Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 15. Curiga


__ADS_3

Vefe bingung dan kesal, dicurigai, tidak dipercaya bahkan dituduh mencuri. Mau menjelaskan tetapi tidak punya bukti. Bertemu dengan pemilik kartu juga baru sekali.


Mereka semakin curiga karena Vefe tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pegawai loket. Banyak juga para pengunjung rumah sakit yang memandang sebelah mata. Laki-laki yang bersama pegawai loket semakin naik pitam.


"Sekali lagi saya bertanya dari mana kamu mendapatkan kartu berobat ini?"


Lidah Vefe seolah kelu tidak bisa menjawab pertanyaan Laki-laki itu.Antara bingung dan sedih tuduhan dan kecurangan yang mereka lakukan. Menambah suasana semakin menegangkan.


Yang awalnya Umi Maryam bersemangat ingin sembuh. Setelah melihat Vefe di curigai semangat Umi Maryam kembali meredup. Masih memperhatikan mereka dari kejauhan sambil berpikir langkah selanjutnya.


"Tolong ya Mbak, kalau tidak punya uang jangan sok berobat di rumah sakit yang elit ya!" teriak pegawai loket itu semakin naik pitam.


"Bu ... Pak, jangan menghina orang miskin ya. Kalau memang Anda tidak percaya silahkan hubungi yang punya kartu itu!" Vefe ikut emosi.


Umi Maryam mendatangi loket karena mendengar Vefe yang berbicara dengan keras dan emosi. Mengusap pundak Vefe agar bisa mengontrol ucapannya. Tersenyum kepada dua orang yang ada di depannya.


"Pak ... Bu, jika Anda tidak percaya dengan kartu yang kami bawa, silahkan Anda kembalikan kepada pemilik kartu itu, tetapi jangan menghina kami seperti itu. Kami memang orang miskin tetapi kami tidak pernah mengambil rezeki yang bukan milik kami. Permisi... ayo kita pulang saja, Ve!"

__ADS_1


Umi Maryam langsung menarik tangan Vefe, emosinya juga ikut tersulut saat pegawai loket menghina orang miskin. "Tetapi Umi, kartu berobat milik Mas Khan masih ...!"


Vefe tidak lagi melanjutkan ucapannya. Dia terus saja menengok kearah loket walau tangan di tarik oleh Umi Maryam. Vefe merasa bertanggung jawab untuk mengembalikan kartu itu kepada Khan.


"Jangan khawatir, Nak. Pasti kartu itu akan kembali kepada pemiliknya."


Umi Maryam terus menarik tangan Vefe sampai di depan lobi rumah sakit. Vefe masih saja melihat ke belakang kearah loket pendaftaran. Hatinya tidak rela jika meninggalkan kartu berobat itu karena merupakan tanggung jawabnya.


Ada panggilan terdengar dengan keras memanggil nama Umi Maryam. Disertai suara sepatu yang menggema di ruangan, "Ibu Maryam tunggu dulu!" teriak laki-laki tua berperut buncit.


Umi Maryam dan Vefe menghentikan langkah dan berbalik badan, "Bapak memanggil saya?"


"Ada apa, Pak. Apakah Anda juga akan menghina kami orang miskin?"


"Tidak Bu, sekali lagi maafkan kami. Maafkan kami yang memperlakukan Anda dengan tidak sopan."


"Mari ikut saya, Bu!"

__ADS_1


Umi Maryam dan Vefe mengikuti langkah panjang Pak Bandi menuju loket. Dia langsung menggebrak meja loket dengan keras, "Cepat kamu minta maaf!"


"Pak Ban, apa salah saya?" tanya Wanita perjaga loket.


"Kamu tadi mengatakan pada gadis itu pencuri dan miskin, apakah itu bukan kesalahan?"


"Tetapi Pak, itu memang kenyataan!" teriak wanita itu membela diri.


"Kamu masih pembantah, panggil atasanmu sekarang, atau kamu aku pecat sekarang?"


"Baik Pak."


Umi Maryam dan Vefe hanya memandangi perdebatan antara Pak Bandi dan pegawai loket. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya berdiri di belakang Pak Bandi.


Dua orang yang keluar dari loket pendaftaran berlari mendekati atasannya melewati pintu samping, "Anda memanggil kami, Pak!"


Mata dua pegawai Pak Bandi langsung terbelalak saat melihat ada seorang laki-laki yang berdiri di belakang Vefe.Tangannya di lipat di depan perut dengan wajah datar.

__ADS_1


"Maafkan kami, Nona!" kata mereka bersamaan sambil membungkukkan badan.


__ADS_2