
Tidak hanya Umi Maryam yang panik mendengar baby Aaron sakit. Bibi Kudri dan anak panti asuhan juga ingin ikut ke rumah sakit. Batita menggemaskan itu selalu menjadi kesayangan semua orang. Semakin besar wajah yang mirip Khan rambut juga terlihat cenderung pirang sangat menggemaskan.
"Ai ikut ke rumah sakit, Umi!"
"Ini sudah malam, Nak. Di rumah saja ya sama Bibi Kudri," jawab Umi Maryam.
"Kalau Gi boleh ikut tidak, Umi?"
"Semua tidak boleh ikut termasuk Bibi Kudri, hanya Umi dan Mommy saja yang ke sana."
Dengan wajah kecewa dan khawatir semua menjawab Umi Maryam dengan mengangguk. Tidak berani membantah keputusan orang yang dianggap sebagai ibu. Hanya bisa mendoakan semoga baby Aaron cepat sehat kembali.
Di rumah sakit, Khan sedang ada di kantor pribadi Dokter Dino. Enggan mengantri di UGD karena sedang ramai. Lebih memilih jalan pintas meminta tolong pada sahabatnya.
"Tunggu sebentar, Bro. Dokter anak sedang menuju ke sini," kata Dokter Dino setelah menghubungi dokter yang sedang tugas shift malam.
"Jangan lama-lama, coba lihat Aaron rewel terus!"
"Iya sabar."
Hanya dalam lima menit Dokter anak datang dan memeriksa baby Aaron. Dengan teliti diperiksa suhu tubuh, mulut bahkan sekitar lekuk siku juga diperiksa. Untuk mengetahui ada ruam atau bercak merah atau tidak.
Pergantian cuaca panca roba saat ini ada banyak kasus demam berdarah. Terutama pagi dan senja hari nyamuk aedes aegypti akan beraksi. Mencari mangsa dan mencari darah yang bisa dihisapnya.
"Di lekuk siku memang tidak ada ruam merah, tetapi sebaiknya putra Anda tes darah!" perintah Dokter anak.
"Mengapa harus tes darah, Dok?" tanya Khan.
"Sekarang sedang banyak kasus demam berdarah ditemukan dalam satu minggu ini, lebih baik diperiksa secepatnya agar mudah penanganannya."
"Baik ... Dok." Khan menyetujui tes darah untuk baby Aaron.
Vefe langsung berkaca-kaca mendengar dokter memerintahkan tes darah. Teringat saat baby Aaron di imunisasi. Hanya di suntik di lengan bagian atas, dia menangis sejadi-jadinya.
Apa jadinya jika darah diambil melalui lengan dekat siku. Menggunakan jarum yang tajam dan terlihat lebih besar dari jarum untuk imunisasi. Pasti tidak akan tega saat melihat putranya menangis.
"Papi, apakah harus di suntik?"
"Harus dong, Mami."
"Mami tidak tega, pasti nanti menangis sejadi-jadinya," jawab Vefe dengan perasaan khawatir dan tegang.
__ADS_1
Khan tersenyum sambil mengucap lengan baby Aaron yang ada di gendongan Vefe. Tidak ingin melihat istrinya khawatir. Bahkan otaknya berkonotasi yang lain saat mendengar kata suntik, "Semoga kali ini Aaron tidak menangis, bayangkan saja seperti Mami disuntik pertama kali sama Papi, awalnya sakit tetapi lama lama ketagihan," bisik Khan di telinga Vefe.
"Papi ini bercanda saja, Mami lagi tegang," jawab Vefe kesal.
"Biar Mami tidak tegang."
Dengan terpaksa Vefe mengizinkan suster mengambil darah baby Aaron. Bunda Fatia yang baru saja bergabung dari kamar mandi juga bingung. Karena tahu betul pasti cucunya akan menangis saat di suntik.
"Aduh ... mengapa harus di suntik?" tanya Bunda Fatia saat melihat suster sedang mempersiapkan peralatan.
"Dokter yang menyarankan, Bun," jawab Khan.
"Bunda tidak tega, Nak."
"Ve juga sebenarnya, Bun. Apa boleh buat demi kesehatan Aaron juga."
"Kata dokter mengapa harus tes darah sih, Nak?"
"Ditakutkan gejala demam berdarah, Bun."
Bunda Fatia langsung ikut bersiap-siap membantu memegangi lengan baby Aaron saat suster sudah mulai siap. Vefe yang memangku baby Aaron sambil memeluknya. Khan berjongkok memegang lengan putranya dibantu oleh Bunda Fatia.
Awalnya baby Aaron tidak bereaksi apa-apa saat di pegang tangannya. Setelah jarum menancap di lengan langsung tersentak kaget spontan ingin menarik tangan. Sambil menangis sejadi-jadinya seperti peristiwa dulu.
Kembali baby Aaron menangis dan terus memanggil kedua orang tua, sekarang omanya juga ikut dipanggil. Seolah dia sedang mengadu jika tangannya sakit. Disertai air mata yang terus mengalir deras bak air hujan yang jatuh dari langit.
"Kasihan cucu Oma. Sabar ya Sayang."
Setelah selesai jarum dicabut dari lengan. Tiba-tiba tangis baby Aaron terhenti, "Dah ...," katanya.
Khan dan Bunda Fatia langsung tertawa, "Sudah tidak sakit ya?" tanya Khan.
Baby Aaron langsung melihat lengan yang ditempel kapas dan kain kassa. Dia kembali menangis dan menjerit karena ada kain kassa menempel. Padahal hanya untuk menghentikan darah agar tidak terus keluar.
"Kenapa lagi, Nak?" tanya Vefe.
"Tu ... tu ... tu!" teriak baby Aaron sambil terus melihat kain kassa yang menempel di lengan.
"Karena ini?" tanya Khan dan tangannya menunjuk kain kassa.
Baby Aaron terus menangis dan meronta dalam pangkuan Vefe. Matanya masih melihat kain kassa kecil yang menempel. Sesekali tangan di gerakkan ke atas dan ke bawah.
__ADS_1
Bunda Fatia langsung menarik kain kassa kecil itu dari lengan baby Aaron. Seketika tangis baby Aaron berhenti, "Dah ...."
Semua tertawa lepas karena baby Aaron yang bertingkah lucu. Yang awalnya khawatir jadi cair dan lega. Drama mengambil darah berakhir dengan bahagia.
Vefe tersenyum sambil mengusap air mata baby Aaron. Saat ini pikirannya membayangkan hasil dari tes yang dilakukan. Hanya berdoa dan berharap dugaan dokter anak tidak terjadi.
Baru di suntik dan ada kain kassa kecil di lengan saja menangis dan membuat drama. Apa jadinya jika dugaan dokter anak benar, pasti harus dipasang selang infus di tangan baby Aaron. Vefe sampai merinding membayangkan putranya terus menangis saat ada jarum infus yang menempel di lengan.
"Berapa lama menunggu tes itu selesai, Pi?"
"Tidak lama ... kurang lebih sepuluh menit."
"Semoga tidak terjadi apa-apa," kata Bunda Fatia.
"Aamiin." jawab mereka bersamaan.
Baby Aaron ikut menjawab, "Miin ...." Dua tangan menengadah ke atas.
Datang rombongan Mommy Astrid masuk kantor Dokter Dino. Mereka langsung bertanya keadaan cucu tercinta. Bercerita tentang pemeriksaan dan tes darah.
"Semoga hasilnya negatif," doa Umi Maryam.
"Grandma saja yang menggantikan sakit, jangan cucu ganteng ya," pinta Mommy Astrid.
Vefe tersenyum kecut mendengar permintaan ibu kandungya. Jika boleh memilih dan boleh dipindah sakit baby Aaron. Pasti dengan suka rela akan menggantikan sakit itu.
"Apakah masih lama hasil laborat keluar?" tanya Deddy Kim Oen.
"Sebentar ladi, Dad. Mungkin lima atau sepuluh menit lagi," jawab Khan.
Datang Dokter Dino, dokter anak dan pegawai laborat serta dua suster. Yang awalnya ramai karena berbincng mereka langsung terdiam. Tidak ada satu orang pun yang berbincang lagi.
Dokter Dino mendekati Khan dan mengusap lenga baby Aaron, "Bagaimana jagoan Uncle Dino?"
"Tadi cengeng sebentar," jawab Vefe.
"Bagaimana hasil tesnya, Bro?" tanya Khan.
BERSAMBUNG
Mampir yok kk di novel teman author yang rekomen banget ini, ada di novel toon juga kok, terima kasih.
__ADS_1