
Perjuangan keras pengacara rekomendasi Ayah Jose berhasil setelah satu minggu berlalu. Uang yang ada di Bank atas nama Eno yang dibekukan Bank. Kini bisa untuk mengembalikan uang arisan dan Koperasi ibu-ibu sosialita.
Pengacara juga berhasil membuktikan jika Eno tidak terlibat tentang korupsi uang dana sosial dan kesehatan karyawan. Eno bisa keluar dari penjara setelah menginap di hotel prodeo selama delapan hari. Laporan ibu-ibu sosialita di cabut setelah mereka menerima uang investasi plus bunganya.
Beda lagi dengan Toni Prawira dan Mayasari. Mereka dituntut hukuman berat karena menghabiskan sebagian uang dana perusahaan. Mereka tinggal menunggu sidang pengadilan yang akan di gelar sebentar lagi.
Eno belum bertemu mantan calon suami dan mantan sahabat yang menikungnya dari belakang. Padahal melalui pengacara para tersangka menyampaikan ingin bertemu. Namun Eno belum memberikan jawaban dan belum berniat untuk bertemu.
Eno lebih tertarik mondar-mandir rutan dan apartemen. Rupanya ancaman dan nasehat Asisten Satria sangat manjur. Dia sedang dekat dengan laki-laki dari kalangan biasa bukan konglomerat ataupun pebisnis.
Eno dengan mudah mendapatkan ganti Toni Prawira. Langsung membuka hati untuk wakil kepala sipir yang memberikan perhatian lebih untuk Eno. Perjaka tua sederhana, tetapi selalu mendampingi Eno saat proses hukum masih berlangsung.
Eno memang sudah keluar dari penjara. Namun masih ada prosedur yang harus dilalui. Dia juga masih terkait dengan kasus Toni Prawira dan Mayasari.
Setelah hampir lima hari Eno keluar penjara. Hari ini Pak Marsono dan istri datang ke Jakarta. Selain ingin menemuai putrinya yang berhasil bebas dari penjara, mereka ingin mengucapkan terima kasih kepada Ayah Jose dan Bunda Fatia.
Dengan percaya diri, Eno mengajak pasangan si wakil sipir Rian Santoso ke rumah Khan bersama kedua orang tua. Ingin menunjukkan jika dia benar sungguh-sungguh melaksanakan janji yang diucapkan. Janji tidak akan mendekati dan mengganggu rumah tangga Khan dan Vefe.
Baru pertama kali ini Khan mau menemui Eno secara langsung setelah sekian lama. Karena mengetahui wanita itu sudah memiliki pasangan baru. Itupun karena kedua orang tua Eno juga ikut berkunjung.
Setelah mereka mengucapkan terima kasih dan berbincang. Bercerita jika Rian Santoso benar-benar serius kepada Eno. Bunda Fatia menyarankan untuk segera dipercepat hubungan mereka.
"Sebaiknya di segerakan, jika memang sudah sama-sama suka!" saran Bunda Fatia.
"Kalau saya terserah mereka saya, Jeng. Saya tidak ingin peristiwa seperti kemarin terjadi," jawab Pak Marsono.
Eno hanya menunduk tidak berani menjawab, dia hanya melirik Khan yang sedang duduk menempel pada istrinya. Wajahnya terlihat datar dan tidak terlalu antusias mendengar saran Bunda Fatia. Setelah melihat Khan secara langsung hatinya mulai goyang lagi.
"Saya juga ingin disegerakan, Bu. Namun Dik Eno belum siap katanya," jawab Rian Santoso sambil melirik Eno.
"Apa lagi yang kamu cari, Nak?" tanya Bunda Fatia.
__ADS_1
"Eno masih takut dan trauma. Bun."
"Saya orang biasa saja, tidak punya banyak harta. Namun saya tulus dan menyukai Dik Eno apa adanya, Bu."
"Apakah Ibu Eno tidak setuju?" tanya Bunda Fatia sambil melihat istri Pak Marsono.
Ibu kandung Eno itu hanya mengangkat bahunya. Antara trauma dan bingung karena baru kemarin putrinya gagal nikah. Laki-laki yang sangat menyukai Eno hanyalah orang biasa tidak seperti harapannya.
"Menurut kamu bagaimana, Nak Khan?" tanya Ibu Eno.
"Yang mau menikah putri Anda, Bu. Sebaiknya dia yang memutuskan, menurut saya rezeki, jodoh, perpisahan dan maut adalah rahasia Ilahi Robbi."
"Kalau Nak Ve, apa mendapatmu tentang jodoh?" tanya Pak Marsono.
Vefe tersenyum simpul, ingin sekali menyentil cara pandang Eno dalam cara mencari jodoh, "Kalau saya lebih baik dicintai daripada mencintai, Harta dan kekayaan merupakan bonus dan rezeki dari yang maha Khaliq, Pak."
"Bunda sangat setuju dengan Nak Ve. Nafkah bisa dicari bersama setelah menikah."
"Tidak harus mencari yang seperti kemarin, Nak. Menurut Ayah yang penting tanggung jawab dan tulus," nasihat Pak Marsono.
Khan tersenyum mendengar pengakuan bujang lapuk yang sedang jatuh cinta. Teringat dua sahabatnya mantan bujang lapuk Aan dan Wahono. Jika dilihat umur mereka hampir sama dan memiliki nasib yang sama.
"Apakah Anda berarti dengan resmi melamar putri Pak Marsono, Bang?" tanya Khan kepada Rian Santoso.
Eno langsung melirik Khan sekilas. Namun Vefe menatap tajam Eno yang selalu curi pandang kepada suaminya. Seolah tidak rela wanita itu masih menaruh hati pada suami.
"Saya sudah melamar langsung kepade Dik Eno dua kali, Bro. Namun jika sekarang saya diizinkan secara resmi saya melamar Dik Eno di hadapan seluruh keluarga."
"Bagaimana, Nak Eno, Bunda suka dengan pemuda yang tegas seperti dia?" tanya Bunda Fatia.
"Ayah juga setuju, Nak. Namun semua kamu yang menjalankan!"
__ADS_1
Awalnya Eno mengambil napas panjang dan menghembuskan perlahan. Kembali melirik Khan dan ditatap tajam oleh Vefe. Menatap wajah Rian Santoso dengan tatapan mata yang tidak bisa diartikan.
Eno melihat Ibunya yang terlihat cemberut dan berwajah masam. Bisa menilai jika ibunya tidak setuju dengan Rian Santoso yang sederhana. Namun merasa yakin setelah memandang Pak Marsono yang mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah ... Eno terima lamaran Bang Rian."
"Alhamdulillah ...." Ucapan syukur dari semua kecuali Ibu Eno.
Eno tersenyum sekilas melihat semua mengucap syukur. Termenung sambil memandangi Rian Santoso yang terlihat bahagia. Meyakinkan hati dengan mengingat ucapan Vefe berkali-kali yaitu lebih baik dicintai daripada mencintai.
Pak Marsono langsung mengusap lengan istrinya. Dia tahu betul jika sebenarnya dari awal tidak setuju dengan laki-laki yang baru saja melamar putrinya. Dari dulu istrinya ingin memiliki menantu orang kaya dan tajir seperti keluarga Bunda Fatia.
"Bu, tolong restui Eno. Ayah berharap Ibu bisa mendoakan semoga putri kita bahagia!"
"Ibu ...?" Ibu Eno belum sempat melanjutkan ucapannya, langsung dipotong oleh Eno, "Bu, tolong restui Eno!"
"Baiklah ... Ibu merestui Eno, jika putri Ibu yakin."
Saat orang tua Eno dan Bunda Fatia merencanakan tentang pernikahan Eno. Vefe terus memperhatikan Eno tanpa ragu. Ingin melihat kesungguhan hati wanita yang sangat menyukai suaminya.
Eno masih terus melirik Khan berkali-kali. Tidak memperdulikan jika Vefe selalu menatap tajam ke arahnya. Tidak memperdulikan Vefe yang terlihat cemburu dan tidak suka.
"Apakah Eno boleh bicara empat mata dengan Ve sekarang?"
"Mau ngapain?" tanya Khan jutek.
Vefe langsung mengusap pipi Khan dengan lembut sambil tersenyum. Mengangguk memberikan kode jika semua akan baik-baik saja. Lebih baik dibicarakan dengan berhadapan langsung daripada hanya selalu mendengar dari cerita orang lain.
"Baiklah, ayo Mbak Eno ... Ve juga perlu bicara dengan Anda. Mari ikut Ve ke halaman belakang!"
BERSAMBUNG
__ADS_1
yok mampir di novel teman author yang rekomen banget ini, ada di novel toon juga kok, terima kasih.