Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 179. Tanda Lahir


__ADS_3

Sambil tergelak dengan terpaksa Vefe menyutujui syarat yang diajukan oleh Khan, "Iya ok ... Mami janji, tetapi turunkann dulu!" teriaknya.


Khan ikut tergelak dan menurunkan perlahan tubuh Vefe ke tempat semula. Usahanya berhasil, baik menghibur dia tertawa dan modusnya juga berhasil. Sekali berusaha dua-duanya di dapatkan yaitu menghibur dan beraksi.


"Coba Mami mengahap ke belakang!"


"Mau apa sih, Pi?" tanya Vefe berbalik badan.


"Mami diam saja jangan bergerak!"


Khan hanya menyingkap baju tidur atasan milik Vefe ke atas. Ada tanda lahir berada di pinggang bagian belakang dekat tulang ekor. Sepeerti tahi lalat tetapi lebar dan hitam.


Vefe tidak mungkin bisa melihat tanda itu. Hanya bisa dilihat jika di foto. Bahkan berkaca juga tidak bisa dilihat kecuali dengan kaca dua sisi.


Sebenarnya tanda lahir yang ada di belakang itu, Vefe sudah lama tahu sejak kecil. Namun dia tidak pernah melihat sama sekali karena posisinya yang susah dilihat. Hanya mendengar cerita dari Bunda Maryam dan Mpok Ria saat Vefe masih kecil.


Khan menarik tangan Vefe dan membimbingnya untuk meraba tanda lahir itu, "Di sini ... Mami bisa merasakan?"


"Tidak ... Apakah besar tanda lahir itu?"

__ADS_1


"Kecil aja sih, tidak ada satu centi meter diameternya."


Vefe mencoba menurunkan kembali baju tidurnya perlahan, Khan langsung protes dan berusaha kembali menaikkan ke atas lagi," Eeee tunggu dulu, Jangan di turunkan, Ingat Mami sudah setuju dengan perjanjian itu!"


"Perjanjian apa, Mami lupa tuuuh!" jawab Vefe asal.


Khan kembali menarik Vefe dalam pelukan, "Enak aja mau mengingkari janji yang sudah di sepakati."


Dengan tergelak Vefe mengerutkan keningnya. Berpikir cara menjawab yang bisa di terima dengan logika agar bisa menghindari perjanjian itu, "Tadi kata Papi setelah melihat tidak boleh di tutup, Kan?"


"Iya ... Mengapa sekarang Mami mau mengingkari?"


"Papi bule ... Mami tidak mengingkari, Mami belum melihatnya , hanya merabanya saja. Jadi suka-suka Mami dong menutup lagi."


Dengan pelan-pelan Vefe berjalan meninggalkan Khan yang masih berpikir. Dia duduk untuk membersihkan wajah dan memakai krim malam. Bibirnya menyunggingkan senyuman saat Khan tidak menyadari Vefe sudah tidak berada di sampingnya lagi.


"Papi punya ide Mami!" teriaknya hanya sayangnya Vefe tidak ada di hadapannya. Dia memutar badan mencari Vefe, "Ke mana Mami?"


Vefe hanya tersenyum sambil menutup mulutnya. Khan mendekati Vefe, tetapi sebelumnya dia menyambar ponsel yang tadi tergeletak di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Mami tega banget sih, tadi Papi sudah seneng mau langsung beraksi, sini buka lagi agar Mami bisa lihat!"


Khan duduk berjongkok di belakang kursi yang di duduki Vefe. Tangannya melingkar ke depan membuka buah baju yang ada di depan. Tidak ingin hanya menyingkap ke atas, takut nanti langsung ditutup seperti tadi.


"Eee ... Papi mau ngapain?"


"Mami diam dulu, yang penting Mami bisa lihat perbedaannya dan Papi bisa beraksi. Jadi sama-sama untung."


Vefe mengerucutkan bibirnya karena semakin hari suaminya semakin modus yang ulung. Jika dipikir sama untung yang seperi apa maksudnya. Dia yang untung banyak jika dibandingkan hanya melihat tanda lahir saja.


"Sama-sama untung dari mana, dasar modus?"


Khan hanya tersenyum sambil mengambil foto tanda lahir yang ada dibelakang badan Vefe berkali-kali, "Mami mau berapa foto yang Papi ambil?"


"Terserah Papi saja."


"Berarti nanti Papi akan beraksi sesuai dengan jumlah foto yang Papi ambil, ok?"


"Aduuuh ogah, sekali saja fotonya, Mami tidak mau gempor."

__ADS_1


Khan semakin tergelak mendengar protes istrinya. Masih ada satu alasan untuk bisa membuat Vefe mau diajak beraksi. "Mami harus setuju dan tidak bisa manolak, katena ini adalah momen yang sangat spesial. Anggap saja hadiah ulang tahun Mami yang sebenarnya."


"Mengapa begitu, seharusnya Papi yang memberikan hadiah buat Mami, mengapa sekarang terbalik, Mami yang harus memberikan servis pada Papi?"


__ADS_2