
Umi Maryam memegang dua foto, tetapi dia fokus dengan satu foto pasangan suami istri. Yang wanita wajahnya sangat mirip dengan Vefe. Sedangkan yang laki-laki wajah yang tidak asing lagi di mata Umi Maryam.
Wajah laki-laki itu baru saja dilihatnya di televisi. Namun di foto versi muda dan yang di televisi baru saja versi tuanya. Beliau adalah ketua anggota dewan yang sangat terkenal ramah dan bersahaja.
"Bukankah ini Pak Raharjanto ketua dewan itu?" tanya Umi Maryam.
"Ses tahu ayah dari almarhum kekasih saya dulu."
"Sangat mengenalnya, berarti Nak Ve adalah cucu dari ketua anggota dewan ?"
"Iya ... Dulu beliau belum sukses seperti sekarang ini."
Nyonya Astrid kembali bercerita. Saat dulu masih berhubungan dengan sang kekasih. Orang tuanya hanya memiliki usaha konfeksi kecil-kecilan.
Waktu kecelakaan dulu, kedua orang tua sang kekasih tidak mengetahui jika putranya memiliki keturunan. Mereka menyalahkan Nyonya Astrid penyebab putranya meninggal.
Sampai sekarang mantan calon mertua tidak pernah memaafkan Nyonya Astrid. Itulah salah satu alasan Nyonya Astrid enggan pulang ke Indonesia. Mendengar kabar ibu dari mantan kekasih meninggal duniapun tidak juga pulang untuk mengucapkan bela sungkawa.
"Apakah Anda berencana untuk menceritakan tentang Nak Ve kepada ketua dewan sekarang?"
__ADS_1
"Saya belum tahu, sekarang ini saya hanya akan fokus meminta maaf terlebih dulu dengan dia," jawab Nyonya Astrid sambil memandangi foto Vefe.
Umi Maryam hanya bisa menasehati dan memberikan pesan kepada Nyonya Astrid. Agar berterus terang kepada putri kandungnya Vefe. Agar semua bisa terselesaikan dengan baik dan tidak merasa bersalah.
Ada satu lagi foto yang belum diceritakan oleh Nyonya Astrid. Yaitu foto seorang bayi kecil yang dibaringkan di samping Nyonya Astrid. Hanya sayangnya saat itu dia masih terpejam karena dalam pengaruh obat bius.
Pakain dan selimut yang dipakai oleh bayi itu persis sama seperti saat pertama Vefe di temukan. Bahkan sampai sekarang masih disimpan oleh Vefe di kotak kecil. Kotak itu diletakkan di bwah tempat tidur bersama dengan gantungan kunci patung libarty.
"Tunggu ... Baju dan selimut ini ...?" Umi Maryam tidak melanjutan ucapannya. Dia langsung berjongok dan mengintip di bawah tempat tidur. Kotak kecil milik Vefe itu masih berada di sana.
Umi Maryam langsung menarik kotak itu dan bergegas membukanya, "Ya Allah ya Tuhanku, ini persis yang ada di foto ini," kata Umi Maryam dengan berkaca-kaca.
"Ses ... Ses?" Umi Maryam menepuk pipi Nyonya Astrid perlahan.
Hampir lima menit dia berbaring di lantai kamar Vefe yang hanya beralaskan karpet. Umi Maryam moncoba bersikap tenang. Mengambil minyak kayu putih yang ada di meja Vefe.
Perlahan Nyonya Astrid membuka mata setelah minyak dioleskan di dekat hidungnya, "Anda sudah baikan, Ses?"
Nyonya Astrid mengangguk dan memegang kepalanya yang terasa pusing, "Maaf, tensi saya akhir-akhir ini naik drastis."
__ADS_1
"Sebaiknya Anda beristirahat dulu, silahkan berbaring di tempat tidur saja. Saya ambilkan air hangat sebentar!"
"Terima kasih, maaf merepotkan."
Umi Maryam keluar kamar Vefe. Nyonya Astrid berbaring di tempat tidur Vefe. Hatinya terasa adem dan tenang saat memejamkan mata di tempat tidur milik putrinya.
Tanpa terasa air mata mengalir deras membayangkan kehidupan Vefe. Tanpa mengetahui orang tua kandung dan keluarga. Pasti kehidupannya sangat sulit dilalui.
Sangat bertolak belakang kehidupan yang jalani dengan keluarga barunya. Rasa bersalah kini semakin besar dirasakan dalam hati, "Maafkan Mom, Nak. Apa yang harus Mom lakukan agar mau memaafkan kami?" monolog Nyonya Astrid sambil memejamkan mata.
Ada langkah kaki yang memasuki kamar dan langsung menjawab ucapan Nyonya Astrid, "Dari dulu sudah dimaafkan kok, Mom. Jangan khawatir!"
"Nak ...?"
BERSAMBUNG
Jangan lupa mampir yok di novel teman author yang rekomen ini, sambil menunggu KKJ up besok lagi, terima kasih
__ADS_1