Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 37. Undangan Kafe Baru


__ADS_3

Khan menghentikan langkahnya padahal jarak hanya satu langkah lagi akan mencium kening Vefe. Bahkan badannya sudah menunduk saat berhadapan dengannya. Dia hanya tersenyum sambil membayangkan dirinya menjadi Ayah Jose.


"Maaf Ve, Mas hilang keseimbangan," jawabnya asal.


"Ooo kirain ...?"


Khan tergelak lagi karena ternyata Vefe bisa membaca apa yang akan dilakukan tadi, "Mas pamit ya. Jangan lupa istirahat dan semoga menjadi juara."


"Aamiin!" Dengan kompak Vefe, Gi dan Ji menjawab.


Dalam perjalanan menuju hanggar helikopter, Khan baru menghubungi Bunda Fatia. Meminta maaf tadi tidak sempat mengangkat panggilan ponsel dari Beliau. Menanyakan selain kesehatan keluarga di USA, juga menanyakan ada keperluan apa tadi menghubungi.


Bunda Fatia bercerita bahwa hampir sepuluh kali Eno menghubungi. Dia marah besar karena di pindah tugaskan ke Sulawesi selama tiga bulan. Harus tetap tugas di sana karena surat keputusan dengan tandatangan Eno sendiri.


Khan tertawa terbahak-bahak saat Bunda bercerita Eno merasa di jebak. Eno tidak membaca SK dengan teliti. Tidak menyangka harus menjalankan tugas secara paksa.


Eno tidak berkutik setelah Bunda Fatia menyalahkan Eno tentang postingan masalah gedung. Bunda Fatia juga mengancam akan memecatnya jika tidak menjalankan perjanjian selama tiga bulan. Akhirnya Eno pasrah dan menjalankan pekerjaan sesuai perjanjian.


Sebelum pulang Khan membeli oleh-oleh untuk Umi Maryam dan penghuni panti. Terutama pesanan Vefe yang diurungkan tadi yaitu lele crispy. Khan tetap membelinya bahkan dalam jumlah banyak.


Malam ini Khan pulang ke Jakarta kembali tanpa mampir di rumah yang ada di Surabaya. Harus mengerjakan pekerjaan yang menupuk agar Sabtu sore bisa kembali ke Surabaya. Bahkan tiket pulang dari Surabaya ke Jakarta bareng dengan Vefe sudah di tangan.

__ADS_1


Setelah sampai di hanggar helikopter PT KURNIA di lantai paling atas. Khan langsung menuju panti asuhan Bunda. Mengantar oleh-oleh yang di belinya sesaat setelah mengantar Vefe tadi.


Sampai panti asuhan baru pukul sembilan malam, "Assalamualaikum ...!"


"Walaikum salam, Nak Khan silahkan masuk," jawab Umi Maryam.


"Umi, ini oleh-oleh Khan dari Surabaya."


"Kapan Nak Khan ke Surabaya?"


"Tadi pagi, Umi. Khan juga bertemu Ve, Gi dan Ji di sana."


"Oya, tadi Vefe juga bercerita kalau Nak Khan mengunjungi mereka. Terima kasih oleh-olehnya."


Khan hanya berbincang sebentar dengan Umi Maryam. Khan mendapatkan notifikasi pesan WA dari Asisten Satria. Tulisan pesan itu tentang Sania Parwati.


Asiten Satria sudah menunggu di rumah Khan, saat dia sampai rumah, "Ada hal penting apa, Satria?" tanya Khan yang baru saja masuk rumah.


Pak Gun langsung menyambut dengan coklat hangat seperti biasa, "Silahkan minum dulu, Tuan!"


"Terima kasih, Pak Gun." Khan langsung meminumnya sampai habis tanpa sisa.

__ADS_1


"Ini tentang Nona Sania, Tuan." Asisten Satria menyodorkan brosur promo dan undangan untuk pembukaan kafe kepada Khan.


"Apa ini?" tanya Khan dengan cepat.


"Silahkan Anda baca terlebih dahulu, Tuan."


Ada brosur promo menu makanan di sebuah kafe baru di dekat perusahaan PT KURNIA. Ada diskon yang menarik yang akan di lakukan saat pembukaan kafe itu hari Minggu besok. Sebagian besar menu makanan khas Sunda yang sudah di modifikasi menjadi lebih modern.


Ada juga keterangan kafe yang berkonsep minimalis tetapi modern. Cocok untuk kawula muda berkumpul atau hanya sekedar nongkrong. Dengan fasilitas yang sangat lengkap untuk para pekerja yang ingin melepaskan penat.


"ini Maksudnya apa, Satria?"


"Itu undangan khusus untuk Anda hari Minggu besok, Tuan."


"Ooo undangan pembukaan kafe baru."


"Benar sekali, Tuan."


"Undangan untukku, apakah aku mengenal pemilik kafe ini?"


"Pemilik kafe baru itu Nona Sania Parwati."

__ADS_1


"Apa si Minyak Goreng itu membuka cabang di Jakarta?"


__ADS_2