Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 192. Berbeda


__ADS_3

Vefe berdiri terpaku memandangi Bunda Fatia dengan perasaan yang tidak menentu. Masih bingung mau berbalik badan atau tidak. Meminta bantuan Bunda Fatia hanya menggunakan isyarat saja.


Bunda Fatia mendekati Vefe sambil mendorong stroller baby Aaron. Mengusap pundaknya dengan lembut, "Berbalik badan saja, tidak perlu takut," bisik Bunda Fatia di telinga Vefe.


"Tetapi ... Bun, Ve masih takut dia pergi begitu saja seperti kemarin."


"Percayalah dengan Bunda, tidak mungkin ketua anggota dewan itu akan menolak Vefe."


"Baik ... Ve berbalik badan."


Sambil berbalik badan, Vefe membuka kaca mata dan topinya. Wajah yang mirip mendiang istrinya terlihat jelas. Ketua anggota dewan itu terlihat kaget melihat Vefe.


Vefe hanya menundukkan kepala saat ditatap dengan tajam oleh kakeknya, "Ayo pergi dari sini saja, Bun!"


"Tunggu dulu, Nak. Kita lihat apa yang akan dilakukan oleh kakek tua keras kepala itu."


Vefe tidak menjawab ucapan Bunda Fatia. Hanya tersenyum simpul sambil melirik ketua anggota dewan yang masih terlihat bingung dan terpaku.


Ketua anggota dewan melihat sekeliling dengan ragu. Ada banyak masyarakat yang mengambil foto Vefe yang terlihat wajahnya. Seolah mereka mempunyai idola baru.


Dengan ragu ketua anggota dewan berjalan mendekati Vefe dan Bunda Fatia. Diikuti oleh rombongan dan pengawal. Ada juga wartawan yang sedang meliput kegiatan sidak ketua anggota dewan.


Tepat di depan Vefe, Pak Raharjanto mengulurkan tangan kepada Vefe, "Terima kasih telah menyelamatkan saya."

__ADS_1


"Sama-sama, Tuan," jawab Vefe sambil meraih dan mencium punggung tangan ketua anggota Dewan.


Bunda Fatia merasa geram melihat sikap Pak Raharjanto yang seolah tidak mengenalnya. Ingin rasanya memaki orang yang sombong dan tidak patut di contoh.


"Eeee jangan panggil tuan, apakah bisa kita berbincang di restoran itu sebentar?" Pak Raharjanto menunjuk restoran yang ada di samping pintu utama.


Vefe melihat Bunda Fatia yang tadi terlihat marah, "Bagaimana, Bun. Apakah tawarannya kita terima?" tanya Vefe sambil berbisik.


"Tentu saja ... saya juga ingin berbincang dengan Anda mewakili Vefe putriku." Bunda Fatia yang menjawab permintaan Pak Raharjanto.


Sebelum masuk restoran, Pak Raharjanto berbisik kepada pegawai dan pengawal. Mereka langsung bekerja dengan cekatan. Hanya dia dan rombongan yang masuk restoran sedangkan wartawan menunggu di luar.


Saat berada di dalam restoran, pengawal langsung mengajak Bunda Fatia dan Vefe masuk di ruangan private room. Diikuti oleh ketua anggota dewan juga ikut masuk. Rombongan memisahkan diri duduk di restoran untuk umum.


Dalam hati Bunda Fatia ngedumel sendiri melihat wibawa yang biasa diperlihatkan di khalayak ramai terlihat palsu setelah mengenalnya kini. Wajahnya yang datar dan terlihat ada sesuatu yang disembunyikan rapat-rapat persoalan diri.


"Silahkan duduk!" perintah Pak Raharjanto dengan ramah dan tersenyum.


Bunda Fatia dan Vefe saling padang setelah melihat laki-laki tua itu tersenyum. Tadi saat di luar wajahnya terlihat garang dan jutek. Orang pasti akan menilai di laki-laki pemarah dan tidak pernah mendengar nasehat orang lain.


Sangat jauh berbeda wajah Pak Raharjanto saat berada di ruang private room. Tanpa di duga dia langsung menarik Vefe dalam pelukan, "Maafkan Kakek, Cu!"


Vefe tersentak kaget karena tidak menyangka akan dipeluk olehnya. Untungnya tidak ada Khan bersama. Mungkin dia akan marah jika melihat istrinya dipeluk oleh orang lain walaupun itu kakeknya sendiri.

__ADS_1


Bunda Fatia hanya tersenyum kecut karena dari tadi sudah berpikir negatif tentang laki-laki itu. Ternyata hanya menjaga image saja saat di luar. Setelah sendirian dia terlihat ramah dan bersahaja.


"Sekali laki maafkan Kakek, Kakek tidak marah dengan kamu. Kakek hanya masih sakit hati saja saat mengingat masa lalu."


Vefe hanya menjawab mengangguk sambil tersenyum. Namun hatinya masih bingung memikirkan perubahan sikap yang di tunjukkan olehnya. Dari awal sudah menerima dan pasrah jika tidak diakui.


"Maafkan Kakek tentang peristiwa saat ulang tahun kemarin. Setelah kemarin tante kamu Darwati bercerita bertemu kalian, Kakek menyadari tentang posisi kalian. Hanya Kakek tidak punya nyali untuk ikut berkunjung kemarin."


"Nyonya ... Terima kasih telah menyayangi cucu saya. Untuk sementara tolong rahasiakan tentang identitas cucu saya ya!"


"Ha ...!"


BERSAMBUNG


Yok mampir di sebelah punya author sendiri lo


Pakar Cinta Terkena Karma


Abelino Abraham laki-laki tiga puluh tahun petualang cinta ulung. Bersama dua sahabatnya selalu bisa menaklukkan setiap wanita yang dirayu. Selalu berakhir di ranjang dan bergulat menikmati indahnya surga dunia.


Suatu saat Abel salah sasaran memberikan obat yang biasa dipakai jika susah menaklukkan wanita. Yang awal tujuannya untuk putri pengusaha besar. Yang meminum temannya gadis berhijab bernama Aisyah Mustafa.


Setelah kejadian satu malam itu. Ais tidak bisa menuntut tanggung jawab karena Abel mengatakan melakukan suka sama suka. Ais harus menanggung aib memiliki putra tanpa pendamping.

__ADS_1


Lima tahun berlalu, Mereka bertemu saat Abel di vonis tidak bisa memiliki keturunan karena kecelakaan. Mulai jatuh cinta dan mengejar cinta Ais. Bagaimana perjuangan dia dan apakah Ais menerima cinta Abel?


__ADS_2