
Khan hanya melirik wanita yang ada di samping Wahono. Wanita itu terlihat kaget saat mendengar Wahono kaget dan mengucapkan hal yang tidak dia mengerti, "Cinta segitiga dengan siapa, Bang?" tanya Wanita itu.
"Bukan Abang, itu cinta segitiga Aan," jawab Wahono dengan cepat.
"Ooo kirain Bang Wah yang menjalin cinta segitiga."
Khan tersenyum devil, kemungkinan wanita yang di gandeng oleh Wahono belum mengetahui kisah Mursida yang menjalin hubungan rumit dengan Aan. Khan memilih mengalihkan perhatian kepada Vefe yang ingin makan di tempat atau di bawa pulang.
"Sayang, sudah memutuskan mau dibawa pulang atau makan di sini?"
"Apakah boleh dua-duanya, Mas?"
"Tentu saja. Ve duduk dan memesan sate taichan, Mas belikan teoge goreng dan soup buaahnya."
"Iya Mas."
"Bro permisi ya!" Khan berpamitan dan meninggalkan pasangan yang ada di depannya.
Wanita yang digandeng Wahono masih belum percaya karena melihat wajah Khan yang gugup dan Wahono yang terlihat panik, "Ayo kita ketemu Bang Aan di kedai bakso. Bang!" ajak wanita itu.
Wahono menghentikan langkahnya sambil tersenyum, "Cintaku ... Bang Wah ingin makan sate taichan seperti istri Khan itu. Kamu juga belum kenalan dengan Istri teman Abang, 'kan?" rayu Wahono.
"Tapi aku penasaran ingin bertemu dengan cinta segitiga Bang Aan," jawab wanita itu dengan suara manja.
"Nanti bisa bertemu dengan dia di markas, yok kita makan sate dulu!"
"Baiklah ...!"
Wahono tersenyum sambil melirik ke arah kedai bakso. Dari kemarin masih enggan bertemu dengan Kak Mur. Karena perawan tua itu masih ingin menjalin hubungan dengan dirinya.
Kemarin sudah sepakat dengan Aan untuk memberikan kesempatan agar dia menyatakan cinta. Wahono akan menghindar sementara sampai mereka jadian.Sengaja memberikan alasan sedang melatih di sasana tinju milik temannya yang ada di Bogor.
"Sana pesan sate dua porsi ya, Abang duduk di sebelah Khan, ok!" perintah Wahono.
"Mau pakai lontong atau pakai nasi?"
"Terserah saja, apapun pilihan wanita cantik sepertimu pasti enak."
"Gombal ...!"
__ADS_1
Wahono bergegas mendekati Khan. Berbisik untuk tidak menceritakan tentang Kak Mur untuk sementara. Bercerita juga ke food court sini tidak janjian dengan Aan dan Kak Mur. Mereka sudah membuat kesepakatan untuk saling mendukung dan berjuang mendapatkan cinta masing-masing.
Belum selesai bercerita kekasih Wahono datang dan duduk di sampingnya, "Khan ... Kenalkan dia belahan tulang rusukku namanya Dewi."
"Halo aku Dewi," Dia mengulurkan tangan kepada Vefe, "Saya Ve, salam kenal kak."
Khan langsung melipatkan tangan di dada. Tidak ingin bersalaman langsung seperti biasanya, "Saya Khan, Kak. Salam kenal."
"Salam kenal, Eee sudah berapa bulan kehamilannya?" tanya Dewi.
"Empat bulan, Kak." Vefe menjawab sambil mengusap perutnya.
Vefe memandangi penampilan dan wajah Dewi kekasih Wahono. Jelas saja dia memilih Dewi, walaupun dia terlihat seumuran tetapi penampilannya sangat modern.
Setidaknya wanita pasangan Wahono pandai berdandan dan sangat serasi dari pakaian, sepatu dan make-up. Tubuhnya gemuk dan pendek tetapi terlihat sehat. Kemungkinan tingginya tidak sampai 150 sentimeter dan berat badan 60 kilogram.
"saya juga sudah punya satu putri yang berumur satu tahun, semoga bayinya sehat sampai melahirkan nanti," cerita DEwi.
"Aamiin terima kasih doanya, Kak."
Mereka berhenti berbincang setelah semua pesanan datang. Menikmati makanan tanpa bersuara. Rasa sate yang lembut membuat Vefe sangat bahagia.
"Mau tambah lagi, Sayang?" tanya Khan sambil mengusap ada sambal di bibir Vefe.
"Baiklah ... Ini ayo habiskan ya!" Khan menyodorkan teoge goreng.
Hampir satu jam mereka duduk di kedai sate taichan. Wahono seolah masih enggan beranjak keluar dari kedai itu. Khawatir jika bertemu dengan Aan dan Kak Mur.
Wahono berpikir keras bagaimana cara mengetahui mereka sudah keluar dari food court. Saat dia menengok ke belakang ada toilet yang berjajar di belakang kedai, bergegas dia berbisik di telinga Dewi, "Abang ke kamar mandi sebentar Ya."
"Iya ... Jangan lama-lama, sebentar lagi waktunya si kecil minta ASI."
Wahono hanya tersenyum dan mengangguk. Meninggalkan tempat dan berjalan ke belakang. Dia tidak masuk kamar mandi melainkan mendekati kedai bakso. Mencari sosok laki-laki sahabatnya yang sedang kasmaran dengan Kak Mur.
Mata Wahono terbuka lebar saat melihat dalam kedai ada Aan yang sedang menggenggam ke dua tangan Kak Mur. Mencium punggung tangannya dengan lembut. Walau tidak terdengar suara mereka, kemungkinan Aan sedang menyatakan cinta.
Melihat Mursida mengangguk dan tersenyum serta Aan langsung berdiri sambil memajukan tubuhya dan mencium pipinya. Wahono langsung mengambil foto mereka dan menebak jika mereka resmi jadian.
Wahono meninggalkan kedai bakso dengan tersenyum devil, Hatinya kini lega kemungkinan rencananya berhasil dengan lancar. Dia kembali ke kedai sate taichan dengan tersenyum.
__ADS_1
"Mengapa lama sekali sih, Bang?" tanya Dewi dengan cemberut.
"Maaf cintaku, Abang sakit perut, jadi lama ya, Maaf!"
Khan tersenyum mendengar ucapan Wahono kepada Dewi. Pasangan seperti angka sepuluh itu terlihat romantis. Wahono banadnya kekar dan tinggi besar sedangkan Dewi gemuk pendek tetapi terlihat modis.
"Bro ... mau pulang sekarang atau nanti?" tanya Wahono kepada Khan.
"Kalau mau pulang duluan silahkan, istriku masih pingin menikmati soup buah yang belum datang," jawab Khan.
Ve sudah kenyang sih, Mas. Jangan pulang dulu ya, istirahat setengah jam dulu!"
"Tentu saja, Sayang santai saja." Khan mengusap lembut rambut Vefe dengan mesra.
Bagaimana Bang, kita pulang sekarang atau nanti?" tanya Dewi.
"Terserah saja, sekarang ya hayo ... Nanti juga boleh."
"Tunggu aku hubungi ibu di rumah."
Dewi menghubungi ibunya menggunakan ponsel. Ingin mengetahui putrinya yang berada di rumah. Hanya dalam sepuluh menit ponsel sudah masuk kantong kembali.
"Kita pulangnya bareng Ve saja, Bang Wah. Kata ibu stok ASI masih ada satu botol lagi, sekarang dia masih tidur."
"Baik ... Sesuai titah ratuku," rayu Wahono.
Mereka kembali berbincang banyak hal. Vefe masih menikmati manisnya soup buah yang manis. Vefe jarang ikut berbincang hanya terkadang tersenyum menanggapi caandaan mereka.
Setelah satu mangkuk Soup buah tandas, Vefe menggeser mangkuk ke samping, "Sudah habis, Mas. Apakah pesanan sate taichan sudah selesai?"
"Tunggu Mas tanyakan sebentar!"
Khan mendekati kasir untuk membayar sate yang di pesannya. Membayar sekalian milik Wahono dan pesanan yang dibawa pulang. Bertepatan pesanan baru saja di bungkus sate yang akan dibawa pulang.
"Ayo kita pulang, Bro ... Sudah aku bayar sekalian semua!"
"Waaah terima kasih. Ayo kita pulang."
Mereka pulang berjalan beriringan. Melewati kedai bakso dan melihat ke dalamnya. Aan dan Kak Mur sudah tidak ada di sana. Kemungkina mereka sudah pulang.
__ADS_1
Sampai mendekati parkiran ternyata Aan dan Kak Mur masih ada di sana. Dan parahnya Kak Mur yang melihat pertama kali Wahono menggandeng seorang wanita.
Kak Mur langsung berteriak, "Bang wah ...!"