Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 24. Ring Tinju


__ADS_3

Khan saat ini sedang di ring tinju milik teman seperguruan silat saat masih di kampung Bunda Fatia. Semua amarah dan kekesalan hati di tumpahkan dengan bertanding dengan Wahono sahabatnya. Emosi yang seolah hampir meledak di tumpahkan di atas ring.


Untungnya Wahono adalah salah satu petinju dan petarung yang handal. Dia bisa mengimbangi pukulan, tendangan bahkan amukan Khan yang membabi-buta.


"Terus ... pukul terus Khan, tumpahkan kekesalan kamu!" teriak Wahono.


"Aaaargh ... sial, bug ... hug ....!" Khan terus memukul dan menendang dengan sekuat tenaga.


Khan tidak memperdulikan sudah berapa kali terkena bogem mentah oleh Wahono. Pertarungan itu benar-benar menguras tenaga dan emosi. Tidak perduli sudah babak belur ke duanya tetap masih bertarung.


Khan dan Wahono memang sering melakukan pertandingan jika saat hati kasut. Daripada menumpahkan kekesalan dan emosi tidak pada tempatnya. Ini sangat efektif agar tidak melukai orang lain.


Hampir satu jam mereka bertarung diatas ring. Setelah ke duanya terkapar dan terlentang diatas ring. Mereka tertawa lepas sambil menyatukan tangan. Hatinya terasa lega dan hilang sudah emosinya.


Wahono duduk dan membantu Khan bangun, "Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Aku sangat kesal dengan keluarga Eno."


"Apakah wanita ganjen itu masih mengejarmu?"

__ADS_1


"Ini lebih parah lagi."


Khan akhirnya bercerita tentang peristiwa yang baru dialami. Mendapatkan kiriman rencana pernikahan dari orang tua Eno. Mereka tidak mengkonfirmasi terlebih dahulu.


"Jadi apa rencana kamu sekarang?"


"Aku belum tahu, kamu punya ide?"


"Nikahkan saja dia dengan orang lain."


"Entahlah ... Walaupun mereka jahat tetapi aku tidak ingin membalas dengan kejahatan juga, itu yang selalu di pesan oleh guru dan orang tua."


"Aku hanya ingin memenangkan pikiran dulu, boleh aku menginap di sini sampai mukaku tidak bonyok lagi?"


Wahono tergelak sambil menepuk pundak Khan, "Sasana ring tinju ini kamu yang mendanai, kamu bisa tinggal di sini semaumu."


Seharian ini Khan tidak pulang ke rumah. Dia menyaksikan para anggota yang belajar bersama Wahono bertanding. Melupakan sejenak persoalan yang menimpanya.


Ikut bergembira bersama mereka seolah tanpa beban. Ingin menghilangkan semua beban dan trauma yang ada. Ingin membuang semua perasaan yang membuatnya marah dan emosi.

__ADS_1


Saat siang sampai senja hari, Khan bisa menghilangkan gundah gulana hati. Malam hari saar sasana ring sepi, kembali persoalan muncul dan semakin membuatnya emosi.


Termenung dan melamun sendiri duduk di pinggir ring tinju. Direnungkan cara mengatasi masalah. Bagaimana cara bisa tidak harus menikah dengan Eo, tetapi tidak juga mengecewakan Bunda Fatia.


Bagi Khan Bunda Fatia adalah segalanya, tidak ingin melihat beliau kecewa. Dari dulu hanya bisa menolak secara halus semua persoalah calon jodoh. Hanya saja wanita yang selalu membuat trauma kembali tidak mungkin di nikahinya.


Termenung hampir setengah hari tetapi tidak juga mendapatkan solusi. Hati dan pikirannya seolah tidak bisa diajak kompromi antara patuh dan hormat kepada orang tua. Atau menuruti hati tidak ingin dekat dengan Eno.


Tanpa sadar saat memikirkan tentang perjodohan yang dipaksakan. Pikirannya terlintas Vefe yang sedang tertawa lepas. Keluguan gadis yang membuat tidak trauma itu, selalu terselip diantara pikiran dan hati.


Khan tersetak kaget dalam lamunannya ketika ada yang menepuk pundaknya, "Eee Ve jangan buat Mas kaget!"


Wahono tersenyum devil mendengar ucapannya, "Aku Wahono bukan Ve."


"Maaf kamu sih ngagetin."


"Tungu-tungu ... Siapa yang kamu seput tadi?"


Khan gelagapan saat di tanya Wahono, dengan spontan dia mengalihkan perhatian agar tidak ditanya tentang gadis yang baru saja di sebut, "Ada yang menanyakan aku lewat ponselmu tidak?"

__ADS_1


"Jangan mengalihkan perhatian, siapa Ve yang barusan kamu sebut?"


__ADS_2