
Vefe mengajak Eno duduk di gazebo yang ada di samping kolam renang, "Silahkan duduk, Mbak!"
"Terima kasih."
"Katakan apa yang ingin Anda bicarakan?"
"Aku ... Aku?"
"Jangan bilang kalau Mbak Eno masih menyukai Mas Khan, dari tadi Mbak Eno terus saja meliriknya terus," kata Vefe dengan nada tegas dan kesal.
Eno hanya terdiam dan menunduk, tidak mengucapkan sepatah kata saat Vefe berkata dengan nada tegas dan kesal. Tidak bisa dipungkiri setelah bisa berkunjung dan bertemu dengan Khan lagi. Hatinya mulai goyah dan masih ada getaran dalam hati.
"Ingat Mbak, dari dulu Mas Khan tidak suka sama Mbak Eno, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Seharusnya Mbak Eno menyadari dari situ."
"Iya ...." Eno menjawab dengan singkat.
"Sekarang apa yang Mbak inginkan, jangan bilang Mbak Eno masih ragu dengan Bang Rian hanya karena melihat Mas Khan?" Vefe kembali berucap dengan tegas.
Mata Eno langsung terbuka lebar sambil menatap wajah Vefe. Hanya bisa bergumam sendiri karena bisa dibaca apa yang ada dalam pikiran. Ternyata umur muda namun pemikirannya sangat dewasa dan tepat membaca pikiran.
"Mbak Eno!" teriak Vefe.
"Iya ... maaf. Terus terang Eno masih suka dengan Mas Khan. Karena itulah Eno ingin bicara dengan kamu."
Vefe mulai emosi dengan kejujuran Eno. Rasanya ingin meremas mulut lemesnya. Atau ingin menarik rambutnya karena dia seolah tidak merasa bersalah mengatakan hal yang tidak pantas.
"Berani sekali Anda mengatakan itu kepada Ve!" teriaknya.
"Tunggu dulu ... tolong jangan emosi dan marah dulu," pinta Eno dengan menurunkan nada suaranya.
"Baik ... Ve berikan kesempatan Mbak Eno untuk bicara, walaupun emosi Ve sudah ada di ubun-ubun."
Eno menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan. Yang awalnya duduk bersebelahan, Eno menghadap ke Vefe, "Sebenarnya Eno ingin meminta penjelasan tentang perkataan kamu tadi."
Vefe kaget dan terbengong dengan permintaan Eno, "Ha! maksud Mbak Eno?"
"Eno minta saran tentang perkataan kamu tentang lebih baik dicintai daripada mencintai, Eno tidak pandai tentang cinta walaupun umur sudah hampir berkepala tiga, tetapi Eno baru sekali mempunyai cinta sejati."
Vefe hampir tidak percaya dengan ucapan Eno. Tidak menyangka wanita dewasa itu meminta saran. Dari tadi sudah berpikir negatif tentang dia.
Jika didengarkan dari perkataannya, seolah wanita itu mulai frustasi dan menyerah tentang jodoh. Kemungkinan dia belum bisa mencintai laki-laki yang baru saja melamarnya. Namun dia merasakan cinta yang tulus tanpa pamrih sehingga merasa nyaman.
__ADS_1
"Apakah Ve tidak salah dengar, Anda meminta saran kepada ...!" Vefe menunjuk pada diri sendiri dan tidak melanjutkan ucapannya.
"Apa salahnya, walaupun kamu masih muda tetapi kamu sudah berumah tangga?"
"Baiklah ... menurut Ve berumah tangga tidak hanya satu atau dua hari, tetapi untuk seumur hidup. Jika pasangan kita lebih mencintai daripada diri sendiri, pasangan akan berusaha membuat kita selalu bahagia. Apapun akan dilakukan agar kita bahagia."
"Apa bedanya jika kita yang lebih mencintai pasangan?"
"Pasangan mungkin akan berbuat semaunya sendiri, dasar rumah tangga akan mudah goyah."
Eno mengangguk sambil terus memandang wajah Vefe yang terlihat serius. Tidak menyangka ibu beranak satu yang umurnya lebih muda tetapi pemikirannya lebih luas. Saran dia bisa untuk mempertimbangkan langkah masa depan.
"Apakah Mbak Eno tidak mencintai Bang Rian?" tanya Vefe terus terang.
"Terus terang cinta sih belum, tetapi Eno merasa nyaman ada didekatnya. Baru kali ini Eno merasakan seperti ini."
"Bagaimana dengan yang sebelumnya?"
"Dengan Mas Khan atau Bang Toni?"
"Dua-duanya." Vefe menjawab dengan cepat.
Eno tersenyum kecut mendengar jawaban Vefe yang cepat. Menggelengkan kepala sambil memejamkan mata. Awalnya menyukai laki-laki karena melihat dari kekayaan, tajir dan mapan.
Sekarang Vefe yang tersenyum kecil. Hanya bergumam dalan hati karena heran. Tahu betul jika tidak suka tetapi terus memaksakan kehendak.
"Sudah tahu tidak mau, mengapa Mbak Eno masih nekat?"
"Itu dia, karena saya tidak menyadari perbedaan dicintai dan mencintai."
"Kalau yang kemarin bagaimana?"
Eno termenung dan tidak menjawab pertanyaan Vefe. Teringat dengan Toni Prawira yang dari kemarin ingin bertemu. Laki-laki yang terlihat masih tampan walau sudah berumur, tetapi pandai merayu.
Tertarik dengan Toni Prawira karena dia memperkenalkan diri sebagai CEO. Pemilik dan pimpinan salah satu perusahaan yang ada di Tangerang. Walaupun mengaku pernah menikah dan beranak satu tetapi pesona dan rayuannya seperti anak muda.
Rayuan dan cara bicara Toni Prawira sangat meyakinkan. Cara meyakinkan hati jika sangat mencintai dan percaya dengan aset yang dimiliki. Apalagi tentang aset dan tabungan yang lebih baik digabung, sangat meyakinkan cara bicara dia.
Tidak menyangka jika laki-laki gaek itu hanya status saja CEO. Perusahaan dia ternyata hampir gulung tikar. Dia hanya mengincar uang arisan dan koperasi saja.
Terlebih lagi dia juga merayu sahabat sekaligus wakilnya sendiri. Bukan cuma ditipu lagi, tetapi merasa ditikung dari belakang. Rasa sakit hati sampai sekarang masih dirasakan di hati.
__ADS_1
Eno tersentak kaget dan terjaga dari lamunan setelah di panggil oleh Vefe, "Mbak Eno!"
"Eee maaf."
"Di tanya kok malah melamun?"
"Kalau tentang Bang Toni, mungkin Eno yang terlalu percaya diri."
"Maksud Mbak Eno apa?"
"Eno tergiur oleh rayuan gombal laki-laki gaek itu, seandainya saat itu Eno tahu jika dia hanya mengincar uang yang Eno pegang, mungkin peristiwa pernikahan gagal yang memalukan itu tidak terjadi."
"MBak Eno tidak tahu jika Bang Toni itu abang dari Bang Doni teman Mas Khan?"
"Tidak ... Bang Toni tidak pernah bercerita tentang keluarga."
Vefe mengerutkan keningnya berpikir karena heran. Pernikahan bukan cuma menyatukan dua hati. Pernikahan juga menyatukan dua keluarga besar.
"Apakah Mbak Eno tidak pernah di perkenalkan dengan keluarga Bang Toni?"
"Dia bercerita keluarganya ada di Bandung, dia menyakinkan setelah acara pernikahan di Surabaya akan mengadakan pernikahan di Jakarta dan Bandung secara besar-besaran."
"Mbak Eno percaya."
"Itulah bodohnya Eno. Rayuan manisnya membuat Eno mabuk kepayang. Apalagi saat dia mengajak membuka rekening bersama, Eno kira akan dikelola bersama ternyata dibawa kabur."
"Seharusnya dengan pengalaman itu, Mbak Eno bisa menilai mana yang tulus dan yang hanya memanfaatkan saja."
"Benar juga sih. terima kasih kamu sudah mau Eno ajak bicara dari hati ke hati."
"Sama-sama Mbak, Sekarang bagaimana dengan Bang Rian?"
Eno kembali mengambil napas panjang dan menghembuskan perlahan. Belum ada satu bulan kenal dengan laki-laki yang bekerja sebagai wakil sipir. Namun laki-laki iitu sudah sangat mencintainya.
"Sebenarnya Eno masih ragu."
"Apa yang membuat Mbak Eno ragu?"
BERSAMBUNG
Yok mampir ke novel teman author yang rekomen banget ini, ada di novel toon juga kok, terima kasih
__ADS_1