
Vefe membelalakkan matanya saat di sebut sebagai nyonya dari nama lengkap Khan. Seolah kejadian hari ini seperti roller coster. Hanya dalam satu hari menyadari kesalahan, bertemu, berbaikan dan sekarang harus berubah status tidak cuma kekasih tetapi calon Nyonya Alhakhan.
Vefe langsung teringat penampilannya sendiri, "Apakah Mas tidak malu bersanding dengan Ve yang yatim piatu dan berpenampilan seperti ini?"
Khan mentowel hidung Vefe karena gemas, "Bukankah Mas sudah pernah bilang Mas menerima Ve apa adanya, dari kemarin itu saja yang di bahas. Nanti Elya yang akan merubah penampilan Ve."
Vefe memegangi hidungnya sambil tersenyum, "Tidak perlu Mas, Ve tidak mau merepotkan Mbak El."
"Kalau tidak ingin merepotkan dia bawa lagi kartu ATM kemarin."
"Eee jangan sekarang dong, Mas. Mana boleh begitu, kita ini belum ada ikatan apa-apa. Ve tidak mau dikatakan cewek matre belum-belum sudah memanfaatkan ATM."
"Naah Ve begitu ... selalu berpikir negative, Cinta Mas ini sudah mentok hanya untuk Ve seorang, semua milik Mas juga milik Ve. Mas ingin yang terbaik untuk kita."
"Maaf, jadi Ve harus bagaimana?"
"Bukan berarti Ve cewek matre kalau hanya menggunakan ATM. Itu namaya untuk menunjukkan pada dunia bahwa Ve itu sangat layak untuk tetap bisa berada di sisi Mas."
"Ve merasa aneh, Mas."
Khan memegangi kedua pipi Vefe karena gemas, "Kok Mas jadi gemes, apa perlu kita menikah sekarang?"
"Eee tidak semudah itu, Mas. Sabarlah!"
"Begini saja ... Kita ke butik sekarang saja yok. Mas yang antar agar besok Ve tidak merasa rendah diri!"
"Jangan dong, Mas harus istrirahat sekarang. Wajah Mas masih terlihat pucat."
Khan tersenyum kembali mengusap kedua pipinya lagi, "Enaknya di perhatikan, Mas ingin seperti ini terus."
Khan memandangi wajah Vefe yang tersenyum dan wajah yang memerah. Matanya saling mengunci dengan mata yang memancarkan cahaya cinta. Tanpa di sadari Khan memajukan wajahnya dengan melirik bibir Vefe yang menggoda.
Elya keluar dari kamar bersama Freya. Melihat masih ada Khan dan Vefe yang saling berhadapan, "Mas ... Awas ada yang ke tiga hati-hati!" Elya tergelak mendekati mereka.
Khan langsung melepas tangannya dari pipi Vefe, "Yo kon iku setane," jawab Khan.
Freya berlari mendekati Khan dan duduk di pangkuan Vefe, "Auntie Are you like my Uncle?"
Khan mengacak rambut Freya dengan gemas, "Yo jelas to, Auntie iku bojone Uncle."
__ADS_1
"Uncle ... yo opo seh Freya takon Auntie, sing jawab Uncle?"
Khan tergelak memeluk Freya sekaligus memeluk Vefe, "Podo ae rek."
"Ayo El saja yang menganjar Kak Ve ke butik sekalian El mau mencari kebaya untuk acara resepsi teman di Manhatten."
"Ok ... Itu baru jempolan." Khan mengacungkan dua jempolnya kepada Elya.
Sore itu Vefe berbelanja bersama Elya saja. Freya lebih memilih di rumah bersama Khan dan bermain bersama Sabrina. Sekalian Vefe pamit pulang ke panti asuhan.
Pukul delapan pagi Khan menjemput Vefe di panti asuhan. Dengan hati gembira dan bahagia menuju ke sana. Hubungannya kini satu langkah lebi serius.
"Assalamualaikum."
"Walaikum salam, tunggu ya, Nak. Ve baru ganti baju!" kata Umi Maryam menemui Khan.
"Ya Umi, Khan izin mengajak Ve ke kantor, Umi."
"Iya ... Ve tadi malam sudah cerita."
Ve keluar dengan penampilan yang berbeda. Menggunakan rok span panjang. Blezer berlengan panjang. Memegang tas tangan dan sepatu pantofel senada dengan bajunya coklat muda.
Sebelum memasuki lobi dan melewati resepsionis , Khan menautkan tangannya dengan sempurna, "Tegakkan badan ya Ve. Jangan menuduk dan fokus jalan ke depan, faham?"
"Iya faham, Mas."
"Ayo jalan Nyonya Khan!"
Saling memandang dengan kilatan cinta dan tersenyum. Mereka berjalan masuk kantor melewati resepsionis. Mata resepsionis terbuka lebar sambil menutup mulutnya melihat baru pertama kali atasannya menggandeng seorang gadis.
Seolah pegawai yang sering menerima tamu tidak percaya apa yang dilihatnya. Mata mereka di kucek beberapa kali. Pegawai itu langsung lemas dan merasa patah hati masal kehilangan idola perusahaan.
Khan menggandeng Vefe masuk lift khusus milik petinggi perusahaan. Banyak karyawan yang berdiri di samping lift umum langsung tersentak kaget melihat idolanya berjalan bergandengan tangan. Bahkan ada yang histeris karena kaget.
Keluar dari lift Khan langsung menuju kantor. Kembali bertemu dengan dua resepsionis yang pernah bertemu dan menggunjingnya dulu. Mereka langsung membelalakkan matanya, "Eee lihatlah, Tuan Khan menggandeng wanita yang dulu pernah kita usir," bisik salah satu mereka.
"Mati gue, dulu kita pernah mengguncing calon Tuan Khan."
Vefe hanya melirik dua wanita yang berdiri terpaku. Terus mengikuti langkah Khan yang berjalan tegak. Tidak ingin membuat masalah dengan siapapun di hari pertama di kantor milik kekasih.
__ADS_1
Belum sempat masuk kantor Asisten Satria langsung berlari menyambut kedatangan Khan dan Vefe, "Tuan ... Nona, Assalamualaikum."
"Walaikum salam." Khan dan Vefe menjawab bersamaan.
"Waaah kompak banget ... selamat datang kembali, Tuan. Semoga sekarang saya tidak akan kewalahan lagi bekerja sendiri."
Khan tersenyum tetap menggandeng tangan Vefe, "Ceritanya curhat nich!"
Asisten Satria mengangguk, "Mulai sekarang saya akan memilih curhat dengan Nyonya saja."
"Ngarep, ayo Ve masuk!"
Vefe masuk kantor Khan untuk pertama kali langsung mengagumi ruangannya. Luasnya hampir sama dengan rumah panti asuhan. Ada empat fungsi yang berbeda di dalamnya. Kantor, ruang tamu, di paling pojok kamar dan yang terakhir ada ruang gym di samping kamar.
Vefe langsung duduk di sofa ruang tamu saat Khan mendekati meja kerjanya. Setelah meletakkan tas kerja, Khan menyusul Vefe duduk di sampingnya, "Bagaimana ... Sekarang tidak incerure lagi, 'kan?" tanya Khan meraih tangan Vefe dan di usapnya.
Vefe menjawab dengan menggelengkan kepala. Jantungnya berdegup kencang berpacu antara nervous dan deg-degan. Berjalan dengan diperhatikan banyak orang baru pertama kali dialami.
"Berarti sudah siap menjadi Nyonya Khan sekarang?"
"Sabar dong, Mas."
"Jadi kapan bisanya?"
Vefe termenung teringat saa Eno mengatakan tentang restu ibu dari kekasih hati yang di panggil Bunda Fatia. Teringat juga Elya yang bercerita tentang Ayah Jose. Vefe ingin bertemu dengan ke dua orang tua Khan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
Vefe masih takut jika tidak di restui oleh ke dua orang tua Khan karena statusnya adalah anak yatim piatu. Vefe masih takut jika mereka masih merestui Eno untuk dijadikan menantu.
"Nanti dong, Ve belum bertemu dengan orang tua Mas Khan, kenapa sih buru-buru banget?"
"Mas pingin itu." Khan menunjuk bibir Vefe sambil mengedipkan matanya.
"Eee ....?"
BERSAMBUNG
Jangan lupa mambir dong kakak di novel teman yang rekomen ini, seru lo sambil menunggu KKJ up lagi
__ADS_1