Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 28. Bertarung dengan Bunda


__ADS_3

Baru masuk halaman rumah, Khan langsung di serang dengan membabi-buta. Khan terpaksa melawan dan menghindar serangan itu dengan cepat. Malam itu kembali Khan harus bertarung sampai wajahnya lebam kembali.


Walau lawannya sudah berumur setengah abad lebih. Tetap saja tidak bisa dianggap remeh. Apalagi Khan tidak menggunakan baju yang nyaman untuk bertarung.


Mereka terus saja menyerang dan menangkis. Walaupun Khan lebih banyak menghindar daripada menyerang. Khan sering menahan serangan dan terkadang memilih memeluknya saat ada kesempatan.


Khan menyerang dengan setengah tenaga saja. Selalu di tahan saat serangan datang kearahnya. Menangkis dan menahan juga menggunakan bagian yang tidak melukai lawan.


"Jangan cuma menghindar, jangan memeluk juga, Bunda masih marah sama Khan!" teriaknya sambil terus menyerang Khan.


"Ampun Bunda, Khan mengaku kalah. Ampun Bunda ... Khan kangen Bunda!" Khan ikut berteriak sambil menangkis serangan Bunda Fatia yang terus-menerus tanpa henti.


"Khan harus melawan Bunda tidak bisa menghindar terus!" Bunda Fatia terus saja menyerang Khan.


"Khan tidak mau durhaka ... ampun Bunda!"


Bunda Fatia, wanita tangguh yang memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni. Walaupun sudah berumur tetapi masih sehat dan bugar karena sering berlatih. Bunda masih aktif dengan berlatih bela diri secara teratur untuk menjaga kesehatan.

__ADS_1


Khan langsung mengunci memeluk Bunda Fatia dari depan dengan tangan didalam pelukan. Sehingga Bunda Fatia tidak bisa menyerang kembali. Napas mereka terengah-engah sambil tertawa berdua.


"Apakah putra Bunda masih marah?"


"Tidak mungkin Khan pulang kalau masih marah, mengapa tidak menghubungi Khan kalau Bunda akan ke Jakarta?"


"Bagaimana bisa menghubungi kalau ponsel Khan dimatikan?"


Khan tergelak sambil meraih punggung tangan Bunda Fatia dan menciuminya berkali-kaki, "Maaf, Bun. Khan kesal gara-gara tetangga Bunda itu."


"Bunda juga tidak tahu tentang ulah mereka, mereka juga tidak pernah mengkonfirmasi terlebih dahulu dengan Bunda."


Mereka masuk rumah diikuti Asisten Satria dari belakang. Jika antara Khan dan bundanya bertarung Asisten Satria hanya bisa mengawasi dari jauh. Mereka sudah terbiasa berlatih dan bertarung jika bertemu.


Berbincang dengan Bunda di ruang makan di temani Asisten Surya. Mereka membicarakan langkah selanjutnya untuk mengatasi keluarga Eno. Mencari jalan terbaik dan Bunda meminta agar tidak menyinggung mereka.


"Bunda rela, Khan yang tersinggung dan marah?"

__ADS_1


"Ya tidak dong, Nak. Bunda mau semua terbaik dan damai."


"Bagaimana bisa damai Bun? Emosi Khan sudah sampai ubun-ubun."


"Iya Bunda mengerti, sekarang apa maunya Khan?"


"Khan mau tidak di jodohkan dengan siapapun, Bunda stop mencari jodoh untuk Khan."


Bunda Fatia mengambil napas panjang, bingung dan sedih karena semakin hari putranya semakin kesal karena perjodohan yang di lakukan. Padahal tujuannya agar putranya tidak berlarut-larut mengenang masa lalu yang membuatnya trauma.


"Tujuan Bunda itu baik, Nak. Bukan untuk membuat Khan tidak bahagia."


"Khan Tahu, Bun. Tetapi Khan tidak mau dijodohkan."


"Kecuali Khan sudah memiliki pilihan sendiri, mungkin Bunda akan mempertimbangkan tidak menjodohkan Khan lagi."


Khan termenung teringat Vefe, gadis yang membuatnya nyaman dan tidak mengalami trauma. Kini Khan menjadi dilema, jika di ceritakan sekarang pasti Bunda Fatia akan langsung melamar Vefe. Jika tidak di ceritakan pasti Bunda Fatia akan mencari lagi wanita untuk di perkenalkan.

__ADS_1


Sedangkan kini Khan belum bisa dan belum berani menyatakan perasaan kepada Vefe. Khan ingin mengalami masa perkenalan berteman dan dekat secara alami seperti pemuda yang lain. Tidak harus ada pemaksaan dan berjalan mengalir seperti air.


Bunda Fatia menepuk pundak Khan yang sedang termenung, "Mengapa melamun, apakah Khan sudah memiliki pacar?"


__ADS_2