Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 114. Buah Tangan dari Kalimantan


__ADS_3

Emosi Khan mulai terlihat saat mendengar nama Bahar. Dia langsung teringat laki-laki bermata jelalatan putra Pak Misbah. Berarti dia keponakan dari Kak Mur yang sebentar lagi akan menikah dengan Aan.


"Ini anak mau cari masalah ya!"


Khan berniat meninggalkan Bunda Fatia yang ada didepannya. Emosinya dengan cepat meninggi hanya karena mendengar nama laki-laki yang pernah menggoda istrinya. Tidak memperdulikan Bunda Fatia yang masih berdiri dan ada juga Pak Umar yang belum selesai memberikan laporan.


"Khan ... Tunggu jangan emosi, Pak Umar belum selesai memberikan laporan!" teriak Bunda Fatia.


Khan menghentikan langkahnya dan menghadap Pak Umar. Pak Umar tersenyum sambil mengangguk. Ingin melanjutkan laporan sekalian meredakan emosinya.


"Lanjutkan laporan, Pak Umar!" perintah Khan


"Dia ke sini bertujuan mengantar bingkisan satu kardus perintah dari orang tuanya. Kata dia tanda terima kasih sudah mencarikan jodoh untuk Acilnya.


"Acil apa itu?" tanya Khan.


Bunda Fatia tersenyum dengan bahasa Banjar yang sering di ucapkan oleh Bu Maya, Acil itu bahasa Banjar yang artinya bibi atau tante."


"Berati benar dia si kampret putranya Pak Misbah." Khan ingin meninggalkan Bunda Fatia dan Pak Umar.


"Tuan ... Saya belum selesai bercerita!" teriak Pak Umar.


"Cerita apa lagi sih, Pak. Khan ingin mensleding pemuda kampret kurang ajar itu!"


"Dia iseng saja ingin melamar menjadi sopir setelah bertanya kepada Pak Bowo jika tidak ada sopir di rumah ini, Pak Bowo menganggap serius lamarannya."


"Memang benar-benar minta di sleding!" Khan semakin emosi dan kesal.


Baru melangkah tiga langkah dan diikuti oleh Pak Umar dan Bunda Fatia. Ada suara jeritan Vefe dari belakang rumah dekat kolam renang, "Aaaah ... Mas Khan!"


Khan tersentak kaget dan langsung berbalik arah, "Bunda, Mengapa Ve berteriak?"


"Ayo kita ke belakang!" Bunda Fatia langsung ikut berteriak dan mengikuti Khan dan diikuti juga oleh Pak Umar.


Sampai di samping kolam renang melihat Vefe sudah naik kursi malas. Dengan berdiri tegak dan merentangkan tangannya untuk keseimbangan. Kursi itu tetap bergerak tetapi Vefe tidak jatuh karena dia bisa menyeimbangkan badannya.


Khan langsung berlari takut istrinya terjatuh dari kursi malas yang terus bergerak, "Sayang, apa yang Ve lakukan? Awas jatuh!" teriaknya.


"Ve tidak akan jatuh, tetapi jauhkan ulat bulu itu dari kursinya cepetan Ve geli!" teriak vefe masih terus menyeimbangkan badannya agar tidak terjatuh.

__ADS_1


Bunda Fatia hanya nyengir kuda melihat menantunya. Dikiranya akan berakrobat dengan keseimbangan badan. Ternyata geli dengan ulat bulu yang sangat kecil besarnya tidak lebih dari kelingking tangan saja.


"Khan ... Bunda yang menangani putranya Pak Misbah, kamu urusin istrimu yang geli dengan ulat bulu!" teriak Bunda Fatia dan berlari ke halaman rumah.


Khan hanya sangat menghawatirkan kursi goyang yang terus bergerak. Vefe terus saja bergerak dan menyeimbangkan badannya sambil berteriak, "Mas ... Cepat keburu dia merayap di kaki Ve!"


Khan langsung memegang ulat bulu yang sangat kecil. Jika dibandingkan dengan kelingking Khan tidak ada separoh ukurannya.


"Sayang ulet bulu cuma seupil gini mengapa sangat takut?" tanya Khan sambil menunjukkan ulat itu ke arahnya.


"Aaaah ampun Mas, jauhkan itu dari Ve, cepat cuci tangan!"


Khan langsung membuang ulat bulu ke pohon yang ada di dekat pagar. Mencuci tangan di keran yang letaknya tidak jauh dari pohon. Dan mendekali kursi malas yang dinaiki Vefe.


"Ayo turun, Sayang jangan di situ terus, nanti jatuh!"


"Ulatnya sudah tidak ada, Apakah Mas sudah cuci tangan?"


"Sudah tidak ada, ayo turun, Sayang!"


"Ve masih geli, Mas. Gendong ya," jawabnya dengan manja.


"Eeee tidak mau nanti, Mas mengajak berburu lagi di sini!"


Khan tergelak sambil membuka tangannya akan menggendong Ve dari depan, "Ayo turun!"


"Ve maunya gendong belakang, mau digendong sampai masuk rumah, takut ulatnya ngikutin Ve, ayo cepat balik badan!"


"Baiklah ayo!"


Khan menggendong Vefe dari belakang. Tangan Vefe melingkar di leher Khan. Sambil tergelak mereka berjalan menuju rumah.


"Ve harus tanggung jawab ya, kapak tomahawk Mas sudah terbangun nich, Mas gendong sampai kamar tetapi Mas akan langsung berburu."


"Ini belum sore, Mas. Ogah Ve mau turun di dapur saja."


Mereka berjalan sambil tertawa dan bercanda. Vefe tetap di gendong Khan di belakang pungngunnya. Bunda Fatia datang berlari mendengar putra dan menantunya tertawa riang berlajan mendekati pintu dapur.


"Mengapa malah gendong-gendongan begitu?" tanya Bunda Fatia heran.

__ADS_1


"Mas sudah ... Ve mau turun!" teriak Vefe sambil meronta ingin turun.


"Ve geli sama ulat segede upil, Bun. tadi dia tidak mau turun ke tanah," jawab Khan sambil berjalan masuk rumah.


"Kalian ini kayak anak kecil saja," kata Bunda Fatia sambil menggelengkan kepala.


"Bagaimana si Kampret itu sudah pulang?" tanya Khan.


"Si Kampret itu siapa, Mas? Turunkan Ve dong, Mas!"


Sampai di dekat meja makan, Khan menurunkan Vefe untuk duduk di kursi meja makan, "Lumayan capek juga ya, Gendong Ve, sekarang istri Mas bohay sih!"


Vefe langsung mencapit perut Khan dengan kesal, "Mas bilang sekarang Ve gedut, begitu?"


"Aaauw ... Mas tidak bilang Ve gendut, Ve itu seksi," goda Khan sambil mentowel hidung Vefe.


Bunda Fatia bergabung duduk dengan Khan dan Vefe. Bunda bercerita jika Bahar hanya iseng melamar sebagai sopir di rumah Khan. Dia datang memberikan buah tangan dari Kalimantan.


Pak Misbah dan Bu Maya belum sempat mampir. Mereka sibuk membatu adiknya yang akan segera menikah lima hari lagi. Bahar diperintahkan untuk memberikan oleh-oleh Khas Kalimantan.


"Makanan khas Kalimantan apa saja, Bun?" tanya Vefe penasaran.


"Ada banyak, tunggu sebentar masih dimasukkan toples oleh Pak Gun dan Mpok Ria."


Pak Gun dan Mpok Ria datang membawa tiga toples. Berisi Ampang ikan haruan, Peyek kepiting dan abon kepinting, "Ini silahkan dicicipi!"


"Terima kasih, Pak Gun." Vefe juga memberikah tanda isyarat kata terima kasih kepada Mpok Ria.


Vefe mencoba satu persatu oleh-oleh dari Kalimantan. Amplang dari bahan ikan haruan yang menjadi perhatiannya. Vefe mencoba berkali-kali amplangnya, rasanya gurih dan renyah.


Hanya saja Vefe sampai mengerutkan keningnya karena baru kali ini mengetahui ikan dengan nama ikan haruan. Amplang itu sangat terasa ikannya, tetapi tidak bisa merasakan rasa ikan yang sangat gurih.


"Bunda, apa itu ikan haruan, Ve mau langsung ingin makan ikannya. Gurih sekali amplang ini?" tanya Vefe.


"Waduh apakah kita harus ke Kalimantan untuk mecari ikan haruan, Bun. Si bayi ngidam ingin makan ikan haruan?"


Bunda Fatia mengerutkan keningnya, dulu pernah diceritakan nama lain ikan haruan tetapi lupa, "Sebentar Bunda lupa, ikan apa ya?"


"Tanya Euthor Muda Anna saja, Bun. Pasti dia tahu!" kata Vefe.

__ADS_1


__ADS_2