
Dua bulan berlalu tanpa terasa hubungan Vefe dan Khan semakin mesra. Hanya sayangnya Bunda Fatia dan Ayah Jose belum sempat bertemu Vefe. Mereka memantau dari jauh dengan bertanya kepada Asisten Satria.
Setiap mereka jalan berdua Vefe sering berucap tentang penampilan. Khan bisa menilai jika Vefe masih merasa rendah diri karena penampilannya yang sederhana. Ingin mengubah kekasih hati lebih percaya diri perlahan diawali dengan penampilan.
Khan memanfaatkan anak-anak panti asuhan untuk bisa mengubah penampilan Vefe agar tidak rendah diri lagi. Memanfaatkan hari penting untuk anak-anak hari anak sedunia. Pasti tidak akan di curigai dan akan bisa diterima dengan baik oleh Vefe.
Sore ini Khan berkunjung ke panti asuhan saat ada acara hari anak sedunia. Khan memberikan hadiah kepada satu anak satu voucher. Dengan voucher itu anak-anak bebas membelanjakan sesuai dengan kebutuhan.
Mereka akan berangkat belanja bergiliran satu rombongan hanya diperbolehkan sepuluh anak saja. Dari hari Minggu pagi sampai malam semua akan sudah selesai berbenaja. Setiap anak diberikan waktu selama dua jam.
Asisten Satria dan Khan yang mengantar dan menjemput mereka saat berbelanja. Asisten Satria di dampingi oleh istri dan dua putra putrinya. Mereka juga mendapatkan voucher dari Khan.
Khan selalu didampingi oleh Vefe saat mengantar anak-anak belanja. Termasuk Umi Maryam dan Mpok Ria mendaapatkan voucher tiga lembar. Khusus untuk Vefe voucher langsung berupa kartu black card unlimited.
"Sekarang gililar Ve untuk membelanjakan voucher dari Mas. Sana memilih apa yang Ve butuhkan!"
"Ini hari anak sedunia, Mas. Ve bukan anak-anak jadi tidak perlu mendapatkan voucher."
"Umi dan Mpok Ria juga dapat, Ve juga harus dapat dong."
Vefe termenung, mempertimbangkan diterima atau tidak voucher yang ditawarkan sang kekasih. Tidak enak hati jika harus berhadapan dengan masalah materi. Kesannya seperti memanfaatkan sang kekasih karena memiliki materi berlebih.
"Ve ... Mengapa melamun?"
"Ve tidak usah ya, Mas. Yang penting anak-anak sudah mendapatkan semua Ve sudah senang sekali."
Khan cemberut dan pura-pura merajuk. Memberikan voucher itu kepada anak-anak tujuannya agar Ve menerima kartu darinya. Strategi agar kekasih hati tidak selalu membicarakan penampilan saat berdua berkencan atau menghabiskan waktu bersama.
Vefe jadi tidak enak hati setelah melihat Khan kecewa dengan wajah yang ditekuk, "Jangan marah dong, Mas. Baiklah sini voucher untuk Ve!" Tangan Vefe menengadah kepada Khan.
Khan tersenyum mengambil dompet dan mengeluarkan katru ATM black card miliknya, "Ini silahkan belanja sesuka Vefe,"
"Mas apa-apaan ini, Ve mau voucher seperti mereka saja, tidak perlu kartu ATM?"
Khan kembali ternsenyum, "Vouchernya sudah habis, Ve. Anggap saja itu sama hanya beda isinya saja," jawab Khan sekenanya.
__ADS_1
"Tetapi ini ...?" Vefe tidak melanjutkan ucapannya, dia hanya melihat kartu ATM yang tidak tahu isinya.
"Suatu saat nanti kartu itu akan menjadi milik Ve, atau sekarang juga boleh," bisik Khan di telinga vefe.
"Tidak, Mas. Vefe akan mengambil sesuai nominal yang ada pada voucher saja."
Khan mengangguk setuju, sambil termenung. Gadis yang dicintainya memiliki hati yang sangat baik. Dia tidak pernah menilai sesuatu dari segi materi. Jika Vefe akan mengambil sesuai dengan Voucher otomatis Vefe hanya akan mendapatkan baju beberapa saja."
"Begini saja, Vefe memilih baju dan perlengkapan lainya nanti Mas yang akan membayarnya!"
"Baik ... Ayo!"
Khan mengajak Vefe ke butik yang ada di dalam mall yang sama dengan anak-anak mencari kebutuhan. Setiap Vefe melilih baju Khan bertanya, "Ve suka yang ini?"
"Iya ... Sebentar Ve lihat harganya dulu."
"Ve tidak perlu melihat harganya, Mas saja yang akan melihat bawa sini!"
Khan tersenyum sambil membawa baju yang Vefe pilih. Jangankan melihat harga melirik saja Khan malas. Yang Vefe pilih semua di ACC oleh Khan. Ada satu pelayan butik yang mengikuti Vefe untuk membawa baju.
Khan langsung menyerahkan baju yang sudah dipilih dan diletakkan di dalam tas belanjaan. Tanpa dihitung dan di jumlah harganya.
"Belum sepatu dan tasnya, Ve. Voucher Ve ada tiga lo seperti Umi Maryam dan Mpok Ria."
"Tas Ve masih bagus Mas, tidak usah ya!"
"Apa perlu Mas yang pilih?"
"Jangan ... Ve tidak enak dong!"
"Begini saja, itu sebelah sana tasnya, Ve tunjuk saja dari sini tidak perlu datang ke sana."
"Baiklah, Ve pilih tas slempang yang warna hitam di sana saja."
Karena Vefe terus menolak untuk membeli sepatu dan kosmetik. Akhirnya Khan mengalah yang penting sudah terpenuhi keingin untuk membuat Vefe berpenampilan percaya diri.
__ADS_1
Khan lamgsung membayar semua belanjaan tanpa diketahui oleh Vefe. Khan memerintahkan kasir untuk membuang harga yang tertera di baju yang sudah di pilih oleh Vefe.
Selesai membayar, Khan pura-pura kerepotan memegangi belanjaan, "Ve, tolong simpan dulu kartu ATM Mas!"
"Iya Ve kantongi nanti jangan lupa diminta kalau Mas mau pulang!"
Khan mengangguk dan tersenyum melihat kartu ATM dimasukkan ke dalam kantong saku celana Vefe. Mereka pulang ke panti asuhan setelah selesai membelanjakan kebutuhan masing-masing.
Celana yang ada ATM di gantung oleh Vefe setelah sampai rumah. Hampir dua hari celana itu tidak di sentuh oleh Vefe. Dia menyadari saat pagi ini akan memakai celana untuk bekerja.
"Lo ini ATM Mas Khan, Ya Allah masih ada di kantong," monolog vefe sendiri.
Tanpa mengabari Khan, Vefe bergegas menuju perusahaan untuk mengemablikan ATM. Baru memasuki lobi PT KURNIA kakinya seolah enggan melangkah. Teringat saat resepsionis menggunjing dirinya.
Vefe melihat penampilan terlebih dahulu sebelum melangkah ke lobi. Saat ini. Vefe memakai baju yang dibelikan Khan kemarin. Penampilannya hari ini lebih baik dari yang lalu.
Sampai di lobi, bersamaan ada seorang wanita cantik dan seksi sedang mengisi buku tamu. Vefe langsung mendekati resepsionis yang bertugas, dia bukan respsionis yang pernah di temui dulu. Wajahnya terlihat ramah dan tersenyum saat ada Vefe mendekatinya.
"Permisi, Bu. Saya akan mengantar ini untuk Mas Khan, Eee maaf salah Tuan Khan."
"Apakah Kakak sudah membuat janji dengan beliau?"
"Belum Bu ... Jika tidak bisa saya titipkan pada Anda saja."
Wanita yang sedang mengisi buku tamu langsung memandangi wajah Vefe saat memanggil dengan sebutan Mas Khan. Matanya langsung terrbelalak sempuran memandangi penampilan Vefe yang sederhana.
Wanita itu menatap tajam vefe tanpa berkedip. Melihat penampilan Vefe dari bawah ke atas. Seolah matanya akan menghancurkan tubuh Vefe berkeping-keping.
"Kamu siapa, berani-beraninya memanggil pimpinan perusahaan ini dengan sebutan Mas?" tanyanya dengan ketus.
"Memangnya kenapa, Kak?" tanya Vefe dengan santai.
"Hai orang miskin, perlu kamu tahu ya, Mas Khan itu hanya milikku seorang. Hanya aku saja yang boleh memanggil dia dengan sebutan Mas Khan, Kamu mengerti?"
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan lupa mampir di novel teman aouthor yang rekomen ini ya, di NT juga lo, sambil menunggu KKJ up besok