
Selama satu bulan ini secara rutin seminggu dua kali Kak Mur datang ke perusahaan. Beralasan bisnis selalu ingin bertemu dengan Khan. Khan hanya menanggapi saat membicarakan bisnis.
Khan akan menghindari berbincang dengan Kak Mur selain bisnis. Semua di serahkan kepada Asisten Satria. Terkadang dia lebih memilih bekerja online saat perawan tua itu datang ke kantor.
Asisten Satria sampai bosan saat selalu di tanya tentang tuannya saat Kak Mur datang. Seolah perawan tua itu menjadi mata-mata dan selalu mengawasi. Tidak cuma Khan yang mulai terganggu dengan kehadiran Kak Mur, Asisten Staria juga sudah mulai bosan.
Bunda Fatia sudah menyusul Ayah Jose dua minggu yang lalu. Masih banyak pekerjaan yang di tinggal di Manhatten. Beliau berjanji setiap bulan akan mengunjungi Jakarta untuk melihat perkembangan kehamilan Vefe.
Malam ini Khan, Asisten Satria dan Dokter Dino berbincang. Mereka berkumbul dan berbincang di ruang keluarga rumah Khan.
"Bagaimana cara agar si pasangan baut itu tidak selalu mencariku terus, Satria?"
"Aku juga sudah ilfil selalu menjawab dia terus-menerus." Asisten Satria terlihat kesal.
"Siapa itu pasangan baut?" tanya Dokter Dino.
Khan dan Asisten Satria bercerita secara bergantian. Tentang seorang Wanita yang cukup umur perawan tua. Yang datang rutin setiap seminggu dua kali di kantor.
Dokter Dino mengerutkan keningnya teringat teman yang dulu sering berkumpul bersama. Ada satu teman yang sampai saat ini belum menikah yang ada di Jakarta hanya tinggal satu. Pemilik sanana tinju dan teman seperguruan silat.
"Mengapa tidak di jodohkan dengan dengan teman kita saja?" saran Dokter Dino.
"Siapa maksudmu?" tanya Khan.
"Itu si Wahono yang memiliki sasana tinju, di sana banyak bujang lapuk termasuk wahono, 'kan?"
Khan dan Asisten Satri tersenyum devil bersama. Mengangguk setuju dengan saran Dokter Dino. Banyak berkumpuk bujang lapuk di sasana tinju saat siang hari.
"Bagaimana cara kita menjodohkan Mur dengan baut yang ada di sasana tinju itu?" tanya Khan.
"Kita berunjung aja ke sana terlebih dahulu, Tuan. Melihat ada berapa bujang lapuk yang cocok untuk di jadikan baut milik Kak Mur."
"Hari minggu saja kita ke sana. Kita bawa makanan yang banyak." Khan memberikan ide.
"Dalam rangka acara apa?" tanya Dokter Dino.
"Acara apa ya enaknya?" tanya Khan bingung.
"Acara kunjungann pertama Nona Ve saja, Tuan."
__ADS_1
"Acara tahun baru saja," saran Dokter Dino.
Khan tergelak dengan usulan Dokter Dino acara tahun baru sudah terlewat dua hari yang lalu. Yang ada besok adalah imlek untuk orang suku Cina, "Acara libur tanggal merah saja karena besok Imlek."
"Ya sudah setuju, siapa yang mengatur acara itu?" tanya Asisten Satria.
"Kamu ...!" teriak Khan dan Dokter Dino bersamaan.
Asisten Satria datang ke sasana tinju milik Wahono pukul sepuluh pagi. Berbincang dengan pemilik sanana itu dengan santai. Berencana mengajak makan bersama seluruh keluarga.
Asisten Satria memesan ayam bakar, ikan bakar, lalapan dan sambal mantah. Dengan spontan Wahono membuat es sirup dan membeli buah segar. Tanpa menceritakan tujuan awal tentang perjodohan dengan Kak Mur.
Asisten Satria melihat para anggota yang sedang berlatih. Dari sekitar 20 orang anggota sanana yang dipimpin Wahono. Sekitar lima bujang lapuk yang sedang berlatih.
Keterangan itu didapat oleh Asisten Satria saat mendata yang bisa hadir saat makan siang nanti. Alasannya tidak ingin ada yang tidak menikmati makan siangnya.
Ada yang bisa datang bersama keluarga. Ada juga yang istrinya di kampung. Ada juga yang tidak bisa datang kerena posisi rumahnya sangat jauh.
Waktu yang di tunggu tiba juga. Khan mengajak Vefe untuk berkunjung di sasana tinju milik Wahono. Bersama seluruh keluarga masing-masing yang datang.
Vefe sudah diceritakan tujuan mereka datang ke sana. Hanya berniat untuk mencarikan pasangan Kak Mur. Agar tidak mengganggu ketenangan Khan dan Asisten Satria.
"Yang satu ada di pojok sana memakai kaos hitam."
"Yang berkulit hitam itu, Mas?"
"Iya dia berasal dari Papua, umurnya 35 tahun."
"TIdak cocok untuk Kak Mur, Mas."
Ada laki-laki berbadan pendek dan gemuk. Rambut panjang, tipis dan di kuncir kuda. Dia sedang berbincang dengan bujang lapuk yang berkulit hitam.
"Itu juga kurang cocok, mana lagi selain mereka, Mas?'
"Tunggu sebentar Mas cari dulu!"
Khan melihat ada laki-laki berbadan gempal, tinggi dan berotot. Dia memakai kemeja batik rapi dengan rambut klimis di sisir ke belakang. Kulitnya sawo matang dengan di tambah kaca mata yang ada di atas rambutnya.
"Kalau yang memakai baju batik itu?" tanya Khan sambil menunjuk arah dekat pintu.
__ADS_1
"Itu lumayan sih, kurang tepat aja, Yang lain lagi mana?"
Keluar dari dalam rumah utama dua orang sambil berbincang akrab. yang satu memakai baju pantai bunga-bunga dan celana pendek. Dan satu lagi memakai celana cutbray dan kaos ketat seperti artis jaman dulu.
"Itu mereka berdua yang baru keluar dari rumah, bagaimana?" tanya Khan lagi.
"Naah yang memakai baju pantai itu, Mas. Yang paling cocok."
Khan terkekeh sambil mengacungkan sempolnya, "Dia itu teman Mas, namanya Wahono."
"Apakah dia mau sama Kak Mur?"
"Entahlah ... Selama ini pacarnya selalu cantik, Bagamana dengan yang satu lagi?"
"Cocok juga sih, Mas. Nanti coba ditanya saja bagaimana kreteria pasangan idaman mereka."
Dokter Dino dan Asisten Satria dan pasangan serta putra putrinya bergabung dengan Khan dan Vefe. Mereka berbincang kembali membicarakan mana yang paling cocok untuk Kak mur.
Sebagian besar dari mereka setuju dengan pendapat Vefe. Antara Wahono atau Aan yang memakai celana cutbray. Yang paling mereka setujui adalah Wahono karena dia terlihat norak seperti Kak Mur.
Penampilan Wahono terlihat paling aneh diantara teman-temannya. Acara hari raya memakai baju pantai. Rambutnya di ikat sedikit yang bagian atas tetapi bagian bawah dicukur habis yang sering disebut dengan nama potongan Man Bun Undercut.
Khan tersenyum sendiri di samping Vefe saat mereka selesai berbincang. Kini saatnya makan bersama dengan menu ayam dan ikan bakar. Masih menunggu giliran mengambil menu dengan cara prasmanan.
Vefe menyenggol lengan Khan dan berbisik, "Mas mengapa tersenyum sendiri begitu sih?"
"Mas membayangkan kalau Mur dan baut bertemu sama-sama berpenampilan yentrik."
"Jangan di bayangkan dong, Mas."
"Mas membayangkan lebih jauh lagi, Sayang."
"Apa yang Mas bayangkan?"
"Jika mereka menikah anaknya seperti apa ya?"
"Mas ini, jangan berpikir macam-macam!"
Khan semakin tersenyum saat berbisik di telinga Vefe, "Sekarang Mas membayangkan bagaimana yentrik nya mereka saat berburu, sekarang Mas jadi pingin berburu."
__ADS_1
"Mas Iiiih!"