
Vefe langsung duduk mendekati Khan yang kaget saat bertelepon dengan Asisten Satria. Suara yang tidak terdengar membuat Vefe penasaran, "Ada apa, Mas?"
"Ada kecelakaan beruntun, di belakang kita tadi, Sayang."
"Bagamana dengan mereka, Mas?"
"Tenang saja, mereka tidak apa-apa. Mereka hanya terjebak kemacetan saja."
"Syukurlah kalau begitu."
"Ayo kita ke pesawat saja, kita bisa beristirahat di kamar."
"Iya ayo, Mas!"
Khan mendapatkan keterangan dan laporang dari Asisten Satria. Ada taberakan beruntun sekitar enam mobil di dekat lampu merah. Untungnya saat kejadian bus yang di tumpangi oleh rombongan jaraknya enam mobil lagi.
Vefe langsung beristirahat dan terlelap di kamar yang ada di pesawat. Khan selalu berkoordinasi dengan Asisten Satria yang masih terjebak macet. Di kabarkan bahwa kemacetan sampai mengular lebih dari dua kilo meter.
Saat ini kepolisian sedang mengalihkan jalur menuju bandara dengan jalan alternatif yang lain. Walau di tempuh dengan jarak hampir dua kali lipat. Dalam satu jam kemudian bus baru sampai di bandara.
Penerbangan mundur dua jam dari jadwal semula. Para kru dan pilot yang sibuk melaporkan pada bandara atas keberangkatan yang tertunda.
Yang seharusnya sebelum pukul delapan malam waktu Indonesia bagian barat sudah sampai. Pukul sepuluh malam rombongan baru tiba di Bandara Internasional Sukarno Hatta. Mereka sampai di rumah masing-masih hampir tengah malam.
Dalam perjalanan bandara ke rumah Khan dan Vefe menggunakan mobil milik sendiri. Karena dari sore Vefe selalu terlelap dan berisitirahat dengan baik. Vefe mengajak Khan makan dan kulineran tengah malam.
Yang pertama Vefe lihat adalah pedagang kaki lima yang berdada di pinggir taman kota, "Mas, Ve pingin makan sosis bakar jumbo itu!" tunjuk Vefe melihat sosis di bakar dengan cara di tusuk menggunakan tusuk sate.
"Ve mau ikut turun atau di mobil saja?"
"Ve ikut, Mas. Tunggu Ve pakai jaket dan syal dulu!"
Vefe hanya meminta dua tusuk sosis bakar. Dan irisan kentang yang yang digulung dan di goreng krispi. Menikmati sosis goreng sanbil mencari kagi makanan yang lain.
Sampai di ujung dan paling pinggir taman kota ada kakek tua yang sedang membuat adonan telur gulunng. Banyak yang telah mengantri dan ingin membeli telur gulung. Vefe melihat dan mencium bau harum telur gulung rasanya air liur ingin menetes.
__ADS_1
Khan yang melihat Vefe menelan ludah saat melihat telur gulung langsung mengeluarkan uang satu lembar, "Mau beli berapa?"
"Mas tahu aja, terserah Mas."
"Ya sudah, Ve tunggu dan duduk di sini saja!" Khan menunjuk bangku panjang yang ada di pinggir taman.
Vefe duduk sendirian saat Khan mengantri membeli telur gulung. Ada seorang wanita paruh baya yang duduk di samping Vefe dan minta izin kepada Vefe, "Ikut numpang duduk ya, Nak?"
"Silahkan, Bu." Vefe tersenyum dan mengangguk.
Hanya dalam waktu lima menit datang lagi pemuda berlari mendekati ibu dengan wajah yang khawatir dan dia selalu menengok kanan dan kiri, "Mana Bu uangnya, cepetan!"
"Maaf ya, Nak. Uang Ibu hanya punya segini saja," jawab Ibu itu dengan sedih.
"Apakah Ibu belum gajian?" dijawab ibu dengan menggelengkan kepala.
Kembali pemuda itu menengok ke arah kanan dan kiri. Wajahnya terlihat cemas dan bingung seolah dia sedang di kejar oleh seseorang. Sampai Vefe ikut menengok ke arah sekitar dia duduk.
"Apakah Ibu tidak minta ke bapak?"
Pemuda itu langsung mengambil uang yang diberikan ibu paruh baya. Dia akan segera meninggalkan tempat setelah melihat ada laki-laki yang berlari mendekatinya. Hanya sayangnya dia tidak sempat lagi menghindar.
"Jangan lari lo, bayar hutang lo sekarang?" Salah satu dari laki-laki langsung menarik tangan pemuda itu dan mengambil uang yang pegangnya.
"Jangan dong, Bang. Itu beli obat nenek!"
"Gue tidak perduli, inipun belum ada apa-apanya untuk membayar hutang kamu!" teriaknya.
Ibu paruh baya itu berdiri sambil melipatkan ke dua tangan di dada, "Bang, tolong jangan diambil uang itu, nanti saya yang akan membayar hutang dia."
Vefe mengerutkan keningnya mendengarkan pembicaraan mereka. Lebih dari tengah malam bertemu di taman menagih hutang. Rasanya sangat aneh dan tidak masuk akal.
"Ibu mau bayar utang pakai apa kalau hanya seorang tukang sapu jalanan?"
"Tidak perlu Ibuku yang bayarin itu, nanti aku yang akan melunasi, tetapi tidak sekarang karena uang itu untuk membeli obat terlebih dahulu."
__ADS_1
"Kamu mendapatkan uang dari mana lagi tukang ojek tetapi motor sudah dijual?"
Ibu paruh baya kaget mendengar ucapan laki-laki yang merebut uang dan langsung melihat pemuda dengan mata yang berkaca-kaca, "Mengapa kamu jual motornya, Nak?"
"Tidak perlu membuat drama di sini, motornya dijual untuk bayar bunga karena dia beberapa bulan tidak bayar hutang!" teriak laki-laki yang memegang uang.
Rupanya Khan sudah selesai membeli telur gulung dan mendengar percakapan mereka yang ada di sebelah Vefe, "Berapa hutang dia, aku yang akan membayar?" tanya Khan dengan suara keras.
Mereka langsung menengok Khan bersamaan. Khan langsung mendekati Vefe dan memberikan telur gulung, "Ini Sayang, Mas akan membantu mereka sebentar ya?"
"Iya." Vefe mengangguk dan menerima telur gulung.
"Siapa lo, hutangnya tujuh juta?" tanya salah satu laki-laki tegap.
"Tidak perlu tahu, aku bayar lunas sekarang hutang dia, tunggu sebentar!" Khan mengambil dompet yang ada di celana bagian belakang.
Untung dompet terisi penuh uang merah gambar Suekarno Hatta. Tidak menghabiskan seluruh uang yang ada di dompet untuk membayar hutang itu. Khan menghitung sesuai jumlah hutang pemuda itu.
"Ini hutang dia sudah lunas, kembalikan uang yang akan untuk membeli obat!" perintah Khan.
Laki-laki tegap mengembalikan uang yang tadi di rebut. Menerima uang dari Khan sambil tersenyum. Dia menghitung ulang uang yang baru di terimanya.
"Ok terima kasih hutang kamu lunas, permisi!" Dua laki-laki itu langsung meninggalkan tempat.
Ibu paruh baya langsung meneteskan air mata terharu, "Terima kasih, Nak. Rumah kalian di mana nanti akan Ibu ganti uangnya?"
"Tidak perlu, Bu. Anggap saja Ibu mendapatkan uang dari putra Ibu yang lain."
"Ya Allah ... terima kasih, Bang. Saya mewakili Ibu semoga rezeki Abang dilipat gandakan oleh yang maha kuasa." Pemuda itu ikut berkaca-kaca.
"Aamiin."
"Apa yang bisa saya bantu untuk membalas kebaikan kamu, Nak?" tanya Ibu paruh baya lagi.
"Tidak perlu, Bu. Tolong doakan saja istriku nanti melahirkan dengan lancar," jawab Khan.
__ADS_1
Ibu itu belum sempat berdoa untuk Vefe. Pemuda itu langsung berteriak, "Bu ... aku beli obat ke apotek dulu ya, kasihan nenek!"