
Pak Gun memberikan test peck satu pics milik Nina yang kemarin tidak jadi dipakai. Bagi Khan dan Vefe sangat asing barang kecil yang masih bersegel. Vefe hanya membolak-balik test peck tidak tahu cara menggunakannya.
"Ini namanya test peck, Tuan."
"Untuk apa test peck ini, Pak Gun?' tanya Vefe.
"Ini untuk mengetahui Anda hamil atau tidak."
"Hamil ...!" Khan dan Vefe kaget.
Pak Gun tersenyum mendengar keluguan Tuan dan Nonanya. Ingin menjelaskan secara detail kepada mereka. Hanya sayangnya Pak Gun belum pernah mengalami melakukan tes kehamilan.
"Nanti Pak Gun panggil Bu Nina untuk menjelaskan saja, Tuan."
"Baik, panggil ke sini sekarang saja!"
Pak Gun tersenyum dan mengangguk sambil keluar kamar. Hanya dalam sepuluh menit Nina datang bersama Asisten Satria. Mereka langsung duduk di depan Vefe.
"Kapan Anda terakhir berhalangan, Nona?" tanya Nina.
Vefe mengerutkan keningnya teringat satu minggu sebelum akad nikah terakhir halangan. Sekarang sudah satu bulan lebih satu minggu tetapi belum juga datang tamu bulanannya.
"Satu minggu sebelum akad nikah."
Nina tersenyum sambil mengangguk. Kemungkinan prediksinya benar jika Vefe langsung hamil. Saat mereka akad dikah Vefe dalam keadaan subur menurut kalender kesuburan.
Nina menerangkan cara menggunakan test peck. Menampung sedikit urine di tempat. Di celupkan ujung dari alatnya. Dan ditunggu sesaat sampai terlihat ada garis satu yang terlihat berarti negative dan jika garis dua berarti positive.
"Ayo Mas antar untuk mengambil urine, Sayang!"
"Iya ... Mbak Nina jangan pergi dulu ya!" perintah Vefe.
"Baiklah ...."
Khan membimbing Vefe yang berjalan dengan malas. Badannya masih lemas dan kepala pusing. Memaksakan berjalan menuju kamar mandi padahal malas bergerak.
__ADS_1
Vefe menampung sedikit urine menggunakan gelas kecil. Dibawa keluar untuk di periksa bersama-sama. Tidak hanya Khan yang penasaran melihat test peck yang di celupkan di gelas kecil. Asiaten Satria, Pak Gun, Nina juga fokus melihat test peck.
Hanya dalam hitungan menit test peck itu terlihat dua garis merah. Khan yang pertama kali tersenyum. Tidak menyangka akan secepat ini perburuannya langsung membuahkan hasil.
Vefe mengerutkan keningnya saat melihat ada dua garis merah. Tidak menyangka akan berbadan dua secepat ini. Baru menikah satu bulan rasanya seperti mimpi.
"Selamat, Tuan. Sebentar lagi Anda akan menjadi orang tua!" Pak Gun langsung mengucapkan selamat.
"Mas ...!" Vefe masih bingung dan tertekun.
Khan memeluk Vefe dari samping dan mengecup dahinya. Rasa cintanya kini semakin besar. Apalagi sekarang ada benih dan calon bayi yang ada di dalam rahimnya.
"Ada apa, Sayang?"
"Apakah tidak terlalu cepat kita mempunyai bayi?"
"Tidak ... Mas sangat bahagia Allah memberikan kita kepercayaan untuk memiliki momongan, jangan khawatir semua akan berjalan lancar."
"Tapi ... Mas!" Vefe masih ragu dan bingung.
"Kita jalani berdua, kita persiapkan berdua, insyaallah semua akan lancar."
"Tolong kamu hubungi Dino saja untuk membuat janji dengan dokter kandungan!"
"Siap laksanakan, Tuan."
Sore itu juga Khan mengabari Bunda Fatia, Elya yang ada di Manhatten. Menghubungi Umi Maryam dan Mpok Ria untuk datang ke rumah. Meminta Umi Maryam bisa memberikan nasehat kepada Vefe yang masih ragu dan bingung.
Malam ini Umi Maryam dan Mpok Ria langsung di jemput oleh sisten Satria. Di minta untuk mendampingi dan menasehati Vefe. Harus bisa mensyukuri nikmat yang telah di limpahkan dari yang maha kuasa.
Malam ini Umi Maryam dan Mpok Ria menginap di rumah Khan. Berbincang dan berbagi pengalaman nikmatnya menjadi orang tua. Bisa hamil dan melahirkan adalah nikmat yang tidak bisa diungkapkan, karena tidak semua wanita bisa mengalaminya.
Vefe mulai yakin dan bahagia setelah bisa mengeluarkan uneg-uneg tentang kekhawatiran hatinya. Vefe awalnya takut karena sejak kecil tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua kandungnya.
Ada yang tidak terduga malam ini setelah kedatangan tamu MPok Ria dan Umi Maryam. Pak Gun dari pertama melihat Mpok Ria selalu memperhatikan tanpa ada yang menyadari. Dulu saat Vefe dan Khan menikah Pak Gun tidak memperhatikan wanita dewasa yang belum pernah menikah itu.
__ADS_1
Pak Gun memang pernah menikah saat Khan berangkat ke Mnahatten untuk kuliah. Hanya sayangnya istrinya meninggal dunia karena kecelakaan. Mereka belum di karuniai anak. Sampai sekarang Pak Gun tidak pernah menikah lagi.
Hanya dalam satu malam saja Pak Gun bertemu Mpok Ria. Dia langsung kesemsem dan jatuh cinta. Selalu mencuri pandang saat mereka berbincang di ruang keluarga.
Pagi ini Pak Gun sedang membuat sarapan bubur ayam pesanan Vefe. Mpok Ria langsung membantunya di dapur. Hanya sayangnya kendala kominikasi yang membuat mereka jarang berinteraksi.
Setelah mereka membuat sarapan berdua. Mereka langsung mempesiapkan sarapan bersama di meja makan. Setelah selesai sarapan Umi Maryam dan Mpok Riia harus pulang ke panti asuhan.
Pak Gun belum sempat mengutarakan hatinya, tamu sudah harus pulang. Saat ini Pak Gun masih mempertimbangkan dan meyakinkan hati. Waktu juga belum tepat untuk berbicara dengan Khan.
Pak Gun memilih menunggu waktu yang tepat. Ingin belajar bahasa isyarat dulu sebelum niatnya diutarakan. Dengan belajar menggunakan tegnologi yang sekarang ini mudah di dapatkan.
Khan dan Vefe bertemu dengan Dokter Dani sebelum bertemu dokter kandungan. Berbincang sejenak dan mengucapkan selamat. Dokter kandungan teman Dokter Dino langsung memeriksa Vefe.
Dokter kandungan Menyatakaan jika Vefe positive hamil dengan umur kandungan empat minggu. Di periksa denga USG, memberikan vitamin, penguat kandungan. Dan meminta untuk datang lagi bulan depan.
Sampai di rumah Pak Gun langsung menyiapkan jus alpukat kesukaan Vefe. Khan dan Vefe beristirahat di ruang keluarga setelah dari rumah sakit, "Ini Jus alpukatnya, Nona."
"Terima kasih Pak Gun." Vefe langsung menghabiskan satu gelas jus alpukat tanpa sisa.
Biasanya Pak Gun langsung berpamitan ke dapur setelah memberikan jus. Kali ini dia tetap berdiri di depan Vefe dan Khan. Mulutnya maju mundur ingin bertanya tentang Mpok Ria.
"Pak Gun, ada apa?" tanya Khan heran melihat wajah Pak Gun yang terlihat ragu.
"Pak Gun boleh bertanya dengan Nona Ve, Tuan?"
Vefe yang awalnya merebahkan tubuhnya di pangkuan Khan. Dia langung terbangun dan duduk di samping Khan. Memandangi wajah Pak Gun yang terlihat ragu, "Ingin bertanya apa, Pak Gun?"
"Anu ... Itu, Nona. Pak Gun ingin bertanya ...?" Pak Gun tidak melanjutkan ucapannya.
"Pak Gun, mengapa tidak di lanjutkan?" tanya Khan.
"Pak Gun memerlukan uang?" tanya Vefe di jawab oleh Pak Gun dengan menggelengkan kepala.
"Pak Gun ingin pulang kampung?" tanya Khan, juga di jawab dengan menggelengkan kepala lagi.
__ADS_1
"Jadi apa dong, Pak Gun?" tanya Vefe lagi.
"Pak Gun ingin bertanya tentang Ria."