
Dengan segala rayuan dan alasan, Lee Kim Oen tidak melakukan push-up yang diperintahkan oleh Khan. Lee Kim Oen adalah laki-laki tipe anak manja. Suka menggunakan kosmetik terutama skin care dalam kesehariannya.
Lee Kim Oen sering ke salon untuk menunjang penampilan agar maskulin. Body lotion pemutih badan juga sering Lee Kim Oan beli untuk perawatan. Sehingga jika badan berkeringat sedikit saja langsung melakukan perawatan.
"Sono ngempeng sama Mommy saja, tidak lolos jadi murid," jawab Khan sambil mengangkat bahunya.
"Mas Khan tega banget sih, bukan Lee menolak untuk push-up hanya di tunda saja kalau Lee tidak bawa skin care dan hand body lotion."
"Ogah ... Mas Khan hanya menerima murid yang maco."
Lee Kim Oen menghadap arah Vefe sambil tersenyum devil, "Kalau begitu Lee jadi murid Kak Ve saja," kata Lee Kim Oen sambil mendekati Vefe ingin memeluknya.
Dengan gerak capat Khan menarik lengan Lee Kim Oan, "Mau ngapain lo?"
"Lee mau merayu Kak Ve biar mau mengangkat Lee menjadi muridnya."
Vefe hanya menggelengkan kepala melihat Khan dan Lee Kim Oen seperti anak kecil. Seperti Tom dan Jerry selalu bertengkar. Jika jauh sering bertanya kabar, tetapi jika bertemu selalu saja bersilat lidah tanpa ada yang mau mengalah.
Pukul empat sore Vefe kembali ke rumah Almarhum Kakek Raharjanto diantar Khan. Malam ini di sana akan mengadakan doa bersama. Bunda Fatia mengajak keluarga datang selepas sholat magrib.
Masih banyak teman Almarhum yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Dari anggota dewan daerah juga ada yang datang khusus untuk kakek. Mereka datang dan menginap sehari dan kembali keesokan paginya.
Vefe selalu merasa bersalah karena jarang memperhatikan baby Ilham dan Mpok Ria. Sering meninggalkan mereka walau ada yang membantu di rumah. Umi Maryam juga sering bolak balik panti asuhan dan rumah Vefe.
Acara pernikahan keponakan Daddy Kim Oen tinggal lima hari. Jadwal Mommy Astrid tiga hari sebelumnya sudah harus berangkat ke Korea. Vefe masih tidak tega untuk meninggalkan Mpok Ria, "Bagaimana dengan Mpok Ria, Pi?"
"Ada Umi Maryam, Pak Gun juga selalu siaga. Mami jangan khawatir jangan kecewakan Mommy dan Daddy."
"Rencana berapa lama di Korea, Pi?"
"Tidak perlu lama-lama yang penting acara selesai kita cepat pulang, Bunda juga tidak mau melewatkan persidangan Tino Prawira."
__ADS_1
"Kapan persidangan diadakan, Pi?"
"Kata Bunda Fatia dua minggu lagi baru ditentukan keputusan pengadilan, kalau Senin besok masih mengajukan para saksi."
"Baiklah ... Kita berangkat ke Korea, tetapi acara selesai kita langsung pulang ya Papi!"
"Iya palingan kita jalan-jalan di sana sebentar."
Perjalanan Indonesia Korea dilakukan Dua hari sebelum hari H. Pesawat pribadi hanya transit menjemput keluarga di bandara Internasional Soekarno dan Mohammad Hatta hanya sebentar saja. Akan langsung menuju Korea setelah semua siap.
'Setelah penumpang sampai tujuan. Pesawat akan kembali ke Manhatten dipakai untuk melakukan bisnis Ayah Jose. Pesawat tidak bisa stanbye seperti biasanya karena jadwal Ayah Jose yang sangat padat.
Sebelum berangkat ke Korea, Bunda Fatia masih sempat menghadiri persidangan Toni Prawira. Menyaksikan para saksi dari masing-masing sidang.
Persidangan banyak yang memberatkan tersangka. Ada banyak orang yang dirugikan oleh Toni Prawira selain perusahaan dan Eno. Saksi dari tersangka hanya beberapa orang saja meringankan dan membela.
Hari Sabtu pagi pesawat tiba di bandara Internasional Pyongyang. Yang ikut Mommy Astrid dan Daddy Kim Oen hanya Vefe, Khan, Aaron dan Bunda Fatia. Keluarga Almarhum Kakek Raharjanto tidak jadi ikut karena masih berkabung, Umi Maryam menemani Mpok Ria paska melahirkan.
Rombongan langsung disambut dengan ciri khas masyarakat di sana cara menyambut tamu. Membungkukkan badan saat mereka baru datang, "annyeong haseyo!" ucap mereka bersamaan.
"Orangnya putih-putih ya, Pi. Dan sebagian besar badannya langsing semua," bisik Vefe di telinga Khan.
"Hhmm ...." Khan hanya menjawab dengan dehem saja tanpa memperhatikan mereka.
Vefe menjadi kesal karena Khan yang diajak bicara memilih memperhatikan ponselnya. Dengan sengaja Vefe menyenggol bahu Khan, "Papi ...."
"Ada apa, Mami Sayang?"
"Diajak ngomong malah asyik sama ponsel aja."
"Papi tidak mau melihat yang putih-putih, Mi."
__ADS_1
"Memang kenapa?"
"Tidak suka aja, lebih cantik Mami kuning langsat."
"Eee malah merayu."
Setelah beristirahat satu malam. Minggu pagi akad nikah dilakukan di rumah pengantin wanita. Menggunakan cara umat islam karena pengantin wanita mualaf sebelum menikah. Dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas batangan lima puluh gram.
Sebagian besar keluarga Daddy Kim Oen sudah menjadi mualaf. Sehingga penduduk setempat sangat menghormati perbedaan dan saling menghargai. Hanya yang membedakan adalah adat dan pakaian adat korea yang dikenakan.
Pengantin pria mengenakan busana tradisional, berupa jubah, topi, sabuk dan sepatu seperti di zaman Joseon. Sementara wanita memakai hanbok, lengkap dengan hiasan jepit rambut serta sepatu. Riasan wajahnya sederhana dengan tambahan titik merah di bagian pipi kanan dan kiri.
Dalam pernikahan tradisional Korea Selatan, setidaknya ada lima ritual yang harus dijalani oleh pasangan. pertama Jeon An Rye yaitu dalam tahap ini, pengantin pria memasuki rumah mempelai wanita. Pengantin pria memberikan patung kayu angsa liar pada ayah pengantin wanita.
Yang kedua Gyo Bae Rye, yakni mempelai saling membungkukkan badan. Pada masa lalu, pengantin baru kali pertama bertemu di hari pernikahan mereka. Karena mereka tidak diizinkan bertemu muka hingga hari pernikahan.
Tahap yang ketiga Seo Cheon Ji Rye. Tahapan ini kedua pengantin mengucapkan sumpah pernikahan pada surga dan bumi. Sumpah surga dan bumi ini disebut juga Seo Bae Woo Rye.
Tahap yang keempat yaitu kedua mempelai meminum di gelas yang sama. Ini sebagai penanda mereka telah bersatu menjadi suami istri. Yang terakhir kedua pengantin membungkukkan badan pada kedua orang tua mereka dan meminta semacam doa. Ibu dan ayah mempelai biasanya memeluk anak dan menantu mereka.
Acara pernikahan yang berlangsung sekitar 60 menit. Ditutup dengan foto bersama keluarga besar dan para tamu memberikan selamat kepada mempelai. Satu persatu memberikan kado untuk bekal rumah tangga.
Vefe sangat menyukai baju pengantin tradisional Korea. Warna yang cerah dan model yang sederhana. Sangat sesuai kepribadian Vefe.
"Mami suka baju pengantin itu, Papi!"
"Bagaimana kalau kita foto pengantin ala Korea, Mami?"
"Waaah mau dong, Pi."
Mommy Astrid yang mendengar perbincangan Vefe dan Khan. Ikut berbisik kepada mereka, "Sudah Mommy persiapan baju khas Korea untuk kalian bertiga."
__ADS_1
"Aaron juga ada, Mom?"
"Iya nanti setelah upara pengantin selesai giliran kita untuk foto keluarga," jawab Mommy Astrid.