
Ayah Jose dan Bunda Fatia bergegas meninggalkan tempat saat milhat Khan memperhatikan mereka. Untungnya lampu temaram membantu untuk tidak terlalu terlihat wajahnya. Berjalan menuju hotel tempat mereka menginap.
"Apakah dia mengikuti kita, Yah?" tanya Bunda Fatia tidak berani menengok ke belakang.
"Tidak tahu dong, Bun. Ayah tidak berani menengok ke belakang."
"Ayo cepat, Yah. Jangan sampai ketahuan!"
Tanpa menengok ke belakang berjalan melewati restoran siap saji yang terlihat masih ada pembeli, "Kita masuk ke sini saja, Bun," ajak Ayah Jose.
"Ayah mau beli?"
"Iya bali saja satu porsi."
Saat mereka mengantri di makanan siap saji, Bunda Fatia baru berani menengok ke belakang. Tidak ada yang mengikutinya dan tidak ada seorangpun yang ada di belakang mereka.
"Semoga Khan tidak tahu kalau kita melihat dia ya, Yah."
"Aamiin, kalau Ayah berdoa semoga trauma Khan bisa berangsur-angsur sembuh setelah mengenal gadis itu.
Sementara Khan yang sedang duduk berdua dengan Vefe sempat berdiri. Memperhatikan satu pasang suami istri yang berjalan tergesa-gesa menjauh. Seperti mengenal mereka, tetapi sayangnya wajah mereka tidak terlihat.
"Cari siapa sih, Mas?" tanya Vefe juga ikut memperhatikan dan ikut berdiri.
"Itu lo, Ve. Mas seperti mengenal mereka." Khan hanya menunjuk satu pasangan suami istri yang memakai jaket berwarna hitam.
"Siapa mereka, Mas?"
"Entahlah, Mas jadi teringat Bunda dan Ayah."
"Apakah orang tua Mas sudah kembali ke Indonesia?"
"Belum sih, Ve. Kemungkinan bulan depan Ayah dan Bunda akan kembali ke Surabaya.
"Sudah malam, Mas. Kita masuk yok!"
Vefe langsung beristirahat masuk kamar bersama Mpok Ria. Khan ingin mencari Asisten Satria ingin berbincang sebentar. Baru berbelok dan ingin ke kamar, Khan bertemu dengan Umi Maryam.
"Umi ...!"
"Nak Khan, di manaVe?"
__ADS_1
"Ve sudah masuk kamar bersama Mpok Ria.
Khan teringat Bunda Fatia saat berhadapan dengan Umi Maryam. Berpikir sebaiknya berterus-terang jika sudah menjalin hubungan dengan Vefe. Lebih baik langsung meminta restu dari pada harus menyembunyikan hubungannya dengan vefe.
"Umi ... Apakah Khan boleh berbicara sebentar?"
"Tentu, Nak. Ada apa?"
Khan mengajak duduk di ruang makan meminta koki untuk membuatkan cokelat hangat. Teh hangat untuk Umi Maryam sebagai teman berbincang. Di tambah buah mangga yang sudah di potong dadu untuk camilan.
"Terus terang Khan menyulai putri Umi. Jadi Khan mohon doa restunya ya Umi?"
"Doa restu bagaimana maksudnya, Nak?"
"Hari ini Khan sudah mengungkapkan perasaan kepada Ve. Kami sudah menjadi pasangan kekasih sekarang."
Umi Maryam menjawab dengan tersenyum dan mengangguk. Dari awal memang sudah memprediksi jika dia menyukai putri angkatnya, "Umi doakan semoga kalian berjodoh."
"Aamiin, Khan tidak berniat main-main, tetapi Khan memohon butuh waktu untuk mengenal Vefe lebih jauh."
"Katakan apa yang ingin Nak Khan lakukan untuk hubungan kalian ke depannya?"
Umi Maryam tergelak mendengar pengakuan Khan. Terkesan terburu-buru karena baru hari ini jadian langsung ingin menikah, "Jangan terburu-buru, Nak. Sebaiknya saling mengenal telebuh dahulu!"
"Baiklah, Umi. Seandainya nanti Bundanya Khan mencari Umi jangan kaget ya?"
Umi Maryam mengerutkan keningnya sambil memandang wajah Khan yang terlihat khawatir, "Ada apa dengan Bundanya Nak Khan?"
"Bunda Khan sudah pingin mempunyai menantu perempuan," jawab Khan asal.
"Coba Nak Khan ceritakan sekilas tentang keluarga!"
"Khan dua bersaudara, adik perempuan bernama Elya sudah menikah dengan laki-laki muslim Amerika dan memiliki putri enam tahun bernama Freya Smith. Bunda Fatia kelahiran Ngawi dan Ayah Jose keturunan Amerika Surabaya."
"Keluarga Nak Khan tinggal di Jakarta sini?"
"Tidak ... Umi, Elya ikut suaminya diManhetten New York. Ayah Jose dan Bunda Fatia tinggal di Surabaya, tetapi saat ini ayah dan bunda sedang ada di Manhatten."
"Orang tua sedang menengok cucu dong berarti?"
"Ayah memiliki bisnis di sana, Umi. Jadi terkadang tinggal di Manhetten terkadang tinggal di Surabaya."
__ADS_1
"Baiklah ... Umi tidak sabar ingin bertemu dengan Bundanya Nak Khan."
Khan mengagguk dan tersenyum sambil membayangkan jika saat ini beliau tahu. Bahwa dirinya sudah jadian dengan Vefe. Bisa dipastikan dia langsung pingin melamar untuk dijadikan menantu.
Bunda Fatia orangnya tegas dan tidak pernah menunda pekerjaan. Apa yang sekiranya di rasa baik langsung akan dilakukan tanpa meminta perimbangan siapapun. Terkadang meminta pertimbangan Ayah Jose setelah Bunda Fatia bertindak.
Ayah Jose cenderung kalem dan tidak terburu-buru. Selalu banyak pertimbangan saat akan memutuskan sesuatu. Perbedaan ke duanya terkadang membuat mereka sering berdiskusi dalam waktu yang lama sebelum mengambil keputusan.
Pada hari Minggu pagi, Asisten Satria membagikan seragam, tiket masuk arena permainan dan wisata yang ada di Ancol. Pengawasan di bagi menjadi dua pengawasan Erina dan Daniel. Dan pengawasan Asisten Satria dan Nina istrinya.
Untuk Umi Maryam dan Mpok Ria di bebaskan boleh ikut rombongan siapa saja. Khan dan Vefe hari ini akan melakukan wisata berdua. Berencana akan mengunjungi Sea world yang ada di area Ancol.
Romongan berencana ke sana setelah istirahat siang. Asisten Satria sengaja mengatur seperti itu. Tujuannya agar Khan dan Vefe bisa berwisata dan berpacaran tanpa ada yang mengganggu.
Khan dan Vefe berjalan melihat-lihat akuarim raksasa yang menampilkan berbagai macam spesies ikan. Khan tidak terlalu fokus pada akuarium raksasa. Bagi Khan lebih tertarik menikmati indahnya wisata berdua.
Berjalan awalnya hanya beriringan sambil melihat banyaknya ikan yang berenang bebas. Pengunjung mulai banyak berdatangan sehingga mulai padat. Mereka sering terpisah karena ada yang berjalan diantara ke dunya.
"Ve ...!" teriak Khan saat Vefe terdorong orang lewat dan posisinya jauh dari Khan.
"Ya Mas."
Khan bergegas mendekati Vefe dan menautkan tangannya dengan sempurna. Menggenggam disela jari, agar tidak mudah terpisah saat ada wisatawan yang lewat.
"Ayo kita jalan lagi!"
Vefe hanya mengangguk dan tersenyum. Dia memilih menunduk sambil melihat tangan Khan yang menggenggamnya dengan erat. Debaran jantung semakin terpacu kencang.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan memutari area Sea World. Sampai di akuarium Antasena Tunnel mereka merasakan dikelilingi oleh biota laut karena mereka berjalan di terowongan bawah akuarium.
Antasena Tunnel merupakan akuarium raksasa yang menampung hingga lima juta liter air laut serta ratusan jenis biota yang ada didalamnya. Vefe tanpa sadar mengeratkan jemarinya saat berdiri di terowongan setengah lingkaran itu.
"Kenapa Ve, apakah takut?"
"Bukan takut, Mas. Ve merasa seperti di dalam lautan dan dikelilingi ribuan ikan."
"Apa yang ve rasakan selain itu?"
"Ve jadi sedikit pusing saat ikan-ikan itu seolah mengikuti kita."
"Ve pusing, apakah perlu kita mencari klinik di luar Sea World sini?"
__ADS_1