Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 133. Terus Terang


__ADS_3

Security langsung menyalami Khan tanpa ragu, "Selamat malam, Tuan Khan. Saya sedang bertemu sama pacar saya."


"Kamu tidak kuliah?"


Vefe kaget mendengar Khan berbicara akrab dengan pria berseragam security. Dia adalah pemuda yang pernah ditaksirnya saat SMA. Pemuda sombong yang sok penting karena prestasinya.


"Saya masuk pagi, Tuan sekarang sedang jaga malam, oya saya belum menyapa istri Anda. Selamat malam Nyonya."


Vefe tidak menjawab sapaan security yang sok akrab. Bahkan dia tidak berani melihat security itu. Dia memilih berlindung di samping Khan sambil melingkarkan tangan di lengan suaminya.


"Kamu ajari pacarmu itu sopan santun, sekali lagi dia menghina istriku habis kamu, aku tarik biaya kuliah dan janji kerja di perusahaan setelah lulus," ancam Khan dengan tegas.


"Siap Tuan, Akan aku pastikan dia tidak akan melakukan itu lagi."


"Seandainya kamu harus memilih masa depan kuliah dan pacarmu yang tidak sopan itu kamu memilih siapa?" tanya Khan lagi.


"Pasti masa depan, Tuan. Tetapi kalau boleh memilih aku akan tetap berasangan dengan dia."


"Kamu bisa menjamin wanita itu bisa merubah pikirannya?"


"Semoga saja, Tuan."


"Ya sudahlah."


Khan meggandeng Vefe meninggalkan mereka di depan butik. Vefe dari tadi hanya terdiam mendengarkan membicaraan Khan dan security yang terlihat sangat akrab. Tidak menyangka Khan dan mantan idola SMA seakrab itu.

__ADS_1


Merry juga hanya diam dan selalu melirik Vefe yang berlindung di samping Khan.Wanita itu terdiam dengan pikirannya sendiri. Tidak berani berucap atau menggerutu lagi.


Vefe berjalan dengan melamun, ternyata dunia tidak selebar daun kelor. Suatu saat nanti pasti pria itu akan barcerita kepada Khsn. Lebih baik berterus terang jika dirinya mengenal security.


"Mas, apakah pacar Merry itu karyawan Mas di kantor?"


"Bukan ... Sayang. Dia itu keponakan Pak Bowo."


"Kok Mas yang biayai kuliah dia?"


Khan bercerita jika Giofani Suroso adalah pemuda yang berprestasi dari kecil. Baik akademik ataupun di bidang olahraga. Terutama basket dan beladiri, dia adalah satu perguruan dengan Khan.


Saat lulus SMA Ayah Gio meninggal dunia karena serangan jantung. Penyebabnya adalah perusahaan milik ayah Gio berpindah tangan atas nama ibu kandung yang berselingkuh dengan orang kepercayaan ayahnya sendiri.


Gio saat ini bekerja di sebuah mall ternama menjadi security. Selain untuk biaya hidupnya sehari-hari. Dia juga bisa membantu keluarga pamannya yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri karena ayah Gio adalah kakak kandung Pak Bowo.


"Mengapa Mas terlihat akrab dengan security itu?"


"Itu karena dia pernah Mas hajar sampai babak belur saat dia masih songong dan manja."


"Maksudnya, Mas?"


"Dia dulu sombong mentang-mentang anak orang kaya, berani dan tidak sopan kepada Pak Bowo, setelah Mas hajar dia mulai sadar dan selalu meminta pertimbangan pada Mas saat dia ada masalah."


"Oooo ...."

__ADS_1


Tanpa sadar sambil bercerita mereka sampai parkiran. Khan membukakan pintu mobil sambil tersenyum, "Ayo masuk, Sayang."


"Terima kasih, Mas."


Vefe duduk dan meluruskan kakinya menghadap Khan yang mulai menyetir, "Mas ...!"


"Ada apa?"


"Ve mau berterus terang tetapi jangan marah ya?"


"Mengapa harus marah?"


"Ve takut Mas cemburu dan marah sama Ve."


Khan menarik kaki Vefe yang awalnya di luruskan di jok kearah belakang badannya. Diurutnya menggunakan tangan kiri perlahan agar kaki Ve rileks dan tidak terlalu bengkak. Tangan kanannya memutar setir berjalan perlahan menuju rumah.


"Katakan mengapa Mas harus cemburu?"


"Si Merry dan Gio itu teman Vefe satu kelas."


"Apa hubungannya dengan Mas harus cemburu?"


Vefe masih ragu dan takut ingin mengatakan tentang perasaannya dulu. Tentang rasa rendah diri sering di bully hanya karena menyukai idola bintang kelas, "Ve dulu suka sama Gio, tetapi ...!" Vefe terdiam tidak berani melanjutkan ucapannya karena Khan mengerem mendakak.


"Mas ...?"

__ADS_1


__ADS_2