
Nyonya Astrid mengikuti Bunda Fatia dan Ayah Jose tanpa kata. Bunda Fatia menuju restoran pivate room. Tanda diduga Umi Maryam sudah ada di ruang pribadi itu beberapa menit yang lalu.
Saat Bunda Fatia dan Ayah Jose tiba di Bandara Internasional Suekorno Hatta. Beliau mengutus satu karyawan dari perusahaan PT KURNIA untuk menjemput Umi Maryam. Mereservasi Private room restoran sebelum tiba sampai hotel.
"Umi apakah sudah lama sampai?" tanya Bunda Fatia cipika-cipiki dengan Umi Maryam.
"Baru saja tiba, Bun. Lho Anda sudah bersama Ses Astrid?" tanya Umi Maryam.
"Bunda bertemu dengan dia di depan pintu kamar hotel putra putri kita."
Walaupun Bunda Fatia tidak memperkenalkan diri. Nyonya Astrid sudah sangat mengenal profil kedua mertua dari putri kandungnya. Hampir satu bulan Nyonya Astrid mengenal orang yang sangat dekat dengan Vefe.
"Assalamualaikum Ses Maryam." Nyonya Astrid juga ikut cipika-cipiki seperti Bunda Fatia.
"Walaikum salam ... Apa kabar?"
"Alhamdulillah."
Mereka berempat duduk berhadapan, sebelum berbincang Bunda Fatia memesan makan untuk makan siang. Dan menikmati tanpa kata terutama Nyonya Astrid lebih memilih diam saja.
__ADS_1
"Baik ... Seharunya Mom Astrid sudah mengenal Bunda ya?" tanya Bunda Fatia kepada Nyonya Astrid.
"Tentu sangat mengenal Anda. Terima kasih Bunda dan Umi telah menyayangi Nak Ve tanpa batas. Maafkan kami baru mengetahui dalam satu atau dua bulan terakhir ini." Nyonya Astrid menjawab dengan berlinang air mata.
"Kita ini tiga ibu yang sangat menyayangi putri yang sangat istimewa. Namun harus difahami hati Nak Ve sebelum menikah sangat rapuh karena pengalaman masa lalu," kata Umi Maryam.
"Bunda juga baru mengenal Nak Ve, dia adalah sumber kebahagiaan putraku. Jadi jika dia sedih rasanya Bunda juga ikut bersedih."
"Mom tidak berniat membuat Nak Ve bersedih. Mom Ingin juga mendapat kasih sayang dari Nak Ve seperti Bunda dan Umi." Nyonya Astrid ikut memanggil dirinya seperti perkataan Bunda Fatia.
"Tetapi Ayah mohon, semua harus bertahap. Ayah juga tidak rela selama Nak Ve terus bingung harus bagaimana?" Ayah Jose juga ikut berpendapat.
"Mom tidak akan memaksakan kehendah, Ayah Jose. Mom hanya ingin minta diampuni karena telah menelantarkan dia."
"Mom ingin sekali saja bertemu, hanya minta pengampunan, setelah itu Mom akan rela jika Nak Ve belum mau memaafkan keluarga kami," pinta Nyonya Astrid dengan pasrah merasa putrinya tidak ingin bertemu dengannya.
"Bukannya tidak ingin bertemu dengan Mom, menurut Bunda dia masih syok dan belum siap karena masih bingung. Sebaiknya harus lebih bersabar sedikit."
"Baiklah, Bun."
__ADS_1
Mereka berempat terus berbincang tentang satu gadis yang spesial di hati masing-masing. Saling bercerita tentang masa lalu baik pribadi dan putri mereka. Saling sherring dan berbagi pengalaman hidup masing-masing.
Hampir satu jam berlalu Nyonya Astrid memanggil suaminya dan mengajak untuk bergabung. Terutama untuk bertemu dengan Umi Maryam. Meminta maaf secara pribadi karena kesalahan masa lalu.
Semua sudah terjadi dan sudah menjadi masa lalu. Sebaik-baik manusia yang bersalah adalah meminta maaf dan menyesali serta bertaubat. Itu pesan dari Ayah Jose kepada Mr. Kim Oen.
"Iya ... Ayah Jose, Daddy sangat menyesal, jika waktu bisa di putar lagi, Daddy ingin membahagiakan putri kami."
"Semoga Nak Ve akan ikhlas tentang peristiwa ini," doa Ayah Jose.
"Aamiin ...."
Dalam perbincangan itu mereka menyepakati jika Bunda Fatia, Umi Maryam dan Ayah Jose merencanakan untuk mengajak makan malam bersama. Akan mengajak Vefe dan Khan untuk duduk bersama.
Namun sebelum itu terlaksana Bunda Fatia dan Umi Maryam akan menemui Vefe terlebih dahulu. Dengan tujuan untuk berbincang dari hati ke hati tentang ibu kandungnya. Memberikan nasehat atau wejangan yang terbaik untuk putri tercinta.
Umi Maryam dan Bunda Fatia masuk kamar hotel milik Khan. Dengan terpaksa Ayah Jose, Khan dan baby Aaron mengungsi ke kamar Pak Gun. Sedangkan Vefe mendengarkan nasehat dari Bunda Fatia dan Umi Maryam.
"Jadi Ve harus bagaimana, Buda dan Umi?" tanya Vefe setelah mendengar nasehat kedua ibunya yang sangat menyejukkan hati.
__ADS_1
"Bunda dan Umi sudah sepakat kita akan makan malam bersama dengan keluarga Mr. Kim Oen," jawab Bunda Fatia.
"Waduh ... Apakah harus nanti malam bertemunya?" tanya Vefe