Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 65. Terhipnotis


__ADS_3

Sesaat terucap Khan memanggil nama Vefe mulutnya seolah tidak bisa tertutup. Rasanya tidak percaya gadis yang biasa berpenampilan cenderung tomboi itu sangat cantik dan anggun. Wajahnya terlihat dewasa, senyumnya yang menawan membuat Khan tak bisa berkata apa-apa terpana dan terpesona.


Nina yang melihat Khan seolah terhipnotis oleh penampilan Vefe langsung mendekati dan berbisik di telinga, "Tuan ... mulutnya di tutup nanti ada sesuatu masuk." Nina sambil berlalu meninggalkan Khan.


"Rin ... Ayo Mbak antar pulang!" teriak Nina sambil keluar dari rumah kecantikan.


"Iya Mbak ... Ve awas jangan sampai klepek-klepek." Erina menjawab dan berbisik kepada Vefe.


"Apa sih, Rin. Sana pulang!" Vefe tersipu malu dan melirik Khan.


Nina dan Erina meninggalkan tempat rumah kecantikan sambil tersenyum. Khan masih terhipnotis dengan penampilan Vefe. Sambil menunduk malu Vefe mendekati Khan, "Mas, ayo berangkat!"


"Eee iya ayo!" Khan membuka lengannya agar Vefe bisa menautkan tangan.


"Sumpah hari ini Ve cantik sekali," rayu Khan sampai memegangi tangan Vefe yang sudah melingkarkan tangannya di lengan Khan.


"Terima kasih untuk perawatannya di rumah kecantikan, Mas."


"Sama-sama."


Sampai di restoran yang sudah di reservasi private room. Hanya ada satu meja dan dua kursi saling berhadapan. Ada bunga mawar merah di tengah meja serta lilin yang menyala.


Khan langsung menarik kursi untuk Vefe duduk, "Silahakan duduk Ve!"


"Terima kasih."


Dua pramusaji menghidangkan makanan pembuka matcha cheesecake dan jus mangga. Pramusaji langsung meninggalkan meja setelah semua sudah berada di depan Vefe dan Khan, "Ayo Ve silahkan di nikmati!"


"Iya terima kasih, Mas."


Menikmati kue dengan perpaduan rasa manis dari bolu nan lembut. Dipadu dengan asin gurihnya keju terasa nikmat di lidah. Apalagi dinikmati berdua di malam romantis.


"Bagaimana Ve, apakah suka hidangan pembukanya?"


"Iya Mas, enak sekali dan lembut kuenya."


"Mas belum banyak tahu selera makanan yang Ve suka."

__ADS_1


Vefe tersenyum, "Apa sih Mas, Ve terbiasa makan apa adanya jadi tidak memiliki makanan favorit."


Setelah selesai menikmati kue, datang lagi dua pramusaji yang membawa dua hidangan menu makan utama beef steak dengaa saos lada hitam. Di tambah kentang wortel dan jagung manis sebagai karbohidrat.


"Silahkan ... Selamat menikmati!" Prmusaji membungkuk menghormati dan langsung meninggalkan tempat.


"Terima kasih," jawab Vefe tersenyum.


Menikmati lembutnya daging dengan di siram saos lada hitam. Sesekali Khan mencuri pandang, bahkan sesekali saling menatap dan mengunci tatapan mata mereka. Rasa cinta semakin menggelora di hati rasanya berbunga-bunga.


"Bagaimana rasanya, Ve?" tanya Khan setelah beef steak habis tanpa sisa.


"Enak sekali, Mas. Terima kasih sudah mengajak Ve makan malam."


Ada bumbu saos lada hitam di bibir Ve, "Maaf ya Ve, Mas lap ada sedikit bumbu saos di bibir Ve." Khan mengusap bibir Vefe menggunakan tisu.


"Terima kasih, Mas."


Yang terakhir hidangan makan penutup datang dua porsi es krim berpadu dengan pisang yaitu banana split. Perpaduan potongan pisang dipotong dadu dengan es krim vanila. Rasnay lumer di lidah saat masuk kedalam mulut.


Sambil menikmati hidangan penutup, Vefe gantian bertanya tentang makanan kesukaan Khan, "Apa makanan kesukaan Mas Khan?"


"Berarti yang asin dan manis Mas Khan tidak suka?"


"Bukan tidak suka tetapi jarang makan," jawab Khan sekenanya.


Vefe teringat saat di panti asuhan makan menu sayur asm dan lauk ikan asin. Waktu itu dia tidak menolak sama sekali bahkan sampai dua kali makan dengan menu yang sama. Pernah juga ada menu tempe dan tahu bacem yang tidak disentuhnya sama sekali.


"Berarti Mas Khan jarang makan ikan asin dong?"


"Khan tersenyum lebar dan berkata jujur, "Mas baru dua kali makan ikan asin."


"Saat di panti asuhan dong berarti?"


"Iya ...."


"Mengapa Mas tidak bilang kalau tidak suka asin?"

__ADS_1


"Semua Mas lakukan demi Ve, rasanya tidak asin kok karena makannya sambil melihat wajah Ve yang manis."


"Gombal." Wajah Vefe terlihat merah karena malu, pertama kali dirayu olehnya.


Khan memandang wajah Vefe yang bersemu merah. Wajahnya semakin terlihat cantik dan memesona, "Bukan gombal, itu kenyataan kok Ve manis dan cantik."


Vefe langsung mengalihkan pembicaraan agar tidk terlihat gugup, "Jadi apa yang paling Mas sukai?"


"Yang paling Mas sukai ya Vefe," jawab Khan asal.


"Maksud Ve tentang makanan, Mas. Malah merayu lagi." Vefe mengerucutkan bibirnya untuk menyembunyikan kegugupannya.


Khan tergelak sambil terus memandangi wajah Vefe yang semakin terispu malu, "Apa saja sih yang penting pedas, apalagi yang masak Ve pasti akan lebih enak lagi."


"Ve paling sering masak ikan asin."


"Tidak masalah, yang penting saat makan itu ada Ve di depan Mas. Tidak mungkin terasa asin karena ada yang manis," jawab Khan membuat Vefe tidak menjawab rayuan gombalnya.


Hari demi hari hubungan Khan dan Vefe semakin mesra. Khan selalu menyempatkan waktu walau hanya say hello menggunakan ponsel ataupuan telegram. Bertanya tentang kabar, sedang melakukan apa atupun merayunya.


Setiap malam Minggu Khan sering berkunjung ke panti asuhan.Terkadang mengajak keluar sekedar jalan-jalan atua nonton berdua. Terkadang hanya berbincang di panti bersama Umi Maryam ataupun Mpok Ria beserta anak-anak.


Malam Minggu Khan langsung datang ke panti asuhan setelah melakukan meeting bersama di Tangerang. Dengan membawa kue pancong untuk seluruh penghuni panti asuhan yang dibelinya dari Tangerang.


Khan duduk berdua dengan Vefe berbincang di teras sambil melihat anak-anak bermain di halaman. Tanpa diduga ada dokumen Khan yang terjatuh di bawah kursi panjang. Pada pagi hari dokumen baru di temukan oleh Mpok Ria yang sedang membersihkan teras rumah.


Pagi harinya saat Vefe menghubungi Khan ponsel tidak aktif. Malam Minggu kemarin Khan bercerita pagi hari ini ada meeting penting di kantor. Dengan terpaksa Vefe harus mengantar dokumen itu ke perusahaan milik Khan


Sampai di lobi Vefe langsung menemui resepsionis, "Permsi, Bu. Saya ingin bertemu dengan Mas Khan ... Eee salah Tuan Khan."


"Maaf, Kak. Apakah Anda sudah ada janji dengan Tuan Khan?" tanya Resepsionis dengan sopan.


"Belum sih, Bu."


"Maaf ya Mbak di sini peraturannya harus membuat janji dulu sebelum bertemu dengan atasan kami."


"Ooo begitu ya, Bu. Baiklah."

__ADS_1


Sebelum Vefe meninggalkan lobi, dia mencoba menghubungi Khan sekali lagi. Ponsel tetap tidak aktif dan tidak bisa di hubungi. Sekali lagi Vefe mencoba menghubungi Asisten Satria berharap ponselnya aktif.


Setali tiga uang, ponsel Asisten Satria juga tidak aktif saat mereka sedang meeting. Dengan terpaksa Vefe melangkah keluar dengan hati yang kecewa. Baru melangkah sampai pintu Vefe mendengar dua resepsionis sedang berbincang, "Wanita berpenampilan seperti itu ada perlua apa dengan Tuan Khan kita yang tampan?"


__ADS_2