
Eno dan ibunya tersentak kaget dan langsung menengok pintu. Wajah Eno terlihat datar tanpa ekspresi. Wajah juteknya susah di tebak apa sebenarnya yang dipikirkan.
"Eno sebenarnya sudah mantap menikah dengan Bang Rian, yang tadi itu tujuan tambahan saja."
"Tambahan bagaimana maksudnya, Mbak?"
Eno bercerita jika saat berkunjung di lapas wanita bertemu dengan May. Eno dikatakan perawan tua. Tidak ada yang mau menikahi kecuali Toni Prawira.
Walaupun May sudah dimaki-maki dan dikatakan penghianat dan pelakor. Namun tetap saja tidak merasa bersalah. Karena Toni Prawira yang merayu dan mendekati terlebih dahulu.
Dari perdebatan antara Eno dan May, ternyata akar permasalahan yang sebenarnya hanya satu. Saat sudah resmi pacaran dan merencanakan pernikahan. Eno tidak pernah mau diajak melakukan hubungan terlarang.
Sedangkan May hanya statusnya saja yang perawan dan belum menikah. Pernah tinggal beberapa kali dengan lawan jenis tanpa ikatan pernikahan. Hidup bebas lepas tanpa batas termasuk dengan Toni Prawira.
Dengan berapi-api Eno bercerita tentang masalah status. Berkali-kali Toni Prawira mengajak bersenang-senang tanpa batas. Hanya sayangnya Eno selalu menolak dengan alasan belum waktunya.
Eno selalu memegang teguh prinsip yang melarang hubungan sebelum menikah. Sedangkan May dengan mudah diajak kapanpun pasangannya mau. Karena itulah Toni Prawira memilih May dari pada Eno.
Setelah Eno bercerita dan Vefe belum sempat bertanya lagi. Datang Pak Marsono memanggil istrinya. Masih ada pembicaraan yang akan dibahas tentang akad nikah yang akan dilakukan minggu depan.
"Sebaiknya luruskan niat untuk ibadah, Mbak. Sisanya insyaallah akan mengikuti."
"Terima kasih, Apa salahnya sedikit balas dendam kepada pasangan biadab itu?"
Vefe hanya tersenyum, "Ya sudah ... Ve akan ke kamar mandi dulu."
"Oya silahkan."
Vefe berjalan ke kamar mandi sambil termenung. Teringat dengan makna boneka ayam jago yang dibawa Rian Santoso. Teringat juga tentang prinsip Eno yang tidak mau diajak bersenang-senang sebelum menikah.
Vefe merasa kagum tentang prinsip itu. Dibalik semua sifat Eno yang banyak negatifnya. Dia memiliki satu prinsip yang patut ditiru oleh kaum hawa terutama.
Pergaulan boleh modern dan mengikuti jaman. teknologi dan kemajuan jaman memang wajib dipelajari. Namun prinsip yang satu itu tetap harus dipertahankan.
Vefe bergabung lagi dengan suami dan keluarga yang sedang menikmati makan malam, "Kok lama betul sih, Mami?"
Vefe hanya tersenyum, "Maaf tadi Ve ngobrol sama Mbak Eno sebentar."
"Mami bertanya tentang pengacara Firman?"
__ADS_1
"Papi ini curiga saja sih, tidak dong ini beda kasus."
"Kasus apa lagi?"
"Eeee Papi kepo, Mami lapar mau makan dulu ya, pertanyaan ditunda sampai waktu yang belum ditentukan."
"Tega banget sih, Mami." Khan mengerucutkan bibirnya karena kesal.
Vefe teregelak sambil berlalu dan menyapa baby Aaron yang ada di gendongan Bunda Fatia, "Mami mengambil makan dulu ya, Nak."
Jawaban putranya menambah Vefe tergelak. Bahasa batita yang hampir berumur satu tahun susah dimengerti. Namun bahasa planetnya membuat bahagia bagi yang mendengar.
Sudah hampir empat hari Kakek Raharjanto tidak berkunjung ke panti asuhan. Umi Maryam merasa tenang dan tidak gelisah lagi. Bisa istirahat tanpa perasaan yang was-was.
Umi Maryam mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada Khan. Karena berhasil memberikan pengertian kepada kakek tua itu. Walaupun Khan mengatakan Kakek Raharjanto masih ingin mencoba.
Setidaknya sudah bisa bernapas lega jika tidak sering datang. Tidak sering bertemu dan mencari perhatian yang berlebihan. Apalagi datang dengan berbagai alasan yang sangat terlihat jika cuma alasan saja.
Berbanding terbalik dengan Kakek Raharjanto. Sudah beberapa hari ini gelisah dan tidak tenang. Setiap hari selalu menghubungi Khan bertanya kapan akan berkunjung ke panti Asuhan.
Yang awalnya menjanjikan saat liburan akan ke sana. Namun keluarga menghadiri acara lamaran Eno. Sehingga Khan tidak sempat mengantar Kakek Raharjanto ke panti asuhan.
"Ini sudah malam, Kek. Biasanya Umi setelah sholat langsung membaca Al Qur'an dan tidak ke luar kamar lagi," kata Vefe saat Kakek Raharjanto mengajak Khan ke panti asuhan.
"Besok saja, Kek. Setelah makan siang Khan ada meeting dekat panti asuhan, kakek bisa ikut dan setelah selesai mampir ke sana."
"Baiklah ... Kakek tidur sini saja, sekali-kali Kakek ikut ke kantor Nak Khan besok."
Dengan terpaksa malam ini Khan berbincang dengan Kakek Raharjanto sampai malam ditemani Pak Gun. Tidak bisa modus dengan istri, setelah Kakek Raharjanto mengantuk dan beristirahat di kamar tamu. Khan melihat Vefe sudah terlelap dalam mimpi.
Pagi hari aktivitas rumah Khan seperti biasa. Yang berbeda ada Kakek Raharjanto yang ikut sarapan pagi ini bersama keluarga. Menu nasi uduk khas Jakarta masakan Pak Gun yang selalu menjadi favorit.
Tanpa diduga sesaat Khan dan Kakek Raharjanto keluar rumah. Datang Umi Maryam menggunakan mobil online. Untungnya Khan dan Kakek Raharjanto tidak mengetahui jika mobil online itu penumpangnya adalah Umi Maryam.
"Assalamualaikum," sapa Umi Maryam setelah mengetuk pintu dan dibukakan oleh bibi.
"Walaikum salam, lo Umi ... tidak berpapasan sama Papi dan Kakek?" tanya Vefe.
"Umi lihat mobil suamimu, tetapi tidak melihat ada kakekmu di sana."
__ADS_1
"Mungkin kalau Kakek lihat Umi, pasti beliau tidak jadi ikut Papi ke kantor."
"Kenapa?"
"Kakek rindu berat sama Umi."
"Iiiih apa sih, Nak?"
"Betul Umi, Kakek dari tadi malam minta antar ke panti asuhan."
"Bodo amat ah." Umi Maryam cemberut dan kesal.
"Mengapa Umi ke sini tidak telelepon dulu, kan bisa Ve jemput?"
"Umi sudah janjian sama Mpok Ria akan mengantar periksa rutin ke rumah sakit."
"Kok tumben Mpok Ria dan Pak Gun tidak cerita?"
Pak Gun dan Mpok Ria datang dari arah kamar, "Maaf ... Pak Gun lupa karena sampai malam berbincang bertiga."
"Tidak apa-apa. Pak Gun. Jam berapa ke rumah sakit?"
"Jam sepuluh, Umi ingin bermain dengan cucu ganteng dulu kangen dengan Aaron."
Vefe menggoda Umi Maryam dengan mengedipkan mata, "Kangen sama Aaron atau ...?"
"Jangan macam-macam!"
Umi Maryam menepuk pundak Vefe dan meninggalkan ruang tamu berlari naik tangga. Sudah mendengar celotan baby Aaron bersama Bunda Fatia.
Vefe belum sempat bercerita jika Kakek Raharjanto dan Khan akan berkunjung ke panti asuhan setelah selesai meeting. Umi Maryam memilih menghindar saat ada Pak Gun dan Mpok Ria. Akhirnya Vefe berbincang dengan Mpok Ria dan Pak Gun di ruang tamu.
Vefe mendengar ada suara pintu gerbang dibuka. Ada suara mobil masuk ke halaman rumah. Suara mobil yang tidak asing lagi di telinganya.
"Lo kok Papi pulang lagi, waaah bahaya ini jika Umi tahu!"
BERSAMBUNG
jangan lupa mampir di novel teman author yang rekomen banget ini ya, di novel toon juga kok, terima kasih
__ADS_1