Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 190. tega Kuadrat


__ADS_3

Rasa syukur diucapkan oleh seluruh anggota keluarga setelah Pak Gun keluar kamar dengan membawa test pack. Ada garis dua terlihat jelas disertai senyum mengembang Pak Gun. Ucapan selamat disertai pelukan oleh, Ayah Jose, Pak Misbah dan Daddy Kim Oen.


Mpok Ria berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Vefe. Keajaiban dia bisa merasakan menjadi calon ibu karena campur tangannya. Biaya dari Khan yang membuat harapannya kini terwujud.


Karena sangat bahagia, Mpok Ria tersenyum sambil meneteskan air mata. Vefe mengusap pipi orang sudah dianggap ibu, "Ve juga sangat bahagia, semoga Mpok Ria sehat sampai melahirkan nanti." Dijawab dengan anggukan dan senyum yang mengembang oleh Mpok Ria.


Dalam umur yang tak lagi muda, bisa hamil adalah suatu karunia yang tidak ternilai. Tidak semua orang bisa merasakan keberhasilan usaha dan ikhtiar selama berbulan-bulan. Padahal dulu hampir tidak berharap bisa memiliki keturunan.


Masih dalam uforia kebahagiaan kabar tentang kehamilan Mpok Ria. Datang Erina dan Daniel sesaat Pak Misbah dan Bu Maya berpamitan pulang, "Ve ...!" teriak Erina sambil merentangkan kedua tangannya.


Sambil menyambut pelukan Erina, Vefe langsung memeluk Erina dengan disertai cipika-cipiki, "Ada kabar apa wajah kalian terlihat bahagia?"


Daniel menunjukkan test pack dari dalam kantong, "Lihat ... Abang Aaron akan punya adik baru."


"Alhamdulillah ... ya Allah berita bahagia datang secara bersamaan." Vefe kembali memeluk Erina dengan erat.


"Apakah ada yang hamil juga?" tanya Erina.


"Mpok Ria dan Kak Mur juga sebentar lagi akan mempunyai momongan."


"Alhamdulillah." Daniel dan Erina mengucap syukur bersama-sama.


"Selamat ... Erin, jaga kesehatan."

__ADS_1


"Terima kasih, Ve."


Saling mendukung dan saling menasihati saat berbincang. Vefe sangat bahagia untuk teman yang sudah dianggap sebagai saudara. Kabar bahagia yang terus datang silih berganti membuat dia melupakan masalah pribadi dengan kakek kandung.


Sore hari Khan pulang dari kantor di sambut dengan tiga kabar bahagia. Dengan antusias Vefe bercerita saat Khan selesai mandi dan sedang bersantai di kamar. Sedangkan baby Aaron berada dalam gendongan Bunda Fatia di ruang keluarga.


"Mengapa kabar bahagia cuma tiga, Mami. Tanggung banget sih?" tanya Khan setelah Vefe bercerita.


"Apanya yang tanggung, Papi?"


"Jelas tanggung dong, mengapa tidak Mami sekalian hamil lagi?"


Vefe langsung membelalakkan matanya karena kaget, "Ya Allah Papi, umur Aaron belum genap setengah tahun. Mami suruh hamil lagi?"


"Papi tega banget sih."


"Lo apa salah Papi?"


"Salah dong, Pi. Kasihan nanti Aaron ASI eksklusifnya tidak maksimal."


"Mami seharusnya juga kasihan dengan Papi juga dong kalau masalah ASI."


"Apa hubungannya ASI dan Papi?"

__ADS_1


Dengan tersenyum devil Khan membuka satu kancing baju Vefe yang paling atas. Diintipnya dua gundukan yang selalu memproduksi ASI selama baby Aaron lahir, "Dua favorit Papi yang sekarang tidak bebas bisa Papi nikmati."


"Mulai deh, sudah jangan ngintip lagi, nanti kebablasan malah bahaya!" Vefe mencoba mengancingkan bajunya yang tadi terbuka.


"Telat ... Mi. Dia sudah bangun, bersiap mencetak adik buat Aaron."


"Jangan berpikiran macam-macam, Mami masih memakai alat kontrasepsi. Mami juga belum siap untuk hamil lagi."


"Baiklah ... Keinginan punya bayi boleh di tunda, tetapi proses membuatnya dilarang menundanya!"


Khan langsung melahap bibir mungil milik Vefe yang menggoda. Akhir-akhir ini jarang bisa modusin istrinya. Kesedihan karena belum diterima oleh keluarga membuat Khan sering merasa tidak enak hati.


Hanya sayangnya baru mulai bisa menikmati indahnya pemanasan. Baru bisa bergerilya di sekitar bibir dan leher saja. Pintu diketuk disertai suara tangisan baby Aaron yang melengking.


"Maaf ya ... kali ini Papi tidak beruntung, modus ditunda sampai waktu yang tidak bisa ditentukan," kata Vefe tersenyum sambil mendorong tubuh suaminya.


"Tega kuadrat ini namanya, Mami."


Vefe tergelak sambil berlari membuka pintu. Ada Bunda Fatia dan baby Aaron berada di depan pintu, "Putra Mami kenapa, Nak?"


"Aaron haus, Mi." Bunda Fatia yang menjawab menirukan suara anak kecil mewakili cucunya.


"Sayang ... ayo kita masuk!"

__ADS_1


__ADS_2