
Cemburu yang di tunjukkan Vefe karena Khan duduk berhadapan langsung dengan Eno. Menambah suasana hati Khan semakin menggebu dan bahagia. Cinta yang membara langsung ingin diekspresikan dengan tindakan.
Masih ada tamu yang ingin bertemu dengan kedua mempelai karena waktu masih ada setengah jam lagi. Kapak tomahawk sudah siap berburu dan tidak tahan lagi. Pengantin pria menculik pengantin wanita masuk kamar hotel Pengantin yang sudah di reserversi.
Sampai menjelang senja Khan sudah berburu dua ronde tanpa jeda. Membuat Vefe harus banyak kehilangan tenaga karena harus mengimbangi aksi suaminya. Dalam waktu singkat kapak tomahawk sudah ahli berburu.
"Mau tambah lagi, Sayang?" tanya Khan saat baru saja tumbang merebahkan badannya di samping Vefe pada ronde ke dua.
"Istirahat dulu dong, Mas. Ve sudah habis tenaganya."
"Ve mau makan apa?"
"Terserah Mas Khan saja mau makan apa?"
"Mas hanya ingin makan Ve saja sih."
"Iiiih itu beda, Mas. Dasar mesum."
Sambil tergelak Khan memesan makan menggunakan layanan kamar. Restoran hotel adalah pilihan tepat untuk bisa mengantarkan makanan dengan cepat. Menunggu kurang dari setengah jam menu makan sudah datang diantar oleh dua pramusaji.
Di terima oleh khan di depan pintu kamar hotel saja. Dua pramusaji di larang masuk, karena Vefe masih enggan ke kamar mandi. Saat menunggu pesanan menu makanan datang dihabiskan hanya bercanda dan berbincang saja.
"Ayo bangun dulu, Sayang. Makan yang banyak."
"Mas pesan makan apa?"
Khan mendorong troli meja yang berisi menu lengkap. Nasi, soup ayam. Ikan gurame goreng, ayam goreng, sambal, buah semangga dan jus mangga. Di tambah es krim durian dalam boks khusus agar tdak cepat meleleh.
"Duduklah, Mas yang suapin saja!"
Vefe duduk di pinggir tempat tidur. Disuapi oleh Khan bergantian dengan satu suap untuk Khan satu suap untuk dirinya. Suasana semakin tambah romantis makan satu piring berdua.
Dua malam Khan dan Vefe menginap di hotel menikmati indahnya pengantin baru. Hari ke tiga pulang ke rumah utama yang ada di Surabaya. Berkumpul bersama keluarga menghabiskan waktu family quality time.
"Besok Bunda dan Ayah akan berangkat ke Manhatten bersama El dan keluarga, Khan mau ikut tidak?" tanya Bunda Fatia.
__ADS_1
"Ngapain Mas harus ikut, Bun?" tanya Elya.
"Bulan madu di sana."
Ayah Jose tersenyum dan langsung menyahut, "Kalau ke Manhatten bukan bulan madu, Bun. Itu namanya pulang kampung."
"Naah ... Betul itu kata Ayah, tega banget Khan bulan madu di kampung halaman," jawab Khan dengan mengerucutkan bibirnya.
"Tidak apa-apa, Mas. Ve ingin melihat patung Liberty." Vefe setuju dengan pendapat Bunda Fatia.
"Harusnya minta bulan madu keliling Eropa dong Kak Ve," celetuk Elya.
Vefe hanya tersenyum tidak menjawab ucapan adik iparnya. Baginya seperti mimpi bisa berangkat ke negara adikuasa Amerika Serikat. Hal yang tidak penah di bayangkan sebelumnya bisa sampai ke sana.
"Silahkan saja kalau mau keliling Eropa, pesawat siap mengantar ke mamapun yang Nak Ve inginkan." Ayah Jose menambah usulan Elya yang ingin membuat Vefe bahagia.
"Iya Ayah terima kasih, Ve ikut Mas Khan saja."
"Ve pilih ikut Bunda ke Manhetten atau atau keliling Eropa?" tanya Khan.
"Sayang ... pilih yang mana?" tanya khan kembali.
"Terserah Mas saja, Ve ikut."
Bunda Fatia mendekati Vefe dan memeluknya dari samping, "Putri Bunda tidak perlu sungkan, kita keluarga sekarang apapun yang Nak Ve inginkan ngomong saja sama Khan."
"Iya ... Bun."
Mata Vefe berkaca-kaca mendapatkan kasih sayang dari keluarga Khan. Bukan materi yang Vefe pikirkan. Kebersamaan keluarga, perhatian dan tidak membedakan anak ataupun menantu.
Vefe merasakan pertama kali mendapatkan kasih sayang selain keluarga panti asuhan. Biasanya sebagian keluarga di luar sana sering meremehkan dirinya. Lebih sering dianggap anak yang tidak diinginkan atau anak buangan.
Ketulusan keluarga Khan adalah anugerah yang sangat besar bagi Vefe. Mendapatkan suami yang sangat mencintai. Di tambah kehidupan yang layak, nikmat mana lagi yang akan didustakan saat ini dari yang maha kuasa.
Tanpa terasa linangan air mata menetes di pipi. Bergegas Vefe mengusapnya sebelum keluarga tahu. Tidak ingin mereka tahu dan ikut bersedih atas nasibnya dulu. Cukup buat pengalaman hidup yang yang sangat berharga untuk dijadikan pelajaran.
__ADS_1
Vefe pura-pura kelilipan matanya saat Khan mulai curiga istrinya meneteskan air mata, "Matanya kenapa, Sayang?"
"Tidak tahu, Mas ada binatang yang lewat tadi," jawab Vefe asal.
"Ve terlalu manis sih, binatang saja maunya nempel, apalagi Mas. Sini Mas tiup!" rayu Khan sambil meniup mata Vefe.
Elya yang mendengar rayuan gombalnya Khan tersenyum devil sambil melempar tisu kearahnya, "Sekarang jadi perayu ulang ya!"
Bunda Fatia dan Ayah Jose tersenyum sambil menggelengkan kepala. Merasa bersyukur melihat putranya bisa mencintai seperti yang diharapkan. Hampir putus asa takut tidak bisa tumbuh seperti pemuda pada umumnya.
Keesokan harinya seluruh keluarga terbang menggunakan pesawat pribadi menuju Manhetten New York. Kemarin vefe hanya sekilas melihat isi pesawt pribadi. Sekarang dia lebih detail melihat setiap bagian dan fungsinya.
Ada tempat duduk pesawat, tiga kamar tidur pribadi, mini bar, kamar mandi dan kabin. Khan mengajak langsung masuk ke kamar pribadinya. Kamar yang dua lagi milik Elya dan Milik Ayah Jose dan Bunda Fatia.
"Ini kamar kita, Sayang."
Vefe langsung melihat isi kamar Khan. Ada kamar mandi kecil di pojok, lemari baju, tempat tidur dan meja kecil di samping lemari Semua tertata seperti kamar pada umumnya hanya ukurannya lebih kecil dari kamar yang ada di rumah.
Vefe langsung membuka lemari. Ingin bergati baju dengan baju tidur yang nyaman. Dari pertama berangkat ke Bali, Surabaya dan sekarang Manhetten. Vefe hanya membawa tas slempang saja. Semua sudah di sediakan tanpa harus membeli.
Saat di Bali dan Surabaya semua baju sesuai dengan ukuran dan sebagian besar cocok dengan modelnya. Saat membuka lemari yang ada di pesawat jauh dari seleranya. Vefe heran dan bingung dengan baju tidur yang dia lihat.
"Mas ini baju siapa?"
"Baju isrti Mas dong,"
"Istri Mas Khan siapa?" tanya Vefe.
"Sayang, mengapa tanya istri Mas Khan siapa sih?"
"Ini baju tidurnya kok berbeda yang ada di Bali dan Surabaya?"
"Yang di Bali dan Surabaya yang membeli Nina istri Asisten Satria, jika yang di pesawat dan yang ada di Manhetten itu Elya.
"Mengapa baju tidur tipis seperti saringan tahu begini, daripada memakai baju tidur seperti ini lebih baik tidak pakai sekalian saja!"
__ADS_1
"Eeee ...!