
Kak Mursida langsung gugup saat ditanya Vefe, seolah lidah kelu tidak bisa digerakkan. Pikiran dan hatinya sedang tidak sejalan kini. Ucapan dan apa yang ada dalam pikiran sangat berbeda jauh mengharapkan hal yang tidak mungkin.
Kak Mursida belum sempat menjawab pertanyaan Vefe. Tiba-tiba perut Vefe mual seperti diaduk menggunakan mixer. Tanpa memperdulikan Kak Mursida yang bingung, Vefe langsung berlari ke kamar mandi yang ada di samping dapur.
Mulut rasanya sangat pahit, semua isi perut keluar tanpa kecuali. Mpok Ria yang sedang membantu suaminya masak ikut berlari ke kamar mandi. Langsung membantu Vefe dengan memijit tengkuk Vefe agar rileks dan lega.
Mpok Ria bertanya bagaimana keadaan Vefe menggunakan bahasa isyaarat, Wajah Mpok Ria sangat khawatir melihat Vefe yang tiba-tiba pucat. Terus memberondong pertanyaan banyak hal dengan caranya sendiri.
Awalnya Vefe hanya mengisyaratkan dengan melambaikan tangan. Mulutnya terasa pahit bahkan air liur juga terasa pahit, Berkumur beberapa kali untuk mengurangi rasa pahit yang ada di mulut.
"Ve sudah baikan, Mpok. Hanya mulut rasanya pahit," kata Vefe dengan menggunakan bahasa Isyarat.
Dengan cepat Pak Gun datang membawa air hangat dan menyerahkan kepada Vefe setelah Mpok Ria dan Vefe berada di luar kamar mandi, "Ini minum air hangat dulu, nyonya!"
"Terima kasih, Pak Gun." Vefe langsung minum air hangat dalam sekali teguk.
"Apa yang dirasakan sekarang, Nyonya?"
"Ve sudah baikkan kok, Pak. Terima kasih."
Mpok Ria mengajak Vefe untuk beristirahat, mengajak ke kamar dan jangan mengkhawatirkan baby Aaron. Ada bibi yang akan menjaga dengan baik. Perhatian dan kasih sayang Mpok Ria sangat tulus walau ada perbedaan dalam berkomunikasi.
Vefe berjalan menuju lantai atas tanpa menyapa Kak Mursida. Ibu satu anak itu masih sibuk dengan ponselnya sendiri. Menghubungi seseorang yang tidak tersambung sambil emosi dan marah sendiri.
Vefe hanya bisa menebak kemungkinan Kak Mursida menghubungi Khan. Hanya sayangnya ponsel tidak aktif sampai Vefe berjalan menuju lantai atas. Vefe tersenyum devil dan tidak memberikan keterangan sedikitpun kepada Kak Mursida, padahal tahu betul apa yang dilakukan Khan di Sulawesi.
Vefe teringat sebelum Khan berangkat menggunakan pesawat pribadi sempat bercerita. Ponsel Khan akan dimatikan sampai meeting pemegang saham selesai, kemungkinan setelah senja ponsel baru akan diaktifkan kembali. Adanya perbedaan satu jam antara Jakarta dan Sulawesi membuat semakin lama ponsel Khan tidak aktif.
Vefe beristirahat hampir dua jam sampai senja mulai terlihat. Badan mulai segar kembali setelah minum jahe hangat yang dibuat oleh Pak Gun. Keluar kamar dan turun tangga mencari baby Aaron yang sedang bercanda dengan keluarga Pak Gun.
__ADS_1
"Apakah Kak Mur sudah pulang, Pak Gun?"
"Sudah satu jam yang lalu, Nyonya."
"Apakah Kak Mur pulang masih marah-marah?"
"Iya, tadi Pak Gun lihat di hampir membanting ponselnya sendiri."
Vefe hanya tersenyum sekilas mendengar jawaban Pak Gun. Membayangkan kesal yang dirasakan oleh ibu beranak satu itu. Pasti wajahnya memerah sambil ngomel disepanjang jalan pulang ke rumah.
Rencana akan menghubungi Khan setelah sholat agar lebih tenang untuk bercerita. Namun, baru saja memikirkan suami saja sudah langsung kontak batin. Khan menghubungi saat Vefe baru saja meletakkan ponsel di meja rias.
Yang pertama Khan lakukan adalah bertanya kepada Vefe tentang Kak Mursida. Pasalnya ada puluhan panggilan tidak terjawab baik masuk di ponsel milik Khan ataupun Asisten Satria. Khan enggan untuk menghubungi wanita yang selalu merepotkan akhir-akhir ini.
Vefe bercerita dengan emosi tentang tingkah Kak Mursida yang ditunjukkan tadi sore. Tentang dugaan ada udang dibalik batu dan tujuan Kak Mursida saat berkunjung. Kemungkinan dia ingin mendekati Khan seperti dulu lagi.
Vefe juga bercerita tentang badan yang kurang sehat dan mual muntah tadi sore. Perhatian Mpok Ria, Kak Mursida yang pulang sambil marah-marah. Sampai niatnya ingin menghubungi setelah sholat magrib.
"Mami Sayang, cepat siap-siap, pesawat sudah menuju Jakarta. Jangan lupa ajak bawa Pak Gun, Mpok Ria dan baby Ilham," perintah Khan melalui Vedio call.
"Mami tidak apa-apa, Pi. Coba lihat, tidak harus ke sana juga lah!"
"Tidak, pokoknya Mami dan Aaron harus ke sini!"
"Baiklah, Mami siap-siap dulu."
Menggunakan pesawat pribadi tidak sampai tengah malam. Rombongan Vefe sudah sampai villa milik keluarga Khan yang ada tidak jauh dari perusahaan PT KURNIA yang ada di Sulawesi. Sudah beristirahat di kamar masing-masing dengan tenang.
Sayangnya keluarga dari Asisten Satria tidak bisa ikut ke Sulawesi. Karena anak-anak harus sekolah, mereka tidak ada libur dalam minggu ini. Padahal Asisten Satria ingin mengajak keluarga juga untuk berwisata di Sulawesi dan sekitarnya.
__ADS_1
Vefe kesal dan mengomel berkali-kali dalam pelukan Khan malam ini. Masih kesal dengan tingkah Kak Mursida yang seolah memiliki hak tentang Khan. Ada rasa cemburu yang berlebihan di hati Vefe saat ini.
"Mami cemburu ya?" tanya Khan sambil tergelak mengeratkan pelukannya.
"Iya dong, Mami kesal banget."
"Dari kemarin Papi dan Asisten Satria juga sudah curiga."
"Mengapa Papi tidak cerita sama Mami, Papi sengaja ya?"
Sudah satu minggu yang lalu Asisten Satria bercerita mulai mencurigai Kak Mursida. Bukan tanpa alasan cerita dari Asisten Satria. Akhir-akhir ini hanya rumah Khan dan Vefe yang selalu dikunjungi ibu satu anak yang baru saja ditinggal suaminya.
Terlebih lagi saat Kak Mursida datang ke rumah Khan dan Vefe, bertepatan Khan masih ada di rumah. Pagi sore atau malam hari tepatnya saat Khan akan berangkat kerja atau pulang kerja. Dan lebih parahnya lagi, Kak Mur selalu meminta Khan untuk menggendong baby Ara walau hanya sesaat dengan alasan merindukan sosok ayah.
"Eee Mami Sayang, tidak sama sekali Papi sengaja. Papi masih berpikir waras, Papi hanya kasihan sama baby Ara saja."
"Awas saja kalau Papi memberikan harapan sama Kak Mur dan baby Ara!"
Khan tergelak sambil mencium kening Vefe berkali-kali. Dari dulu tidak pernah menyukai adik dari sahabat Bunda Fatia. Akhir-akhir ini dekat karena kasihan karena ditinggal suami dalam kecelakaan.
"Tidak mungkin Papi memberikan harapan pada Kak Mur dong, Mami Sayang. Cinta Papi itu hanya khusus untuk Mami seorang."
"Mami percaya, tetapi bagaimana jika dia menganggap lain karena Papi sangat dekat dengan baby Ara?"
"Beda dong antara dekat dengan anak dan ibunya."
Vefe mendongak memandang wajah Khan yang menganggap persoalan Kak Mursida ini sepele. Sebagian besar laki-laki menganggap suatu hubungan berdasarkan logika dan persahabatan. Namun, beda dengan wanita karena sebagian besar wanita akan menganggap lewat perasaan apalagi perasaan yang nyaman saat bersama.
"Apa apa lagi, Mami Sayang."
__ADS_1
"Kak Mur berharap lebih sama Papi."
"Waduh, apa itu benar, Mami?"