Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 75. Kepercayaan Elya


__ADS_3

Vefe hampir sepuluh hari jarang keluar dari kamarnya. Dia hanya akan keluar jika ada keperluan yang mendesak saja. Jarang berbincang dengan adik-adiknya dan jarang menemui orang yang berniat bertemu dengannya.


Pekerjaan hanya dilakukan di kamar melalui online saja. Tidak mengajar di perguruan silat dengan izin sedang sakit. Setiap hari hanya termenung dan menyendiri.


Setiap hari hanya mendengar kekasih hati datang berkunjung. Dia hanya mendengar suaranya saja tanpa melihat wajahnya. Masih merasa sakit hati, rendah diri dan merasa di bohongi.


Umi Maryam sudah memberikan penjelasan pelan-pelan tentang cerita yang kemarin di dengar dari Khan. Vefe masih tetap dalam pendiriannya untuk tetap mundur. Dia memberikan kesempatan untuk wanita yang bernama ENo.


Vefe merasa bersalah berada diantara Eno dan Khan. Perkataan Eno sangat membekas di hati Vefe. Menuduh Vefelah yang menyebabkan hubungan mereka renggang.


Setiap Khan datang, Vefe selalu menangis sendiri dalam kamar. Rasa rindu di hati hanya dipendamnya sendiri. Tidak beranjak dari kamarnya saat dia datang, telinganya hanya dipasang lebar-lebar mendengarkan suaranya untuk pengobat rindu.


Setiap hari tidak hanya Khan yang ingin bertemu dengan Vefe. Erina dan Daniel juga ingin bertemu dengannya. Sayangnya baru Erina yang sesekali di terima, itupun hanya berbicara tentang pekerjaan.


Malam ini Umi Maryam kembali duduk di samping Vefe yang duduk termenung di dekat jendela. Setelah Khan tiga hari tidak berjunjung ke panti asuhan Umi Maryam sangat khawatir, "Ve ... Sampai kapan kamu seperti ini, Nak?"


"Ve juga tidak tahu, Umi."


"Nak ... Jujurlah pada hatimu. Kalau memang Ve sudah tidak mencintai Nak Khan lagi, temui dia. Berpisahlah dengan baik-baik karena dulu saat kalian menjalin hubungan juga dengan cara baik."


Vefe termenung sambil menatap luar jendela yang terlihat temaram. Seperti masa depannya yang tidak terlihat jelas. Dalam hati masih sangat mencintai kekasih hati.


"Ve masih sangat mencita Mas Khan, Umi."


"Kalau begitu temui dia katakan yang sejujurnya apa yang ada di hatimu, Nak!"


"Bukankah cinta tidak harus memiliki, Umi?"


"Kalau tidak mau berjuang itu namanya menyerah sebelum berperang dong, Nak."


Di hati Vefe saat ini sangat merindukannya karena sudah tiga hari tidak mendengar suaranya. Mendengar suara Asisten Satria yang mengatakan kekasih hati sedang sakit. Ada rasa cemas, khawatir dan rindu campur menjadi satu.


"Nak Khan sudah tiga hari ini sakit, akapah Ve tidak khawatir?"


"Khawatir banget, Umi. Tetapi ...?" Vefe tidak melanjutkan ucapannya. Masih bimbang dan ragu untuk mengambil keputusan.


"Umi hanya bisa menasehati saja, jangan sampai Ve menyesal suatu saat nanti jika terjadi sesuatu dengan Nak Khan."


"Maksud Umi apa?"


"Berpikirlah sekali lagi dengan keputusan Ve. Umur, jodoh, maut, pertemuan dan perpisahan itu rahasia Ilahi Robbi. Jangan sampai Vefe menyesal jika terjadi sesuatu dengan Nak Khan."

__ADS_1


"Eee Umi, Ve jadi berpikir jelek."


"Coba renungkan sekali lagi, sana istirahat sudah malam!"


"Iya terima kasih, Umi."


Pukul enam pagi pesawat pribadi yang ditumpangi Elya bersama putrinya Freya mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Mereka hanya berhenti di restoran untuk sarapan pagi dan sekedar beristirahat. Melanjutkan perjalanan langsung ke supermarket untuk belanja sembako.


Menggunakan mobil yang sudah dipersiapkan oleh Asisten Satria di bandara. Elya dan Freya langsung melajukan mobilnya ke panti asuhan. Semua sembako yang di perlukan sudah masuk di mobil tanpa terkecuali.


Menggunakan goegle map, Elya dengan mudah menemukan alamat panti asuhan Bunda. Dia langsung memarkirkan mobilnya di halaman panti, "Assalamualaikum." ucap Elya setelah mengetuk pintu.


"Walaikum salam, Silahkan masuk, Nak!" Umi Maryam langsung menyambut kedatangan Elya.


"Terima kasih, perkenalkan saya El dan dia putri saya bernama Freya."


Elya mencium punggung tangan Umi Maryam sebagai tanda hormat. Diikuti Freya melakukan seperti Mommynya. Umi Maryam mengusap pipi Freya dengan lembut.


"Cantik sekali si Cantik Freya., panggil saya Umi Maryam. Ada yang bisa saya bantu?"


"Umi saya membawa sembako untuk panti asuhan ini, tetapi sekarang masih ada di dalam mobil."


"Alhamdulillah, terima kasih, Nak. Sebentar Umi panggilkan anak-anak dan Mpok Ria."


Mengapa belum ada tanda tanganya, Kak?" tanya Elya kepadaMpok Ria.


Mpok Ria memberikan isyarat dengan tangan melambai dan mulut yang berucap. Elya tidak mengerti isyarat yang dilakukna oleh Mpok Ria. Umi Maryam langsung menterjemahkan maksud Mpok Ria, "Kata Mpok Ria. Pimpinan panti asuhan masih di kamar."


"Ooo maaf El kurang faham dengan bahasa isyarat."


Mpok Ria tersenyum dan mengangguk dan mengisyaratkan kata tidak apa-apa. Mpok Ria memilih memeluk Elya sebagai tanda terima kasih dan mencium pipi Freya. Elya menyambut pelukan ramah Mpok ria dengan senang hati.


"Apakah pimpinan yayasan juga tinggal di sini, Umi?"


"Iya ... Nak, dia putri angkat Umi Dan Mpok Ria."


"Berarti masih muda ya, Umi. Boleh El berkenalan dengan dia?"


"Tentu saja, Nak. Mari Umi antar ke kamarnya!"


Umi Maryam mengantar Elya ke kamar Vefe. Freya diajak bertemu anak panti yang masih balita oleh Mpok Ria. Mmengajak Freya untuk bermain dengan anak-anak.

__ADS_1


"Ve ... Apakah Umi boleh masuk?"


"Silahkan masuk Umi!"


Elya melihat Vefe sedang duduk di kursi konsentrasi menghitung menggunakan kalkulator dan buku catatan. Ponsel Vefe terlihat masih aktif menunjukkan suatu pekerjaan. Dia hanya memakai celana tiga perempat dan kaos sederhana berlengan pendek.


Vefe langsung berdiri saat Umi Maryam mengajak seorang wanita berpenmapilan sederhana tetapi terlihat anggundan elegan, "Ada apa, Umi?"


"Umi mau memperkenalkan Nak El, dia baru saja menyumbang sembako untuk panti."


"Assalamualaikum Kak El, nama saya Vefe." Vefe mengulurkan tangannya kepada Elya.


"Walaikum salam, Ka Vefe."


"Panggil Ve saja, Kak."


Elya tersenyum sambil memandangi wajah Vefe yang terlihat pucat. Matanya terlihat sayu dan cekung kurang tidur. Mendekati meja ada banyak catatan dan ada buku laporan keuangan yang berserakan di meja.


"Ini Kak Ve bekerja dari rumah saja?" tanya Elya.


Vefe hanya tersenyum dan mengangguk, "Silahkan duduk, Kak!"


"Iya terima kasih, boleh El berbincang sebentar tentang yayasan?"


"Ooo tentu saja."


Umi Maryam mengusap pundak Vefe sambil tersenyum, "Umi tinggal ke dapur ya, Ve. Silahkan berbincang!"


"Iya Umi, terima kasih," jawab Vefe duduk berhadapan dengan Elya.


"Kak Ve, El mau meminta pertanggung jawaban Kakak?"


"Maksudnya ...Ve tidak faham, Kak?"


"El pernah menitipkan gantungan kunci berbentuk Patung Liberty, itu tandanya El memberikan kepercayaan kepada Kak Ve tentang Mas Khan."


"Hah ... Anda Mbak Elya ...?"


BERSAMBUNG


Jangan lupa mampir ya shobat Anna di novel teman yang rekomen banget ini, ada di Novel Toon juga lo sambil menunggu KKJ up lagi

__ADS_1



__ADS_2