
Vefe berlari ke luar rumah setelah yakin jika mobil yang datang adalah mobil suaminya. Tidak ingin ada salah faham antara Umi Maryam dan Kakek Raharjanto. Vefe tidak ingin memihak salah satu diantaranya, tidak mendukung ataupun menolak keinginan antara ibu angkat ataupun kakek.
"Ada yang ketinggalan Pi?"
"Iya berkas Papi tertinggal di garasi, tadi Papi letakkan di atas kap mobil Mami."
"Kok bisa?"
"Jawabnya nanti ya ... Papi buru-buru nich!"
"Papi mutar mobil aja, Mami yang ambil!"
Vefe berlari berbalik badan tanpa menunggu jawaban Khan. Hanya melirik sesaat Kakek Raharjanto yang masih duduk di mobil. Sudah bisa menduga pasti kakek enggan turun dari mobil karena hanya sebentar.
Vefe berlari sambil tersenyum. Semua akan aman jika situasinya seperti ini. Tidak perlu bercerita ataupun tidak perlu berbohong semua aman tanpa ada masalah.
Jika nanti saat pulang dan kakek tahu atau bertanya bisa menggunakan alasan yang tepat. Tidak ada waktu bercerita. Atau karena meeting Khan akan segera dimulai.
Vefe berlari sekuat tenaga setelah berhasil mengambil dokumen yang tertinggal. Mobil Khan sudah berada posisi berangkat. Mesin mobil juga sudah dalam keadaan menyala.
"Ini dokumennya, Pi."
"Terima kasih ... Papi langsung berangkat, I love you, Mami!"
"Love you too, Papi. Hati-hati!"
Suara salam kakek dan suaminya sudah tidak terdengar karena mobil langsung melesat meninggalkan rumah, "Walaikum salam!" teriak Vefe sambil tergelak.
Vefe masuk rumah sambil tersenyum. Mengusap dada sambil bermonolog sendiri, "Aman Alhamdulillah."
Umi Maryam dan Bunda Fatia turun tangga sambil menggendong baby Aaron. Melihat Vefe berbicara sendiri padahal tidak ada orang. Mpok Ria dan Pak Gun sedang berbincang di belakang rumah dengan para bibi.
"Apanya yang aman, Nak?" tanya Umi Maryam.
"Anu Umi ...!"
Vefe belum sempat menjawab pertanyaan Umi Maryam. Celotehan baby Aaron mengalihkan perhatian. Sehingga mereka lupa dan fokus pada ucapan baby Aaron yang susah di mengerti.
"Eleh-eleh Sayang, laporan ya, minta gendong Mami ya?"
Kembali baby Aaron berceloteh bahasa planet. Berpindah tangan dari gendongan Bunda Fatia ke Vefe, "Iya Nak ... Aaron sudah ganteng mandi sama dua Oma cantik."
Dengan adanya celotehan Aaron, Vefe sengaja tidak bercerita tentang kakek dan Khan yang kembali. Bukan bertujuan untuk menutupi, tetapi lebih memilih membiarkan berjalan apa adanya tanpa memihak salah satu.
Pukul sepuluh pagi, Umi Maryam berangkat mendampingi Mpok Ria ke rumah sakit bersama Pak Gun. Pemeriksaan dokter pada Mpok Ria lebih teliti dibanding dengan pemeriksaan ibu hamil yang lain. Mereka di rumah sakit sampai jam istirahat belum selesai.
Khan dan Kakek Raharjanto mampir ke panti asuhan hanya bertemu dengan Bibi Kudri dan beberapa anak panti asuhan yang baru pulang sekolah. Mereka langsung menyambut Khan dan Kakek Rahajanto dengan mencium punggung tangan bergantiaan, "Mas Khan dan Kakek mencari Umi?" tanya Bibi Kudri.
__ADS_1
"Iya di mana Umi, Bi?"
"Umi ke rumah sakit."
"Apakah Umi sakit?" tanya Kakek Raharjanto dengan khawatir.
"Tidak juga sih, Umi baik-baik saja, tetapi tidak cerita mau ngapain ke rumah sakit biasanya hanya cek rutin."
"Jam berapa Umi berangkat, Bibi?" tanya Khan.
"Dari tadi pagi jam delapan, Mas."
Khan spontan melihat jam yang melingkar di tangan. Saat ini sudah hampir pukul satu siang. Jika hanya cek rutin tidak mungkin akan selama ini di rumah sakit.
"Kok lama banget, Nak Khan?" tanya Kakek Raharjanto tambah Khawatir.
"Iya ya, kok lama banget sih, Bibi tahu setelah ke rumah sakit Umi mau ke mana?"
"Tidak tahu, Mas. Umi tidak cerita."
Khan bergegas mengambil ponsel yang ada dibalik jas . Menghubungi Umi Maryam dengan sambungan telepon langsung. Hanya sayangnya suara operator yang menjawabnya.
"Tidak aktif ponselnya, Kek."
"Waduh ... bagaimana kalau kita menyusul ke rumah sakit saja?"
"Baik cepat hubungi dia."
Khan menghubungi Dokter Dino dengan menggunakan ponsel. Dengan cepat ponsel diangkat olehnya. Khan menanyakan tentang keberadaan Umi Maryam.
Dokter Dino bertugas di rumah sakit dari pagi sampai sore hari. Hanya sayangnya Hari ini tidak ada daftar Umi maryam datang untuk cek rutin ke rumah sakit. Jadwal Umi Maryam biasanya pertengahan bulan. Sedangkan sekarang ini baru awal bulan.
"Umi tidak ada di rumah sakit, Kek," kata Khan setelah menekan tombol merah ponselnya.
Kakek Raharjanto semakin khawatir, bingung dan cemas. Pikiran mulai ngelantur memikirkan hal yang tidak diinginkan. Takut terjadi apa-apa dengan Umi Maryam di perjalanan.
"Jadi bagaimana ini, Nak?"
"Kakek duduk aja, Khan mau mencoba menghubungi Umi sekali lagi!"
"Silahkan duduk Mas Khan juga, Bibi buatkan kopi." Bibi Kudri berlari menuju dapur.
"Iya terima kasih, Bi."
Khan lebih dari tiga kali menghubungi Umi Maryam. Namun selalu operator yang menjawab panggilan ponsel. Tidak aktif dan di luar jangkauan jawabannya.
"Bagaimana, Nak?"
__ADS_1
"Maaf ... Kakek, ponsel Umi tetap tidak bisa dihubungi."
Khan menjadi bingung saat melihat Kakek Raharjanto terlihat bingung dan khawatir. Seperti ada dipersimpangan saat ini. Tadi Asisten Satria berpesan satu jam lagi akan ada tamu datang untuk bekerja sama.
"Khan harus kembali ke kantor lagi, Kek. Jadi bagaimana?"
"Ya sudah ... Nak Khan ke kantor, Kakek ikut dan turun di rumah sakit saja."
"Kakek mau mencari Umi di rumah sakit?"
"Iya ...."
"Eeee jangan dong, Kek!"
"Kenapa?"
Khan kembali melihat jam yang ada di pergelangan tangan. Waktu sudah mepet harus kembali ke kantor. Tidak mungkin tega meninggalkan Kakek Raharjanto sendiri mencari Umi Maryam.
"Jangan mencari Umi sendiri, Kek. Khan tidak mungkin tega dong!"
Bibi Kudri datang membawa dua kopi dan diletakkan di meja, "Ini kopinya, silahkan di minum!"
"Terima kasih," jawab Kakek Raharjanto.
Khan tersenyum saat melihat Bibi Kudri. Ide tiba-tiba muncul di pikirannya. Akan lebih aman jika Kakek Mencari Umi Maryam ditemani Bibi Kudri.
"Bagaimana kalau Kakek mencari Umi ditemani Bibi Kudri?" tanya Khan.
Kakek Raharjanto langsung melihat Bibi Kudri yang tersenyum. Melihat penampilan bibi yang hanya memakai daster kusam. Rambutnya diikat keatas dan tidak beraturan.
"Tidak perlu, Kakek sendiri saja."
"Jangan sendirian, Kakek. Nanti kalau tidak bertemu dengan Umi, bagaimana?"
Kakek Raharjanto terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Khan. Mobil saat ini berada di rumah Khan. Mungkin akan lebih leluasa jika mencari menggunakan mobil sendiri.
"Antar Kakek pulang saja lah, Kakek mau ambil mobil di sana!"
Khan tersenyum dan mendapatkan ide baru lagi. Lebih baik Kakek Raharjanto ditemani Vefe atau Pak Gun. Akan lebih aman dan tenang jika kakek ada yang menemani.
"Baiklah ... kita pulang saja, nanti maminya Aaron atau Pak Gun yang menemani Kakek. Ayo kita pulang!"
BERSAMBUNG
jangan lupa mampir ke novel teman author yang rekomen banget ini ya, di novel toon juga kok, terima kasih.
__ADS_1