Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 217. Ditemukan


__ADS_3

Asisten Satria mulai emosi karena Eno yang jujur masih menyukai Khan. Sudah lebih dari dua tahun berlalu Khan menikah. Namun wanita itu masih menyimpan perasaan cinta dalam hati.


"Kalau kamu masih berniat mendekati Tuan Khan, saya akan meminta Nyonya Bunda untuk tidak jadi membantu kasus kamu."


"Jangan ...!" teriak Eno.


"Baik ... berjanjilah tidak akan mengganggu pernikahan Tuan Khan. Atau perlu kita buat hitam di atas putih?"


"Tidak perlu, Eno berjanji tidak akan mengganggu mereka."


Asisten Satria menunjuk pengacara handal rekomendasi dari Ayah Jose. Untuk membantu dan membela Eno dengan dua kasus yang dihadapi. Kasus arisan dan koperasi serta kasus tuduhan penggelapan uang dana sosial.


Hari ini Khan berkunjung ke perusahaan milik Doni Prawira. Sudah hampir seminggu lamanya dia lost contack dengan mantan casanova itu. Nomor ponselnya aktif sampai saat ini, tetapi tidak pernah dijawab.


Khan didampingi Asisten Satria datang setelah meeting dengan investor dari pulau Kalimantan. Saat memasuki kantor, Mereka melihat Doni Prawira sedang termenung sambil memutar pulpen. Saat mereka masukpun, dia tidak menyadari sama sekali.


"Bro ...!" teriak Khan.


"Eee kadal buntung, kodok lompat." Doni Prawira melempar pulpen yang dipegangnya.


"Astagfirullah, Doni." Khan menangkap pulpen yang hampir mengenai wajah.


"Eeee maaf, Bro."


"Anda sedang melamun sih, kami masuk sampai tidak tahu," kata Asisten Satria.


"Sorry ... kepala gue rasanya mau pecah," jawab Doni Prawira.


"Kami menghubungi beberapa kali, mengapa tidak menjawab?" tanya Khan.


"Sorry, Khan. Ponsel itu hilang sepuluh hari yang lalu."


"Memang kamu tidak sanggup membeli ponsel lagi?"


"Bukan tidak sanggup, Bro. Gue lagi banyak masalah jadi belum sempat mengirim nomor baru untukmu."


"Tentang Bang Toni?" tanya Khan lagi.


"Iya brengsek abang satu itu, bikin malu keluarga Prawira saja."


"Apakah keluarga Anda tidak mengetahui rencana pernikahan di Surabaya, Tuan?" tanya Asisten Satria.


"Tidak, dia tidak kontak dengan kami setelah perceraian dengan kakak ipar."


"Pantas saja keluarga dari pihak mempelai pria tidak ada yang datang ke sana."

__ADS_1


Doni Prawira bercerita tentang ponsel yang hilang sepuluh hari yang lalu. Saat terburu-buru ingin membelikan susu untuk putrinya kemungkinan ponsel terjatuh entah di mana. Sampai sekarang ponsel yang hilang itu masih aktif, tetapi tidak diketahui ada di mana.


Doni Prawira juga bercerita tentang kesibukan yang dua kali lipat saat ini. Tentang kasus Toni Prawira yang sedang dalam pencarian pihak yang berwajib. Sampai sekarang keluarga dibuat susah dan repot karena ulah dia.


Saat membuat rencana pernikahan dengan Eno. Toni Prawira sama sekali tidak mengabarkan kepada keluarga besar. Wajar saja jika sampai hari hari H pernikahan mereka tidak datang.


Toni Prawira tidak pernah pulang ke rumah. Perusahaan miliknya terbengkalai dan hampir gulung tikar. Dibiarkan dikelola oleh sang asisten yang kurang kompeten.


Sampai saat ini pihak kepolisian masih terus berkoordinasi dengan Doni Prawira. Bahkan seluruh keluarga terkena imbas perbuatan Toni Prawira. Satu persatu keluarga dipanggil pihak kepolisian untuk dimintai keterangan.


Rekening keluarga juga diperiksa satu persatu untuk mengetahui aliran uang dari Toni Prawira. Sampai perusahaan Doni Prawira juga diperiksa oleh pihak kepolisian. Aset pribadi milik keluarga juga harus diselidiki karena mengingat korupsi Toni Prawira yang sangat besar.


"Apakah sekarang sudah ditemukan Bang Toni, Bro?"


"Sampai sekarang belum ditemukan dia."


"Apakah Anda tahu jika abang Anda itu healing dengan sahabat calon istrinya?" tanya Asisten Satria.


"Gue tahu itu semua dari media sosial resmi kepolisian."


Sedang asyik berbincang tentang abangnya, Ponsel Doni Prawira berdering. Bergegas dia membuka ponsel sambil membaca sekilas yang menghubungi, "Komandan Pardi!"


"Angkat cepat ... siapa tahu kabar Bang Toni?" Khan antusias mendengar ucapan Doni Prawira.


"Di loud speaker, Tuan!" perintah Asisten Satria.


"Saudara Toni Prawira dan kekasihnya sudah tertangkap di Swiss, sekarang sedang dalam perjalanan ke Indonesia."


"Kami harus bagaimana, Ndan?"


"Nanti kami hubungi setelah tersangka berada di Indonesia, sebaiknya keluarga bersiap-siap!"


"Siap, Ndan ...!"


Asisten Satria langsung menghubungi pengacara yang membela Eno. Mengabarkan jika tersangka utama sudah di tangkap pihak kepolisian yang bekerja sama dengan interpol dan kedutaan. Agar bisa menindaklanjuti langkah selanjutnya.


Sore hari setelah pulang dari perusahaan Doni Prawira, Khan langsung menuju rumah. Karena mendapatkan kabar dari Vefe jika Kakek Raharjanto berkunjung ke rumah. Ingin bertemu dengan baby Aaron yang semakin besar.


"Apakah Kakek sudah datang, Mi?" tanya Khan turun dari mobilnya yang disambut oleh Vefe di halaman rumah.


"Belum ... katanya Kakek masih menunggu Tante Dar."


"Papi ganti baju aja, ayo ke kamar dulu, Mi. Bantu Papi ganti baju!"


Vefe mengerucutkan bibirnya, karena bisa dipastikan akan mulai modus jika meminta bantuan buka baju. Terkadang langsung beraksi tanpa mandi terlebih dahulu. Namun tetap saja dia mengikuti langkah suami berjalan ke kamar.

__ADS_1


Sambil berjalan ke kamar Khan bercerita tentang Doni Prawira dan abangnya Toni Prawira. Kemungkinan besok mantan calon suami Eno itu akan tiba di Indonesia. Dengan pengawalan ketat pihak yang berwajib dan akan langsung diintrogasi.


"Bagaimana dengan Eno, Papi?"


"Kalau wanita ganjen itu Papi malas cerita, tanya saja langsung pada Asisten Satria."


"Jangan centi man dong, Papi. Meter man aja."


"Iiiih Mami tidak lucu. Wanita ganjen itu membuat Papi ilfil."


"Kok bisa?"


"Kemarin kata Asisten Satria wanita itu mengira Papi yang mengutus Asisten Satria datang ke penjara," jawab Khan dengan kesal.


"Apakah Eno masih mengharapkan Papi?"


Khan mengangguk dengan lemah sambil terus berjalan ke kamar. Mukanya masam dan kesal teringat kemarin saat diceritakan Asisten Satria berkunjung ke penjara. Wanita itu masih berharap pada hal tidak mungkin terjadi.


"Dasar wanita aneh, apa dia tidak mikir dengan jernih?"


"Jangan marah dan cemburu dong, Mami!"


"Cemburu sih tidak, Mami tahu betul kok cinta Papi hanya untuk Mami seorang. Kalau marah pasti itu."


"Mengapa Mami marah?"


"Jelas dong Mami Marah. Tidak boleh seorangpun menyukai suami Mami."


Khan tersenyum sambil membuka pintu kamar. Menggandeng lengan Vefe sesaat setelah pintu di tutup, "Ayo buka, Mi. Cepetan!"


Yang Vefe lakukan pertama kali membuka dasi yang melingkar di leher Khan, "Jangan besar kepala ya karena si Eno itu masih suka dengan Papi!"


Khan tersenyum devil memandangi bibir Vefe. Mendengar istrinya terdengar marah dan cemburu. Merupakan kebahagiaan tersendiri di hati Khan.


"Mentang-mentang Eno masih suka sama Papi, nanti Papi sok kegantengan." Vefe membuka jas Khan.


"Tidak sok kegantengan Papi ini sudah ganteng dari lahir, Mami."


"Awas aja kalau Papi tebar pesona, Nanti Mami hukum Papi libur beraksi selama satu minggu?"


"Jang dong, Mami. Papi bisa mati berdiri dong, sekarang saja dia sudah bangun. Coba pegang kalau tidak percaya!"


"Eeee ...?"


BERSAMBUNG

__ADS_1


yok mampir di novel teman author yang rekomen banget ini, ada di novel toon juga kok, terima kasih.



__ADS_2