
Sesaat Sania keluar dari parkiran perusahaan PT KURNIA, Khan masuk area parkir, "Mau ngapain itu si Minyak Goreng datang ke sini?" monolog Khan dengan lirih.
Khan langsung turun dan berlari masuk lingkungan perusahaan. Duduk di kursi empuknya sambil bersandar. Mengistirahatkan otak dan badan yang terasa lelah.
Melihat sekelebat Khan lewat, Asisten Satria langsung menyusul. Di samping akan melaporkan pekerjaan yang sudah selesai. Dia juga akan melaporkan tentang kedatangan Sania Parwati.
"Ini laporan hari ini, Tuan?"
"Sudah selesai semua ?"
"Sudah ... oya Tuan, tadi Nona Sania datang sini mencari Anda."
"Aku lihat dia saat keluar parkiran tadi, mau ngapain dia ke sini?"
Asisten Satria bercerita tentang percakapannya dengan Sania Parwati. Menyarankan untuk tidak berharap lagi kepada Khan. Tidak berharap apapun kepada Khan karena Khan tidak suka padanya.
"Benar-benar itu Minyak Goreng, harus bagaimana lagi cara menghadapi dia?"
__ADS_1
"Dia tetap akan berjuang, sepertinya Anda akan menghadapi Sania lebih dari Eno."
Khan mengambil napas dalam-dalam, merasa kesal, marah dan emosi. Dari dulu wanita yang di jodohkan datang silih berganti. Sikap mereka tidak seperti Sania Parwati dan Retno Wulandari.
Sebagian besar wanita yang di jodohkan di tolak oleh Khan. Mereka mundur dan menerima dengan lapang dada. Sebagian besar berpikir memang tidak berjodoh dan mundur teratur.
Khan sampai bingung dan putus asa menghadapi Sania dan Eno. Ke duanya sama-sama teropsesi dan tidak mau menyerah. Harus dengan cara apa lagi agar mereka mengerti.
"Kamu punya cara apa lagi untuk menghadapi si Minyak Goreng itu, Satria?"
"Minta saja pada Nyonya Bunda untuk menasehati mereka, hanya dengan itu mereka akan mundur."
Khan langsung menghubungi Bunda Fatia. Menceritakan tentang Sania Parwati yang datang ke perusahaan. Tentang niatan dia masih ingin berjuang untuk bisa menjadi menantu Bunda Fatia.
Bunda Fatia hanya tertawa saat diminta Khan untuk menasehati Eno dan Sania agar mundur. Beliau mengatakan sebenarnya sudah berkali-kali menasehati mereka. Mereka saja yang terlalu mencintai Khan sehingga masih saja ingin mendapatkan cintanya.
Hari Sabtu sore Khan kembali berangkat ke Surabaya bersama Asisten Satria. Mereka langsung ke penginapan bertemu dengan Vefe dan dua adiknya malam itu. Mengajak makan malam bersama di restoran dekat stadion.
__ADS_1
Selesai makan malam Khan mengajak nongkrong dan bersantai di Tugu Pahlawan. Gi dan Ji diajak oleh Asisten Satria menyaksikan ada atraksi sulap dadakan di sana. Sedangkan Vefe dan Khan berjalan mengelilingi area Tugu pahlawan yang sangat ramai.
Sambil berbincang dan melihat-lihat para pedagang yang menjajakan dagangannya. Ada banyak sekali jenis dagangan yang ada. Dari kuliner, baju, sepatu sampai oleh-oleh khas Surabaya.
Ada satu yang menjadi perhatian Vefe. Kaos dengan corak warna yang mencolok dengan tulisan khas bahasa Jawa Timur. Dengan berbagai ukuran dan tulisan yang lucu dan menggelitik.
Khan lansung bertanya kepada pedagangnya saat Vefe senang membaca tulisan yang ada di kaos, "Berapa harga kaosnya, Cak?"
"Murah Cak, apalagi kalau membeli dalam jumlah banyak, akan di hitung dengan harga grosir," jawab Pedagang.
Vefe langsung menyenggol lengan Khan, "Mas, buat apa membeli kaos dalam jumlah banyak?"
Khan tersenyum, "Mas iseng bertanya aja Ve. Ve mau beli yang mana?"
"Ve hanya melihat saja, Mas. Ve suka tulisannya lucu dan unik."
"Pilih saja, Mas yang membelikan!"
__ADS_1
"Tidak mas, Ve tidak mau merepotkan."
Khan mengerutkan keningnya berpikir bagaimana cara agar dia mau menerima dan memilih kaos yang ada di depannya. Pasti dia akan menolak jika hanya membeli satu saja, "Mas juga ingin membeli, Ve. Bagaimana kalau kita beli satu kaos yang couple itu?"