Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 201. Persiapan ke San Fransisco


__ADS_3

Vefe masih tertegun mendengar penjelasan Khan. Dia hanya sekali melihat tato kupu-kupu milik Doni Prawira. Tidak pernah juga memperhatikan secara detail.


Asisten Satria yang awalnya tidak memperhatikan tato. Dia berkali-kali memperbesar tato yang ada di lengan laki-laki yang di gandeng oleh Eno, "Bukan Tuan Doni dia ini."


"Dari mana bisa menyimpulkan kalau dia bukan Doni?" tanya Khan.


"Coba perhatikan postur tubuhnya, Tuan. Laki-laki yang di foto ini terlihat lebih kurus dibandingkan Tuan Doni, jika Suami Sania Parwati badannya terlihat kekar dan berotot."


Vefe masih penasaran dengan kekasih dari Eno. Dia memperhatikan badan dan lengannya seperti saran Asisten Satria. Tanpa menyadari Khan yang mulai cemberut melihat Vefe melotot dengan datail memperhatikan tubuh laki-laki.


"Mami ...!" teriaknya.


Vefe langsung menoleh kaget ke arah Khan, "Ada apa sih, Pi?"


"Jangan melihat tubuh laki-laki sampai melotot begitu!" Khan langsung mengambil ponsel milik Vefe.


"Astagfirullah ...." Vefe kaget lupa kalau suaminya pencemburu berat.


Asisten Satria yang hanya nyengir kuda karena Khan yang cemburu, "Cuma foto, Tuan. tidak perlu cemburu begitu."


"Tetap saja tidak boleh," jawab khan kesal.


"Maaf ...."


"Sudah ... jangan membahas laki-laki bertato itu. Kita membicarakan tentang rencana ke San Fransisco saja!"

__ADS_1


Vefe terdiam tidak berani lagi bertanya tentang kekasih Eno. Padahal masih penasaran tentang identitas dari laki-laki bertato itu. Masih ingin mengetahui dia Doni Prawira atau orang lain.


"Berapa hari rencana ke sana, Tuan?" tanya Asisten Satria.


"Mungkin satu minggu saja, kamu kosongkan jadwalku dan atur ulang selama satu minggu ke depan!"


"Siap laksanakan, Tuan."


"Mami mau mengabari Kakek kapan?" tanya Khan.


"Belum tahu sih, Pi. Masih ada waktu untuk bertemu sebelum berangkat."


"Harus segera di kabari dong, Mami. Nanti mereka bisa mempersiapkan dengan matang."


Keesokan harinya Vefe menghubungi Tante Darwati tentang rencana dan jadwal ke San Fransisco. Meminta kedua tantenya untuk bisa bertemu langsung. Dua tantenya yang datang ke rumah Vefe untuk membicarakan rencana bertemu dengan Mommy Astrid.


Sambil duduk di ruang keluarga menikmati camilan buatan Pak Gun. Vefe bercerita tetang rencana berkunjung ke USA. Selain untuk bertemu dengan Mommy Astrid. Vefe berencana akan berwisata di Manhatten dan San Fransisco.


"Mengapa semua keluarga harus ikut, berapa tiket pesawat yang harus dibeli?" tanya Tante Darwati.


Vefe tersenyum karena lupa tidak bercerita jika keluarga mertuanya memiliki pesawat pribadi, "Tante jangan khawatir keluarga suami Ve memiliki pesawat pribadi, jadi tidak perlu membeli tiket lagi."


"Waow ... betulkah?" Tante Prapti heran dan tidak menyangka.


"Tante kira keluarga suami Nak Ve keluarga yang sederhana, mereka memiliki pesawat pribadi?" tanya Tante Darwati.

__ADS_1


Vefe hanya menjawab dengan mengangguk. Tidak semua orang tahu tentang pesawat milik keluarga Ayah Jose. Karena pesawat itu sering berada di USA daripada di Indonesia.


"Alhamdulillah semoga Mas Igun bahagia di sana melihat putrinya hidup bahagia, tidak seperti dia dulu," ucap syukur Tante Suprapti.


Vefe tersenyum kecut sambil bermonolog dalam hati, "Anda tidak tahu, Tante. Ve saat kecil sengsara hidup menanggung beban anak haram yang hidup di panti asuhan dengan belas kasihan orang."


"Kamu tidak tahu bagaimana Nak Ve tinggal di panti asuhan dulu?" protes Tante Darwati kepada adiknya.


"Tidak usah dibahas itu, Tante. Semua orang memiliki masa lalu, Ve ikhlas yang penting sekarang bahagia bersama keluarga kita. "


"Aamiin ... terutama kamu, Nak. Tante doakan keluarga kamu sakinah, mawaddah warohmah." Tante Darwati berdoa sambil menengadahkan kedua tangannya.


"Aamiin."


"Oya ... bagaimana perkembangan arisan dan koperasi kelompoknya, Tante Prapti?"


"Kemarin ada beberapa anggota yang mengeluh bonus bulan ini tidak cair, terutama yang investasi besar."


"Tidak yang curiga atau ragu tentang hal itu, Tante?"


"Ada yang mengatakan itu karena Jeng Wulan sedang sibuk mempersiapkan pernikahan, jadi sebagian masih maklum."


Vefe teringat tentang laki-laki bertato yang mirip dengan tato milik Doni Prawira, "Tante kenal siapa calon dari Jeng Wulan itu?"


"Tidak sih, Nak. Yang Tante dengar calon suami Jeng Wulan seorang pengusaha berstatus duda beranak satu."

__ADS_1


__ADS_2