
Vefe hanya mengalami mulas dan melilit dua kali saja. Dalam perjalanan ke rumah sakit dia tidak lagi merasakan sakit. Berjalan menuju UGD juga tidak merasakan apa-apa.
Khan sudah panik tidak karuan dalam perjalanan tadi. Semua dihubungi dari Umi Maryam, Bunda Fatia, Elya. Dan bahkan Pak Gun juga sudah diperintahkan untuk datang ke rumah sakit.
Bunda Fatia dan Ayah Jose yang saat ini berada di Surabaya. Mereka langsung terbang menggunakan pesawat pribadi ke Jakarta. Semua pekerjaan langsung ditinggal begitu saja demi cucu yang akan lahir.
Umi Maryam dan Bibi Kudri juga langsunng meluncur menuju rumah sakit. Dengan membawa motor metik milik Vefe. Di tambah pasangan Daniel Erina juga meluncur menggunakan motor.
Vefe masih duduk santai sambil menikmati menu jatah makan siang milik Dokter Dino. Dia selesai di periksa oleh dokter kandungan. Dokter mengatakan belum ada tanda-tanda si baby akan keluar.
Dokter kandungan mengatakan bahwa Vefe mengalami kontraksi palsu. Karena bayi dalam kandungan aktif. Dia bergerak masuk panggul sehingga membuat perut Vefe merasakan kontraksi palsu.
Di samping itu karena Vefe terbawa suasana syahdu saat mengenang orang tua yang telah membuangnya. Menambah perut semakin tegang dan mengakibatkan terjadinya kontraksi sesaat saja.
Bahkan Vefe langsung diizinkan pulang oleh dokter. Tidak perlu rawat inap di rumah sakit. Vefe dan bayinya baik-baik saja.
Khan dan Asisten Satria duduk di kantor Dokter Dino menunggu Vefe makan. Mereka berbincang dengan Dokter Dino dengan santai. Bahkan Khan tidak menyadari sudah membuat huru-hara mengabarkan ke seluruh keluarga.
__ADS_1
Keluarga yang di hubungi, kecuali Bunda Fatia dan Ayah Jose panik mencari ke ruang UGD dan kamar bersalin. Mereka semakin panik saat tidak menemukan Vefe. Pikirannya sudah tidak tenang takut ada di ruang oerasi.
Orang yang panik biasanya tidak berpikir jernih. Seharusnya mereka menghubungi Khan atau Asisten Satria menggunakan ponsel. Tidak ada satupun yang ingat itu, yang ada hanya khawatir dan bingung.
Setelah di ruang operasi sepi dan tidak menemukan Khan dan Asisten Satria di sana. Mpok Ria menyenggol lengan suaminya, memberikan kode tangan yang menelpon dan di tempel di telinga.
"Oo iya, mengapa tidak kepikiran, kita seharusnya menghubungi Tuan Khan menggunakan ponsel," kata Pak Gun sambil menepuk dahinya.
"Iya ... Gara-gara panik eror semua kita," jawab Erina.
"Pak Gun saja yang menghubungi Nak Khan!" perintah Umi Maryam.
Pak Gun menghuibungi Khan menggunakan sambungan telpon langsung, "Halo ... Tuan ada di ruang mana?"
" ...."
"Baiklah, kami ke sana."
__ADS_1
" ...."
"Iya siap, Tuan."
Pak Gun mematikan ponselnya dan dimasukkan ke dalam kantong celana, "Ayo semua kita ke ruang Dokter Dino!"
Umi Maryam mengerutkan keningnya, berpikir Vefe yang ada di ruang Dokter Dino. Seharusnya Vefe ada di ruang bersalin bukan berada di dokter ahli penyakit dalam. Pikiran Umi Maryam semakin khawatir dan tidak menentu.
Rombongan Umi Maryam langsung mendorong pintu ruang Dokter Dino tanpa mengetuk pintu, "Nak Ve!" teriak Umi Maryam.
Yang di khawatirkan sedang menikmati piring kedua menu nasi soto daging. Bukan cuma jatah makan siang Dokter Dino yang di makan oleh Vefe. Ada jatah menu makan milik dokter ortopedi juga diminta oleh Dokter Dino untuk ibu hamil.
Khan dan Asisten Satria yang tersentak kaget saat ada rombongan masuk kantor. Mereka langsung nyengir kuda setelah menyadari kesalahan. Yaitu belum pasti betul Vefe akan melahirkan sudah mengirim kabar dengan panik.
"Katanya ...?" Pak Gun bingung apa yang terjadi.
"Maaf semua, tadi kami panik saat Ve merasakan mulas dan melilit seperti akan melahirkan, ternyata itu hanya kontraksi palsu." Khan memberikan keterangan sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
__ADS_1
Khan di salahkan semua keluarga, tetapi dia hanya tersenyum devil. Terlihat lucu karena Pak Gun sudah membawa tas berisi perlengkapan bayi. Erina membawa kerta bayi dan Bibi Kudri membawa satu pasang bantal dan guling bayi.
Sambil bercanda mereka menyalahkan Khan. Sampai Khan teringat dua orang lagi yang tadi dikabari menuju ke rumah sakit, "Oya Bunda Fatia dan Ayah Jose, sudah sampai mana beliau, pasti mereka panik saat ini?"