Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 106. Takut Marah


__ADS_3

Pukul sepuluh pagi, ada dua pasang tamu yang tidak diundang datang. Mereka mengaku dari pengelola gedung pernikahan. Ingin bertemu dengn Khan sehubungan pesanan gedung sekitar satu tahun yang lalu.


Dalam catatan dua tamu itu, pembayaran gedung sudah dilunasi. Acara hanya akan di tunda satu tahun lagi karena alasan pindah tugas luar kota. Tepatnya acara akan di lakukan satu minggu lagi setelah hari ini.


Awalnya Vefe bingung harus menjawab dua tamu yang datang. Bingung ingin bertanya kepada siapa. Bunda Fatia tadi malam pulang ke Surabaya.


Ingin bertanya kepada Khan atau Asisten Satria diurungkan. Teringat saat berpamitan tadi, Khan bercerita akan meeting di kantor cabang yang ada di Tangerang.


Vefe membolak-balikkan map yang di sodorkan oleh dua tamu. Melihat dan membaca dengan teliti. Ada dua nama yang tertera dalam Map itu Eno dan Khan. Melihat tanda tangan ternyata bukan milik Khan.


Membuka lembaran terakhir ada nama lengkap satu pacang calon pengantin. Vefe tersenyum ternyata nama mempelai pria bukan suaminya. Hanya nama panggilannya saja yang sama.


"Maaf Pak ... Bu, nama ini saya tidak mengenalnya," kata Vefe dengan tegas.


"Ini alamatnya di sini, Kak," jawab tamu yang wanita.


Vefe ingin sekali menghubungi suaminya untuk menjelaskan tentang ini. Diurungkan karena pasti Khan masih meeting. Vefe hanya mengambil foto dari map itu dan di kirim langsung ke Khan.


Ingin bertanya kepada Bunda Fatia takut membuat beliau khawatir. Di rumah hanya ada Pak Bowo dan Mpok Ria saja. Vefe memutuskan untuk bertanya kepada Pak Gun.


"Pak Gun ...!" teriak Vefe dari ruang tamu.


Pak Gun berlari mendekati Vefe yang duduk di ruang tamu. Masih ada serbet di pundak dan celemek menempel di badannya, "Ya Non, ada yang bisa Pak Gun bantu?"


"Pak Gun bisa tolong jelaskan ini apa?"


Vefe menyerahkan map yang tadi dipegang. Pak Gun mengambil map dan membaca dengan teliti. Dia tersenyum devil. Mengembalikan map itu kepada Vefe.


"Boleh Pak Gun duduk dulu sebelum bercerita?"


"Tentu silahkan, Pak!"


Pak Gun bercerita itu adalah salah satu cara Eno mendapatkn Khan. Dia dengan sengaja memesan gedung untuk pernikahan tanpa meminta izin terlebih dahulu dengan Khan. Berharap akan di setujui oleh Bunda Fatia dan langsung ke pelaminan.


Karena peristiwa itu Khan marah besar. Eno dipindah tugaskan ke Sulawesi. Sejak di jodohkan Khan tidak pernah menerima Eno sekalipun.

__ADS_1


Dua tamu ikut mendengarkan cerita Pak Gun. Mulai memahami apa yang terjadi, "Jadi kami harus menghubungi siapa ya Pak?"


"Wanita yang memesan ini sekarang tinggal di Surabaya, dia juga sudah di pecat dari perusahaan. Silahkan Anda menghungi memalui ponsel yang tertera dalam map itu," jawab Pak gun.


"Kami sudah menghubungi berkali-kali nomor yang tertera di map ini, tetapi tidak pernah aktif, Pak."


"Tunggu sebentar, saya masih memiliki nomor ponsel milik ayah dari wanita ini!"


Pak Gun mengambil ponsel yang ada di samping botol garam. Dia bergegas kembali ke ruang tamu dan menyerahkan nomor milik Pak Darsono.


"Terima kasih, Pak. Kami pamit dulu. Maaf telah mengganggu."


Vefe melamun setelah tamunya pulang. Teringat wanita yang bernama Eno, dia pernah mengancam saat pesta pernikahan di Surabaya. Akan merebut kembali yang sudah menjadi miliknya.


Sedangkan di kantor setelah selesai meeting, Khan emosi telah melihat foto kiriman dari vefe. Ternyata peristiwa satu tahun lalu masih menyisakan masalah. Tidak menyangka Eno hanya merubah tanggal pernikahannya satu tahun kemudian.


"Satria ...!" teriak Khan yang masih berada di ruang meeting.


"Ada apa, Tuan?"


"Kamu lihat ini!" Khan memberikan ponsel miliknya.


"Benar-benar gila wanita ini!" Asisten Satria ikut emosi.


Khan mengacak rambutnya dengan kasar. Marah, kesal dan emosi menjadi satu. Wanita ganjen itu tidak ada kapoknya membuat ulah. Selalu seenaknya sendiri bertindak tanpa memikirkan akibatnya.


"Apa yang harus saya lakukan, Tuan?"


"Kamu datangi gedung itu, selidiki semuanya!"


"Siap ...."


Asisten Satria bergegas ingin keluar dari ruang meeting. Ingin segera menyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh Eno. Tidak ingin berlarut-larut dan membuat tuannya marah dan emosi seperti dulu lagi.


"Satria tunggu dulu!"

__ADS_1


"Ya Tuan, ada apa lagi?"


"Berikan aku saran dulu bagaimana kalau Ve nanti marah?"


Asisten Satria berjalan berbalik badan sambil termenung. Siapapun yang melihat foto yang dikirim oleh Vefe, kemungkinan pasti akan marah besar. Mengetahui suaminya akan menikah satu minggu lagi.


"Apakah Nona Ve tidak menghubungi Anda sampai sekarang, Tuan?"


Khan mengelengkan kepalanya sambil cemberut. Bisa dipastikan jika Vefe marah besar. Setelah mengirim foto itu dia tidak menghubunginya lagi.


"Aku takut Ve seperti dulu lagi, tidak mau menemui dan selalu menghindar, bagaimana ini?" Keluh Khan dengan sangat khawatir.


"Waduh ... Betul juga ya, Tuan. Susah meluluhkan hati, Nona?"


Para anggota meeting belum ada yang keluar kantor. Mereka baru akan membubarkan diri meninggalkan ruang meeting. Mereka sebagian besar sudah berkeluarga bahkan ada yang sudah memiliki cucu.


"Ooo saya punya ide, tunggu kalian jangan pulang dulu!" teriak Khan.


Para anggota meeting duduk kembali dan menunggu perintah atasannya, "Apa lagi yang perlu kita rapatkan, Tuan?" tanya kepala bagian keuangan.


"Tolong berikan aku saran, bagaimana cara merayu istri yang sedang marah?"


Suasana langsung riuh dan banyak sekali usul dari mereka. Ada yang bilang memberikan bunga mawar merah. Ada juga bunga Bank atau baju yang bermerk. Ada yang usul membawakan makanan atau cokelat.


"Kalau menurut saya, Tuan. Mengakui kesalahan dan meminta maaf itu yang paling ampuh, karena menurut suami, istri itu selalu benar." kata kepala HRD.


"Berbicara dari hati ke hati saat berbaring di tempat tidur berdua dengan membelai istri, itu cara yang paling jitu, Tuan," usul kepala bagian produksi.


"Sebaiknya Anda pulang sekarang, Tuan. Jangan sampai Nona semakin marah!" Asisten Satria juga memberikan saran.


"Bawakan oleh-oleh makanan kesukaan istri pasti dia suka, Tuan."


"Baiklah ... Terima kasih sarannya, Aku pulang sekarang."


Khan berjalan dengan langkah panjang keluar dari ruang meeting. Tidak ingin istrinya marah seperti dulu sebelum menikah. Harus berbuat sesuatu yang istimewa agar Vefe tidak marah terlalu lama.

__ADS_1


Dalam perjalanan, Khan masih belum menemukan apa yang harus dibawa sebelum pulang. Uang atau deposito tidak mungkin diberikan kepada istrinya. Dia wanita yang tidak pernah meminta macam-macam.


Khan hanya mampir di toko bunga dan cokelat. Membeli bunga mawar warna merah dan membeli coketat putih. Dengan hati yang berdegup kencang, Khan masuk rumah, "Assalamualaikum, Sayang!"


__ADS_2