Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 83. Lamaran


__ADS_3

Jum'at sore pesawat pribadi yang di tumpangi Bunda Fatia dan Ayah Jose tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Khan dan Vefe menunggu dengan sabar di pintu khusus paling ujung bandara. Saat ke dua orang tua Khan turun dari yangga pesawat, Khan dan Vefe sudah menunggu di bawah tangga.


"Assalamualaikum. Ayah ... Bunda!" Khan langsung mencium punggung tangan keduanya bergantian.


Vefe mengangguk sopan dan ikut mencium punggung tangan mereka setelah Khan, "Ayah ... Bunda, perkenal saya vefe."


"Walikum salam, apa kabar, Nak?" tanya Bunda Fatia.


"Alhamdulillah ... Ve baik, Bun."


Mereka langsung keluar bandara menuju rumah Khan. Sampai di rumah, berbincang di ruang keluarga sambil menikmati oleh-oleh makanan khas dari Mekah. Kurma, kacang pistachio, coklat batu, kacang almont dan minuman air zam-zam.


"Khan, apakah kalian sudah siap menikah?" anya Bunda Fatia.


"Sangat siap, Bun."


"Nak Ve, kapan Bunda dan Ayah boleh berkunjung ke rumah?"


"Ve tidak punya rumah, Bun. Ve tinggal di panti ashuhan," jawab Ve sambil menunduk.


"Bagi Bunda tidak masalah, Nak. Panti asuhan termasuk rumah juga lo."


"Terserah Bunda saja."


Khan mengusap lengan Vefe. Dia terlihat gugup dan nevous karena baru pertama kali bertemu. Apalagi Ayah dari tadi hanya memperhatikan Vefe yang diam dan menunduk. Hanya mendengarkan Bunda dan Khan berbincang santai.


"Malan ini saja yok, Bun!" ajak Khan tidak sabaran.


Vefe langsung menyenggol lengan Khan dan berbisik di telinganya, "Jangan sekarang juga dong, Mas. Kasihan Ayah dan Bunda masih capek."


Khan hanya nyengir kuda, sudah tidak sabar lagi untuk mempersunting kekasih hati. Tidak bisa setiap hari bertemu membuat Khan ingin mempercepat acara lamarannya.


"Bagaimana, Bun. Kita malam ini berkunjung ke panti asuhan?" tanya Ayah Jose.


"Boleh saja, tetapi setelah isya saja ya?"


"Alhamdulillah." Khan langsung berucap syukur mendengar jawaban Bunda Fatia.


"Kalian mau mengadakan pesta di mana?" tanya Bunda Fatia.


Vefe kaget karena Bunda Fatia langsung membicarakan tentang pesta. Seharusnya membicarakan akad nikah terlebih dahulu. Dari dulu Vefe tidak pernah membayangkan pesta pernikahan, baginya nikah secara agama dan negara sudah cukup.


"Terserah Bunda saja, Khan ikut."


"Nak Ve, apakah punya impian menikah dengan konsep seperti apa?" tanya Bunda Fatia lagi.


"Ve hanya ingin nikah secara agama dan negara saja, Bun. Tidak usah ada acara pesta."

__ADS_1


Khan menggenggam tangan Vefe, "Ve yakin tidak ingin pesta seperti impian gadis jaman sekarang?"


"Yakin ... Ve suka yang sederhana saja."


"Pestanya di Surabaya saja, untuk di Jakarta diadakan sederhana sesuai keinginan Nak Ve, bagaimana?" usul Ayah Jose.


"Mengapa di Surabaya, Yah?"


"Karena teman, keluarga dan kolega Ayah dan Bunda sebagian besar di sana," jawab Ayah jose.


"Iya Bunda juga setuju."


"Kami ikut aja apa kata Ayah dan Bunda," jawab Khan sambil tersenyum.


Untuk mengabarkan kepada Umi Maryam dan mempersiapkan tamu nanti malam. Vefe izin pamit pulang sebelum senja diantar oleh Khan. Awalnya Vefe ingin pulang sendiri, tetapi Bunda Fatia melarangnya, harus Khan yang mengantarkan pulang.


Dalam perjalanan Khan selalu saja mengusap lengan dan pipi Vefe. Rasa bahagia tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, "Mas sudah tidak sabar lagi menikah sama Ve."


"Sabar dong, Mas. Semua butuh persiapan."


"Yang penting persiapan hati dan itu saja, yang lain gampang itu."


Vefe mengerucutkan bibirnya mendengar Khan membicarakan hal yang masih membuat malu. Memikirkan debaran hati saja dari kemarin belum juga hilang. Sekarang udah membicarakan hal yang lebih menjurus tentang setelah menikah.


"Ve ...!"


Ve pernah ciuman di bibir belum?"


"Belum pernah, di pipi saja baru pertama kemarin saat Mas Khan yang cium pipi Ve tanpa sengaja."


"Ve tahu tidak bagaimana cara berciuman di bibir?"


"Tidak tahu." Vefe menjawab sambil menggelengkan.


"Mas juga belum tahu, karena tidak pernah melakuknnya. Bagaimana kalau kita belajar?"


Dengan spontan Ve memukul lengan Khan, "Tidak pakai alasan belajar, Mas Khan tidak boleh melakukannya sekarang."


"Jadi kapan bolehnya?"


"Nanti setelah kita akad nikah."


"Mas pingin sekali saja boleh ya?"


Vefe mengerutkan keningnya, teringat kekasih hati belum pernah melalukan. Sekarang ingin mencoba padahal tidak tahu caranya, "Tidak ... Ve bukan tempat coba-coba."


Khan masih ingin membahas ciuman yang belum pernah dilakukan. Mobil sampai di halaman panti asuhan tanpa terasa, "Stop ... Mas. Dilarang membahas area 21 plus, sekarang kita sampai panti asuhan!"

__ADS_1


"Yaaah padahal Mas ingin membahas hal yang lebih penting," jawab Khan saat teringat Doni Prawira sedang menceritakan tentang Sania Parwati.


Vefe bergegas turun dari mobil agar pembicaraan yang aneh itu tidak di bicarakan lagi. Khan langsung berpamitan pulang setalah bertemu dengan Umi Maryam. Setelah memberikan oleh-oleh dari mekah untuk anak-anak panti asuhan.


Malam hari pukul delapan malam Bunda Fatia dan Ayah Jose berkunjung ke panti asuhan. Tujuannya tidak lain untuk melamar Vefe menjadi menantunya. Mereka di sambut ramah oleh Umi Maryam dan Mpok Ria.


Berbincang dengan akrab, dan mengutarakan dengan tujuan tanpa ada kendala. Umi Maryam juga bercerita sekilas tentang Vefe dan kisah mulai dari bayi. Umi Maryam tidak ingin menutupi latar belakang kehidupan putri angkatnya.


"Kami tidak mempermasalahkan latar belakang Nak Ve, Bagi kami yang terpenting putra kami bahagia itu sudah cukup." Bunda Fatia langsung menanggapi setelah Umi Maryam bercerita.


"Terima kasih telah menerima putri kami apa adanya."


"Ayah sudah memutuskan dua minggu lagi akan diadakan acara akad nikah, apakah Umi Maryam setuju?" tanya Ayah Jose.


"Mengapa cepat sekali, kami harus mempersiapkan ...?" Bunda Fatia langsung mengusap lengan Umi Maryam, "Umi jangan khawatir. Umi tidak perlu melakukan apapun, semua akan dipersiapkan oleh Asisten Satria."


"Apakah boleh mereka akad nikah di sini, Bunda?" tanya Umi Maryam.


"Tentu, kami setuju semua syarat yang diajukan Umi Maryam, jadi kita sepakat dua minggu lagi akad nikah, dilaksanankan di panti asuhan. Dan yang mempersiapkan semua Asisten Satria."


"Baik Bunda, terima kasih."


Mereka masih berbincang sambil bercanda di ruang tamu. Khan mengajak Vefe untuk duduk di teras, "Ada apa sih, Mas?"


"Akad nikah kita tinggal dua minggu lagi."


"Ya terus kenapa?"


"Mas masih ingin melanjutkan tentang tadi yang terputus."


Vefe pura-pura lupa dan tidak ingin membicarakan tentang ciuman yang belum pernah dilakukan, "Pembicaraan apa?"


Khan mentowel hidung Vefe dengan gemas, "Jangan pura-pura lupa, kita tadi membicarakan tentang ciuman."


"Jangan bilang Mas Khan mau belajar sekarang, Ve tidak mau!"


"Yeee Ve kali yang ngarep, Mas mau membicarakan tentang satu lagi."


"Tentang apa?"


"Tentang M ... P," bisik Khan di telinga Vefe.


"Mas Bule ... jangan modus ya," kata Vefe sambil mencubit lengan Khan dengan keras.


BERSAMBUNG


Jangan lupa mampir ya shobat Anna di novel teman. Ini rekomen bangetlo sambil menunggu KKJ up lagi.

__ADS_1



__ADS_2