertinya tidak ada perubahan," kata Khan mulai khawatir.


"Iya ayo, Pi. Mami mulai khawatir juga."


Mommy Astrid berangkat menjemput Umi Maryam saat Khan, Vefe dan Bunda Fatia berangkat duluan ke rumah sakit. Mengajak ikut menyusul ke rumah sakit sekalian mengunjungi baby Ilham. Tanpa bercerita terlebih dahulu Mommy Astrid langsung mengajak dia setelah sampai di panti asuhan.


"Umi ... baby Aaron sakit, ayo menyusul ke rumah sakit!"


"Sakit apa Aaron, Mommy?"


BERSAMBUNG


mampir yok kk ke novel teman author yang rekomen banget ini. ada di novel toon juga kok, terima kasih.


__ADS_1


__ADS_2