
Umi Maryam hanya tersenyum tipis sambil melirik Vefe. Tidak menjawab pertanyaan Pak Gun. Lebih memilih menyibukkan dengan merapikan meja yang ada di samping Mpok Ria.
"Kakek ke sini sendirian, Pak?" tanya Vefe.
"Tadi ke sini bersama kedua putrinya."
"Tante Dar dan Tante Prapti?"
"Benar ... itu membawa kado yang paling besar di pojok itu," jawab Pak Gun.
"Ya Allah, apa isinya berat banget sih?" Vefe mendekati kado yang ditunjuk oleh Pak Gun dan mencoba mengangkatnya.
"Buka saja kalau penasaran, Nyonya!" perintah Pak Gun.
"Tidak aaah, nanti saja kalau sudah di rumah."
Bunda Fatia duduk di samping Mpok Ria dan mengajak berbincang. Menanyakan tentang kesehatan dan kesiapan menjadi seorang ibu. Memberikan nasihat dan tips menjadi seorang ibu dan cara merawat bayi.
Mpok Ria bercerita dulu saat pertama kali menemukan Vefe dibuang di depan depan kontrakan milik panti asuhan. Mpok Ria yang merawat bayi mungil itu sampai besar. Maka itulah Vefe menganggapnya sebagai ibu angkat sampai sekarang.
Vefe langsung ikut duduk disamping Bunda Fatia dan menciumi punggung tangan Mpok Ria, "Terima kasih, jasa Mpok Ria sangat besar untuk Ve."
Mpok Ria tersenyum sambil mengusap pipi Vefe. Menjawab dengan bahasa isyarat juga mengucapkan terima kasih. Karena suami Vefe sekarang ini memiliki keturunan yang sehat.
Tanpa disadari Mpok Ria tersenyum sambil berlinang air mata. Bukan air mata duka tetapi air mata kebahagiaan yang luar biasa. Bukan saudara atau keluarga tetapi ikatan batin keduanya seperti ibu dan anak.
"Eee mengapa menangis?" tanya Vefe padahal matanya juga berkaca-kaca.
Bunda Fatia mengusap pundak Vefe dan Mpok Ria bersamaan. Ingin sedikit mengalihkan perhatian agar tidak larut dalam tangis, "Oya ngomong-ngomong siapa nama bayinya?" tanya Bunda Fatia.
Mbok Ria tersenyum sambil menunjuk Pak Gun dengan menjawab dengan bahasa isyarat. Dia memberikan isyarat tangan bahwa suaminya sudah menyiapkan nama untuk putranya. Mempersiapkan dua nama sekaligus karena kemarin belum diketahui identitas bayi dalam kandungan.
"Oooo ... Pak Gun sudah mempersiapkan namanya?" tanya Bunda Fatia lagi dan di jawab anggukkan kepala oleh Mpok Ria.
"Namanya Ilham Karunia Cahyanto," jawab Pak Gun.
"Bagus pisan namanya, jadi dipanggil baby Ilham ya, Pak?" tanya Vefe.
"Boleh juga."
"Dadi jenenge Ilham Karunia Cahyanto putrane Gunawan Cahyanto," canda Bunda Fatia menggunakan bahasa jawa.
"Injih leres, Nyonya Bunda." Pak Gun juga menjawab dengan bahasa jawa.
__ADS_1
Vefe yang mulai bisa sedikit bahasa jawa ikut menjawab dengan sekenanya, "Injih mboten yo, Pak Gun?"
"Ha ha ha ...?" Pak Gun tertawa karena jawaban Vefe yang asal.
"Artinya bagus nama itu, Umi sangat suka."
Pak Gun tersenyum sambil mengangguk setuju. Arti dari nama itu adalah anugerah yang tidak terhingga dari yang maha kuasa. Berharap baby Ilham menjadi anak membanggakan orang tua.
Perbincangan mereka berhenti sejenak saat ponsel milik Umi Maryam berdering. Ada panggilan masuk dari Bibi Kudri yang berada di panti asuhan. Umi Maryam menekan tombol hijau dan tombol loud speaker.
"Ada apa, Bibi?"
"Ada tamu, Umi."
"Siapa tamunya sih, Bi."
"Ada ibu kandung Nak Ve dan suami orang Korea itu." Suara Bibi Kudri sedikit dikecilkan.
"Ooo Mommy Astrid dan Daddy Kim Oen?"
"Bibi lupa nama mereka, Umi."
"Mau apa mereka, Umi baru ketemu tadi pagi, tetapi mereka tidak mengatakan mau berkunjung?"
"Mereka datang bersama Kakek Raharjanto membawa sembako, Umi."
Vefe yang mendengar percakapan Umi Maryam dan Bibi Kudri dari kejauhan tertawa devil sambil menutup mulut. Menebak kemungkinan Kakek Raharjanto mengajak Mommy Astrid dan Daddy Kim Oen. Setelah tidak berhasil mengajak Khan kemarin.
Umi Maryam sampai melotot melihat Vefe yang cengengesan. Mulut di monyongkan hampir lima centimeter karena kesal. Kakek Rahajanto belum menyerah juga padahal sudah selalu menghindar.
Bunda Fatia yang tidak tahu mermasalahannya, melihat Vefe sambil mengerutkan keningnya karena heran. Menantu kesayangan cengar-cengir sambil melirik Umi Maryam. Padahal tadi matanya berkaca-kaca, "Ada apa sih, Nak. Kok tersenyum sendiri begitu?"
"Tidak apa-apa, Bun. Ve hanya teringat tadi Aaron memilih ikut Oma Astrid dari pada maminya sendiri," jawab Vefe asal.
Sambil kembali tersenyum teringat tadi sebelum berangkat ke rumah sakit. Mommy Astrid dan Daady Kim Oen berpamitan akan mengunjungi putranya Lee Kim Oen di apartemen. Baby Aaron memilih mengikuti omanya karena diberikan mainan terlebih dahulu.
Vefe heran sekarang mereka ada di panti asuhan bersama Kakek Raharjanto, "Bibi ...!" teriak Vefe ikut nimbrung dalam percakapan Umi Maryam.
"Iya ada apa, Nak Ve?"
"Baby Aaron sama siapa?"
"Digendong sama Opa Korea sambil bermain sama Ai dan Gi."
__ADS_1
"Tidak menangis, 'kan?"
"Tidak kok, Nak."
"terima kasih, Bi."
"Sama-sama, Umi mana, Nak?"
"Umi masih di sini, ada apa?"
"Jadi bagaimana, Umi?"
Umi Maryam terdiam sejenak sambil mengerutkan keningnya. Beberapa menit tidak menjawab pertanyaan Bibi Kudri, "Umi ...?" panggil Bibi Kudri.
"Bilang saja Umi masih repot di sini, Bibi saja yang menerima sembako itu!"
"Bagaimana dengan Kakek Raharjanto, Umi. Beliau menanyakan Umi kapan pulang?"
"Buat Bibi saja."
"Eeee .... Umi!" teriak Bibi Kudri.
"Astagfirullah hal'adzim." Umi Maryam reflek mematikan ponsel karena gugup dan kesal.
Vefe tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Umi Maryam. Menambah Umi Maryam semakin gugup. Sedangkan Bunda Fatia dan yang lain bingung karena tingkah aneh Umi Maryam dan Vefe.
"Maaf, Ve mau ke kamar mandi," kata Vefe langsung berlari agar tidak ditanya karena tertawa terbahak-bahak dan tidak diketahui alasannya.
"Bun, Umi mau ke luar sebentar, mau menghubungi Mommy Astrid." Setali tiga uang, Umi Maryam juga bergegas ke luar ruang rawat inap agar tidak ditanya oleh Bunda Fatia.
"Ya silahkan," jawab Bunda Fatia dengan heran.
Hanya berjarak waktu satu jam saja, Mommy Astrid dan Daddy Kim Oen menyusul Vefe ke rumah sakit. Baby Aaron menangis minta ASI dan memanggil maminya. Baby Aaron yang jarang berpisah dan jauh dari maminya hanya mampu bertahan kurang dari setengah hari saja.
Saat Mommy Astrid masuk dan mengucapkan salam. Umi Maryam tersentak kaget langsung menengok ke arah pintu. Menjawab salam seolah setengah hati karena terus menatap pintu masuk.
Hati Umi Maryam gamang takut Kakek Raharjanto datang juga. Sudah berusaha agar tidak bertemu karena tidak ingin memberikan harapan apapun. Masih berpendirian seperti dulu tidak ingin menggantikan posisi Abi Syam.
Di belakang Mommy Astrid ada Dady Kim Oen yang sedang menggendong baby Aaron. Umi Maryam semakin gelisah tatkala masih ada yang mendorong pintu masuk lagi. Takut dan khawatir yang datang adalah orang yang dihindari selama ini.
"Assalamualaikum."
BERSAMBUNG
__ADS_1
Mampir yok kk ke novel teman author yang rekomen banget ini, ada di novel toon juga kok, terima kasih