Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 86. Romantis


__ADS_3

Wajah Vefe memerah seperti tomat saat di goda oleh suaminya. Pikirannya ikut membayangkan MP dan ciuman saja. Padahal maksud Khan tidak seperti yang dibayangan Vefe.


"Di Bali, keluarga Mas memiliki satu villa di dekat pantai Kute. Mas sudah mempersiapkan semua keperluan Ve termasuk baju dan yang lainnya."


"Oooo ...." Vefe membulatkan bibirnya sambil tersenyum devil.


"Apa yang ada di pikiran Ve tadi?" tanya Khan sambil menciumi tengkuk dan lehernya.


"Ve tidak memikirkan apa-apa sih."


"Yang benar, Mas bisa baca pikira Ve lo!"


"Apa coba?" tanya Ve sambil membalikkan badannya melihat wajah Khan yang tersenyum devil.


"Itu dan MP, betulkan?"


Vefe mengangguk jujur, menambah Khan semakin tergelak, "Jujur banget sih istri Mas Khan ini!" Khan mencium bibir vefe sekilas.


"Jadi Ve bawa apa dong?"


"Bawa diri dan mempersiapkan untuk ...?"


"Idih mulai lagi, Ve jadi ikut mesum seperti otak Mas."


Vefe melenggang meninggalkan Khan untuk mengambil tas yang ada di meja. Khan semakin tergelak, pikiran keduanya sama-sama tertuju pada dua hal yang ditunggu pengantin baru.


Khan dan Vefe saat ini berada di dalam helikopter. Menikmati pemandangan dari udara yang terlihat indah. Apalagi selalu di peluk oleh Khan saat duduk berdua di kursi helikopter.


Vefe sangat menikmati perjalanan naik helikopter untuk pertama kalinya. Dia banyak bertanya tentang sekitar helikopter. Pesawat kecil yang hanya di tumpangi jumlah terbatas.


Dua jam perjalanan helikopter langsung mendarat di depan villa yang berhadapan langsung dengan Pantai Kuta. Di sambut para para pekerja yang semua pegawainya laki-laki termasuk kokinya.


"Selamat datang, Tuan dan Nona." ada 4 pegawai yang memiliki tugas masing-masing.


"Terima kasih."


Khan masuk villa menggandeng jemari tangan dengan erat. Vefe hanya tersenyum menyapa seluruh pegawai. Teringat di rumah Khan yang ada di Jakarta pegawai semua laki-laki.


"Mas ... Mengapa di sini pegawainya semua laki-laki?"


"Villa ini Mas yang beli, Sayang. Jadi Mas yang menentukan pegawainya."


"Ooo ... terus siapa dong yang membeli baju Ve kalau di sini semua laki-laki?"

__ADS_1


"Yang membelinya Nina, tidak cuma di villa saja, di rumah yang di Jakarta, di Surabaya dan di Manhatten sudah siap keperluan Ve. Oya satu lagi. Di Sulawesi juga ada."


Sampai di villa Khan langsung bertanya kepada koki untuk hidangan makan malam, "Apakah sudah siap makan malamnya?"


"Semua sudah siap, Tuan."


"Bagus ... Kami mandi dulu."


Khan dan Vefe langsung masuk kamar, Vefe langsung menutup mulutnya melihat kamar milik Khan tidak kalah mewah dengan kamar yang ada di Jakarta. Vefe duduk di pinggir tempat tidur untuk meluruskan kakinya yang pegal.


"Kenapa kakinya, Sayang?"


"Capek sedikit sih, Mas. Tadi tegang saat duduk di helikopter mulai take-off."


"Coba sini Mas lihat?"


"Eee Jangan ... tidak perlu, Mas!"


Khan tetap menarik kaki Vefe. Diurut perlahan dari kaki bagian bawah ke atas. Saat Vefe memejamkan mata menikmati tangan Khan. Dengan sengaja tangan Khan terus ke atas sampai ujung kaki bagian atas.


"Aaaaa ...!" teriak Vefe kaget.


Khan tergelak sambil menarik tangannya dari sana, "Mas mau kenalan, Ve. Kenapa kaget?"


"Bagaimana mau ngomong, Ve memejamkan mata."


"Tangan Mas enak sih," jawab Vefe jujur.


"Itu baru di kaki, Sayang. Nanti ditempat yang lain lebih enak lagi lo!"


Vefe mengerucutkan bibirnya, jika berdua selalu saja membicaran hal itu lagi. Hanya sayangnya cuma teori belum praktek. Membuat Vefe semakin berpikir treveling entah ke mana.


"Cepat mandi sana, ingat di tunggu koki yang tadi mempersiapkan menu makan malam!"


"Oya ... Mandi bareng saja yok, biar cepat!"


"Tidak aaah, cepat mandi. Ve sudah lapar!"


"Mas Khan juga sudah lapar banget."


"Ya sudah cepat sana mandi!"


"Tidak ada hubungannya mandi dong, Sayang. Mas pingin makan Ve?"

__ADS_1


"Waduuuh ...!"


Tanpa banyak membuang waktu, Khan dan Vefe mandi bergantian. Makan malam romantis yang sudah di persiapkan koki. Bukan di meja makan melainkan di belakang villa dekat kolam renang.


Di meja ada lilin dan bunga mawar merah. Dua kursi yang berhadapan, lampu temaram menambah suasana menjadi semakin romantis. Di tambah menu makan nasi dan ayam betutu serta cah kangkung.


Vefe menggunakan gaun dengan lengan pendek. Khan hanya memakai kemeja lengan panjang dengan digulung sampai siku. Ke duanya terlihat serasi dan terlihat bahagia.


Makan sambil tersenyum dan memandang dengan penuh cinta. Suasana semakin romantis diiringi dengan lagu Brian Adam yang terdengar. Semakin menambah hati ingin segera menikmati indahnya malam berdua.


Selesai makan malam Khan mengajak Vefe untuk berdiri di depan villa yang berhadapan langsung dengan pantai. Memandang ombak yang bergemuruh seperti suasan hati saat ini. Hanya ada lampu yang berjajar memancarkan cayaha menambah suasana semakin romantis.


Malam semakin dingin setelah satu jam menikmati indahnya malam, "Kita masuk yuk, Sayang!"'


"Iya ... Mas."


Memasuki pintu villa koki memberikan dua gelas cokelat hangat. Khan langsung mengambil satu gelas terlebih dahulu, "Minum dulu, Sayang!"


Vefe hanya meminum setengah cokelat hangat yang di sodorkan oleh Khan. Yang setengah lagi langsung diminum oleh Khan sampai tandas. Terlihat tambah romantis karena minum satu gelas berdua.


Khan mengambil gelas yang ke dua dan meminumnya setengah. Kembali diberikan pada Vefe untuk diminum setengahnya lagi. Saling memandang dengan tatapan penuh cinta.


Masuk kamar berdua sudah tercipta suasana yang sangat romantis. Belum sempat menutup pintu, Khan sudah mendekap erat tubuh Vefe, "Mas ...!"


"Hhmm ...."


"Pintunya masih terbuka."


Khan hanya memutarkan badan dan Vefe tetap dalam pelukan. Menutup pintu menggunakan kaki perlahan, "I love you, Ve!"


Khan mencium kening Vefe dengan lembut, "Tetaplah berdiri di sisiku apapaun yang terjadi!" beripndah menikmati indahnya bibir yang merah merona.


"Ffhh ..." Nafas Vefe tersengal saat mencoba mengimbangi dan belajar membalas semua aksi Khan.


Khan mulai mundur sampai pinggir tempat tidur saat ke duanya mengulangi dan belajar beraksi di sana.


Vefe tersengal lagi napas hampir habis dan bergegas melepaskan tautan bibirnya, "Istirahat dulu, Mas!"


Khan tersenyum dan mengangguk, duduk di pinggir tempat tidur. Vefe berdiri di depan Khan sambil merangkul pundak Khan. Netranya saling menguci dengan tatapan cinta yang membara.


Dengan spontan Khan mengusap leher Vefe. Tangan berpindah di pinggang dan bibir menelusuri leher dengan lembut. Vefe sengaja mendongak agar Khan bisa bergerilya di setiap incinya.


Tanpa terasa ada banyak tanda kepemilikan di setiap incinya tanpa terkecuali. Vefe hanya menikmati sensasi demi sensasi yang di ciptakan oleh Khan tanpa henti.

__ADS_1


Khan menghentikan aksinya sesaat Vefe membuka mata, "Ada apa. Sayang?"


__ADS_2