Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 112. Buka Segel Sebelum Sah


__ADS_3

Sampai hampir tengah malam Cak Mus bertahan di rumah Eno. Sampai tamu pulang semua Eno bertahan tidak berani keluar kamar. Hanya Ibu yang menemui Cak Mus mengatakan jika Eno sudah tidur karena kecapean.


Pagi harinya saat waktu sarapan pagi, Cak Mus datang lagi di rumah Eno. Hanya ke dua orang tua Eno yang menemui Cak Mus dan mengajak dia sarapan pagi. Eno masih terlelap dalam tidur dan mimipi entah apa yang di impikan.


Pukul sepuluh pagi Cak Mus masih berbincang di teras rumah Eno. Hari ini masih ada tamu yang datang berkunjung ke rumah Eno.Cak Mus berbincang dengan tetangga yang datang dan selalu memuji kecantikan paripurna Eno.


Eno keluar kamar masih belum sempat mandi. Ibu tidak memberitahukan jika Cak Mus datang mulai pagi buta. Eno masih belum menyadari ada Cak Mus di teras.


Eno mencari Ibu yang sedang menerima tamu di depan pintu rumah utama, "Ibu ...!" teriaknya.


Dengan spontan Cak Mus berlari sambil merentangkan tangan mendekati Eno, "Eno waaah kamu mengapa tambah cantik sekarang ini?"


Eno tersentak kaget dan berteriak sambil berlari keluat rumah, "Cantik ... jangan lari tunggu!" teriak Cak Mus lagi


Eno semakin histeris dan berlari seperti anak kecil menuju jalan raya. Berteriak memanggil ibunya dan meminta tolong. Dan lebih lucu lagi dia berlari tanpa memakai alas kaki.


Cak Mus terus berlari mengejar Eno sambil loncat-loncat. Selalu memanggil namanya dengan memuji kecantikan dia.


Para tamu yang melihat tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku konyok Eno dan Cak Mus. Eno berlari melewati jalan menuju rumah Khan untuk mencari perlindungan.


Pintu rumah Bunda Fatia masih tertutup rapat. Hanya ada security yang berjaga. Eno memutari rumah ingin melewati pintu samping seperti kemarin. Sayangnya pintu samping juga terkunci dengan rapat


Eno bergegas pulang kembali ke rumah melewati teras rumah tetangga. Cak Mus mengejar Eno kembali sampai depan rumah. Dengan napas memburu Eno masuk rumah dan masuk kamar.


"Eno tuggu ... Cak Mus kangen karo Kon iki yo'opo to!"


"Ibu ... Tolong!" Eno langsung masuk kamar dan menutup pintu dengan suara keras.


Cak Mus pura-pura tersentak kaget dan menghentikan langkahnya. Menggelengkan kepala sambil menepuk pelipis, "Eeee kok aku ada di sini," Monolog Cak Mus sambil melihat ibu Eno yang mendekat.

__ADS_1


Aksinya diperhatikan oleh ibu Eno dari kejauhan. Wanita paruh baya itu langsung mendekali Cak Mus dengan wajah menahan emosi, "Cak Mus ...!" teriaknya.


"Bu ... Apakah ada acara di sini?" tanya Cak Mus berlagak pikun.


"Tidak ada acara apa-apa. Kamu di cari teman kamu tukang perkir, sana berangkat kerja!"


"Oya hari ini aku tugas jaga parkir, permisi Bu!"


Cak Mus berbalik badan dan meninggalkan rumah Eno sambil menahan tawa. Dia tidak berangkat kerja karena dia bertugas jaga parkir sore hari. Langsung menuju rumah Bunda Fatia untuk bercerita.


Khan dan Vefe sedang bersantai duduk di ruang keluarga berbincang dengan Bunda Fatia dan Mpok RIa. Sedang berbincang tentang Eno yang sampai sekarang belum berani mengatakan jika pernikahan itu hanya fiktif semata.


Sekarang bergabung Cak Mus bercerita tentang apa yang di lakukan di rumah Eno. Sampai saat ini tidak ada yang tahu tentang ulah Eno yang melakukan hal di luar nalar. Yang tahu hanya keluarga Bunda Fatia, Cak Mus, Eno dan ibunya.


Bunda Fatia yang melarang untuk membocorkan rahasia tentang perbuatan Eno. Toh Yang maha kuasa sudah menghukum dia. Dengan selalu di kejar Cak Mus semoga dia menyadari kesalahannya.


Lima hari sebelum H ke dua orang tua dan Eno berangkat ke Jakarta. Mereka tidak mampir ke rumah Khan. Mereka memilih tinggal di hotel dekat gedung yang akan mengadakan resepsi pernikahan.


Dengan terpaksa Eno harus datang untuk membatalkan acara pernikahan. Pukul sepuluh pagi dia datang berniat untuk konfirmasi. Tanpa di temani oleh ke dua orang tua.


Tanpa di sengaja Sebelum masuk gedung Eno bertemu dengan Wahono dan Aan. Wahono yang mengenal Eno karena mereka memang berasal dari satu kota yaitu Surabaya. Tidak kenal dengan Aan karena dia asli orang Jakarta.


"Eno kamu Eno, 'kan?" tanya Wahono.


"Kamu Wahono?" gantian Eno bertanya.


"Iya aku Wah yang dulu seringn ngintip kamu mandi saat masih kecil," goda Wahono sambil tergelak.


"Ada apa Cak Wah ke sini?" tanya Eno.

__ADS_1


"Aku akan menikah dan akan memesan gedung ini berdua dengan temanku, oya kenalkan dia bolo plekku namanya Aan!"


"Namaku Eno, salam kenal, Cak Aan."


"Panggil aku Bang Aan, aku orang Jakarta asli," jawab Aan samabil tersenyum.


"Kebetulan sekali, aku ke sini akan membatalkan acara pernikahanku, apakah Cak Wah dan Bang Aan mau menggantinya?"


"Tentu ... Kebetulan sekali." Wahono dan Aan menjawab bersamaan.


Awalnya Wahono dan Aan berencana akan menikah bulan depan. Karena ada penawaran menarik dari Eno yaitu hanya mengganti separuh harga. Wahono dan Aan menyetujui acara pernikahan lima hari lagi;


Semua keputusan atas persetujuan dengan pasangan masing-masing. Saat itu juga mereka meeting berlima melalui online. Mereka sudah menyepakati keputusan bersama.


Saat itu juga Wahono, Aan dan Eno bertemu dengan pengelola gedung. Memberitahukan tentang nama pengantin dan perubahan acara. Memesan dua pelaminan yang di jadikan satu deret.


Wahono dan Aan hanya menambah sedikit biaya untuk pelaminan. Mereka bertiga sama-sama di untungkan terutama Eno tidak merasa malu. Lebih untung lagi Eno masih menerima uang pengganti dari Wahono dan Aan.


Dari gedung itu Wahono dan Aan langsung mampir ke kantor Khan untuk meminta tenaga bantuan kepada Khan. Terutama meninta bantuan tenaga Asisten Satria.


Mereka berempat duduk di ruang tamu yang ada di kantor Khan. Berbincang tentang penikahan. Sampai Pertemuan dengan Eno dan kerjasama. Khan juga menceritakan tentang peristiwa Cak Mus saat di Surabaya.


Khan masih penasaran karena dengan mudah Kak Mur jatuh dalam pelukan Aan. Khan tahu betul jika Kak Mur wanita yang gigih berjuang jika sudah menyukai seseorang. Seperti ada hal yang disembunyikan oleh Aan.


"Tunggu dulu aku masih penasaran, mengapa Kak Mur dengan mudah jatuh dalam pelukan Aan sedangkan dia sangat menyukai Wahono?" tanya Khan.


Aan tersenyum simpul sambil melirik Wahono, "Aku bawa dia ke tempat tidur dalam keadaan setengah mabuk," jawabnya enteng.


Mereka langsunng tertawa terbahak-bahak, "Kamu sudah buka segel sebelum di sahkan pak penghulu. Aku jadi ragu apakah Kak Mur masih ori dalam umur dia?" tanya Khan lagi.

__ADS_1


__ADS_2