
Vefe adalah gadis yang memiliki prinsip kuat. Wakaupun hanya anak panti asuhan, tidak ingin selalu tergantung pada bantuan orang lain. Semua usaha bisnis online miliknya hasil jerih payah sendiri. Dengan modal sendiri bersama Erina.
"Maaf mas, Ve ingin berdiri sendiri membangun bisnis, dari kecil Ve selalu hidup dari belas kasihan orang. Untuk usaha kali ini Ve sudah bertekat akan menggunakan hasil usaha sendiri."
Khan hanya mengangguk setuju. Tidak ingin memaksa dengan prinsip dan usahanya. Lebih baik mencari jalan lain untuk mebantunya yang tidak harus merendahkan prinsipnya.
"Kalau mau pesan lewat online apa nama tokonya?" tanya Khan.
"Namanya Verin Olshop, Mas mau belanja apa?"
"Mas tidak bisa belanja produk wanita, siapa tahu istri Asisten Satria yang akan belanja."
"Ooo ...."
Pukul sepuluh malam Khan pulang dari panti asuhan. Sampai di rumah di sambut oleh Pak Gun dengan satu gelas coklat hangat, "Silahkan minum dulu, Tuan. Sebelum mendengar laporan yang menguras emosi dari Pak Bowo!"
"Laporan dari Pak Bowo, apakah tentang perjodohan lagi?"
"Ini lebih dari perjodohan."
Pak Bowo langsung berlari masuk rumah setelah mendengar tuannya pulang. Dia yang bertugas menjaga rumah pagi sampai sore hari. Sekarang Pak Umar yang berjaga di pos depan.
__ADS_1
"Selamat malam, Tuan."
"Selmat malam, ada apa?"
"Tadi sore Nona Eno ke sini bersama bapaknya ingin bertemu Anda."
"Mau ngapain?"
"Saya tidak, Tuan."
"Sekarang di mana mereka?"
"Sudah pulang, tadi menunggu Anda sampai jam sembilan malam."
"Mereka berpesan kemungkinan akan datang lagi setelah Anda pulang kerja besok, Tuan."
Khan langsung mengambil napas Panjang setelah mendengar Pak Bowo melanjutkan laporannya. Mau tidak mau harus menghadapi mereka. Alasan apalagi untuk menjelaskan kepada Eno.
Sudah berkali-kali di jelaskan kepada wanita ganjen itu. Baik dari bahasa halus sampai paling kasar dia masih saja berharap dan pantang menyerah. Semangatnya memang patut diacungi jempol, tetapi sayangnya semangat dengan hal yang tidak baik.
Sampai tengah malam Khan tetap terjaga. Memikirkan kedatangan dari oang tua Eno. Ingin menghindar akan semakin berlarut-larut. Jika ditemui akan membuat Eno semakin melunjak.
__ADS_1
Pagi hari, Asisten Satia datang dengan tergesa-gesa. Mengabarkan tadi malam Eno izin pulang ke Surabaya secara mendadak. Dia mengabarkan jika ibu dari Eno mengalami kecelakaan.
Khan ingin tersenyum takut dosa. Tidak tersenyum tetapi hati bersorak gembira. Dia tidak harus bertemu dengan orang tua dari Eno.
"Mengapa tersenyum begitu mendengar kabar duka, Tuan?" tanya Asisten Satria saat melihat Khan tersenyum yang ditahan.
"Tidak apa-apa, apakah dia meninggalkan banyak pekerjaan?"
"Tidak ... baru saja dia mengirim pekerjaan melalui email."
Baru saja senang mendapatkan laporan tentang Eno yang pulang ke Surabaya. Khan di kejutkan dengan kiriman pesan WA. Ada banyak sekali contoh berbagai macam acara pernikahan.
Dari contoh pelaminan, sewa gedung dan catering bahkan penghibur acara juga sudah siap. Contoh undangan dan sovenir ada juga. "Apa-apaan?" teriak Khan.
"Ada apa, Tuan?"
"Ini nomor ponsel siapa, mengirim rencana acara resepsi pernikahan?"
Ponsel Khan langsung diserahkan kepada Asisten Sartia. Kiriman pesan nomor WA yang tidak dikenali di ponsel Khan. Khan memang tidak pernah menyimpan nomor ponsel siapapun, kecuali keluarga dan Vefe.
Asisten Satria mencocokkan nomor Eno yang di simpan di ponselnya. Tidak cocok dengan nomor itu. Mencocokkan dengan nomor Sania juga tidak cocok sama sekali.
__ADS_1
"Ini bukan nomor ponsel Nona Eno atau Nona Sania, Tuan."
"Jadi siapa yang mengirim pesan WA ini?"