Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 68. Cantik


__ADS_3

Vefe tergelak mendengar pertanyaan Khan tentang ikan asin. Kekasih yang ada di hadapannya sangat terlihat tidak pernah menjadi orang susah. Rasa ikan asin saja tidak mengetahuinya.


"Yang namanya ikan asin, Mas. Dimasak apapun juga rasanya tetap asin."


"Lo benarkah, saat pertama Mas makan ikan asin di panti asuhan dulu mengapa rasanya manis ya?"


"Iiiih Mas Khan ngarang aja itu."


"Beberan itu, Ve. Mas makan sambil melihat wajah Ve rasanya menjadi manis."


"Dasar gombal."


Pesanan ikan bakar datang beserta minum jus mangga. Ditambah air mineral dan buah untuk pelengkap. Menikmati dengan lahap tanpa banyak berbincang.


Sampai menu makan siang habis, Khan melanjutkan berbincangan yang tertunda , "Setelah ini, Ve mau ke mana?"


"Kembali bekerja dong, Mas."


"Ikut ke kantor Mas Khan yok!"


Vefe menggeleng dengan cepat, ingatannya langsung tertuju pada ucapan salah resepsionis. Dia langsung menatap penampilannya sendiri. Tidak ingin mengalami apa yang dialami tadi pagi.


"Maaf ... Mas, Ve harus bekerja lagi. Masih banyak pesanan yang harus dipesan." Vefe langsung memberikan alasan yang masuk akal agar tidak dicurigai.


"Baiklah, tetapi lain kali Ve harus berkunjung ke kantor."


"Iya Mas, Insyaallah."


Khan langsung mengantar Vefe ke Verin Olshop setelah selesai makan. Tidak lupa Khan membelikan dua porsi nasi ikan bakar untuk Erna dan neneknya. Khan selalu memperhatikan orang yang sekeliling Vefe untuk bisa berbagi.


Baru sampai di halaman Verin Olshop, Asiten Satria menghubungi Khan. Khan harus melakukan meeting online dengan klian dari Bandung. Mereka meminta bertemu dan bernogosiasi sekarang.


Vefe langsung turun dari mobil tanpa menunggu Khan membuka pintu mobil. Dia bergegas berpamitan dan mengucapkan terima kasih dan ingin segera masuk Verin Olshop.


"Ve ... Tunggu!" teriak Khan.

__ADS_1


Vefe langsung menghentikan langkahnya, "Ada apa, Mas?"


"Mas harus meeting online. Apakah Mas boleh pinjam tempat?"


Vefe mengerutkan keningnya, karena ruang yang dipakai Verin Olshop sangat kecil, "Tempetnya kecil dan sempit, Mas."


Khan mendekati Vefe dan berdiri di sampingnya langsung berbisik, "Yang penting bisa duduk di samping Vefe."


Dengan spontan Vefe memukul pundak Khan perlahan, "Jangan merayu terus, Mas."


Khan tergelak melihat wajah Vefe yang terlihat merah merona. Yang tadi baru bertemu wajahnya terlihat di tekuk sekarang sudah terlihat ceria. Merasa lega dengan banyak berusaha merayu akhirnya sudah berubah.


Khan melakukan meeting dengan mengenakan pakaian kebesarannya kembali. memanjangkan lengan panjang, memakai dasi dan jas. Dududk di samping Vefe yang sedang konsenterasi mengerjakan pembukuan.


Saat melakukan meeting online, Vefe tidak terlihat di layar. Sengaja tidak diperlihatkan pada siapapun. Khan hanya seseklali melirik kekasih hati yang sedang konsentrasi.


Saat mendengar keterangan Sartia yang panjang, Khan sengaja menarik tangan Vefe dan menggenggamnya erat. Vefe langsung menarik tangannya cepat takut terlihat pada layar.


"Mas, awas terlihat ... malu tahu," bisik Vefe menjauhi kamera.


Khan melirik sambil tersenyum, hatinya sangat bahagia bisa bercanda dan duduk berdampingan. Rasanya bibir terus saja mengembang tanpa henti. Khan tidak memperhatikan ada Erina di depan mereka.


Awalnya Erina berada di depan Vefe dan Khan. Dia juga mengerjakan tugas dengan konsentrasi. Setelah setengah jam pekerjaan Erina selesai. Dia lebih memilih meninggalkan sepasang kekasih yang sedang mabuk asmara.


Khan menutup laptop dan merapikan dokumen yang sudah selesai. Dimasukkan kembali kedalam tas kerjanya. Melihat Vefe masih menghitung dengan menggunakan kalkulator.


Dengan sengaja Khan mendekatkan tubuhnya melihat Vefe yang konsentrasi. Menyenggol lengan Vefe agar Vefe menengok. Karena Vefe sangat konsentrasi, lengannya di senggol Khan spontan dia menengok.


Khan memiringkan wajahnya dengan cepat saat Vefe menengok ke samping. Bibir Vefe langsung menempel pipi Khan tanpa sengaja. Seperti saat adegan Khan yang mencium pipi Vefe tanpa sengaja.


"Eee Mas, usil banget, Sih. Ve tidak berniat ...?"


Vefe tidak melanjutkan ucapannya karena melihat Khan tergelak. Dengan sengaja Khan menepuk pipi yang tidak terkena bibir Vefe, "Satu lagi dong sekalian biar seimbang!"


"Ogah banget, keenakan Mas Khan, Vefe tidak sengaja kok."

__ADS_1


"Boleh kalau Ve mau sengaja tetapi di sini!" Khan menunjuk bibirnya sambil tersenyum devil.


Vefe mengerucutkan bibirnya kesal pada kekasihnya. Dari pagi selalu usil dan merayu. Sekarang dia dengan tidak sengaja Vefe mencium pipi Khan.


"I love you, Vefe cantik," Khan kembali merayu vefe.


Vefe menunduk dan tidak menjawab ucapan Khan yang membuat debaran hati semakin kencang. Seharian ini Vefe dihadaplkan dengan dua peristiwa yang saling berlawanan. Seolah hati dan pikiran berjalan berlawanan arah.


Pikiran selalu insecure dengan nasib kehidupan dan kenyataan hidup. Hatinya selalu bunga-bunga saat di rayu dan di sanjung. Seperti sisi mata uang yang saling berlawanan.


Khan pulang dengan hati bahagia bisa menghabiskan waktu berdua. Bisa merayu dan membuat dia tersenyum dan tersipu malu. Bisa membuat dia dari perasan yang borring menjadi bahagia.


Hari Sabtu pagi Khan dan Asisten Satria harus terbang ke Sulawesi. Sehingga malam Minggu ini terpaksa Khan tidak bisa berdua menghabiskan waktu dengan Vefe. Dia harus mengatasasi masalah perusahaan di sana.


Khan hanya berpamitan menggunakan Vedio Call. Berbincang sambil memandangi wajahnya. Sebenarnya tidak rela tidak bisa menikmati malam Minggu berdua.


Sampai di Sulawesi, Khan langsung tancap gas melakukan tugas tanda di tunda. Asiten Satria juga langsung melakukan semua tugas bersama Khan. Berdua salling bahu-membahu agar semua cepat selesai.


Hari Minggu Khan dan Asisten Satria tetap bekerja tanpa henti, walaupun seluruh karyawan hari Sabtu dan Minggu libur. Sehingga dua hari ini mereka tidak bertemu dengan Eno. Eno juga tidak mendengar kabar jika atasannya sekaligus laki-laki yang disukainya selama bertahun-tahun datang ke Sulawesi.


Setelah hari Senin Eno masuk ke kantor. Dia mendengar cerita tentang CEO pusat datang ke Sulawesi. Dia langsung berjingkrak kegirangan berlari mencari orang yang sangat di cintai.


Eno tidak masuk ke kantornya sendiri, dia langsung berlari menuju kantor yang biasa di tempati Khan saat datang, "Mas Khan!" teriak Eno berlari masuk tanpa mengetuk pintu.


Eno seperti mendapatkan kotak kosong saat ini. Khan tidak berada dalam kantornya. Tidak ada tanda-tanda ada orang yang beraktifitas di sana.


Eno keluar dari kantor dengan hati kecewa. Ingin bertanya kepada kepala bagian HRD yang ada di sebelahnya. Sayangnya dia juga tidak menemukan ada orang di sana, "Pada ke mana semua orang hari ini?" monolog Eno sendiri.


Eno tidak putus asa, dia berjalan menuju lobi. Ingin bertanya kepada resepsionis yang bertugas. Belum sempat bertanya Eno melihat Khan di dampingi oleh Asisten Satria berjalan menuju lobi.


Eno langsung berlari mendekati Khan dengan merentangkan tangannya, "Mas Khan ...!"


BERSAMBUNG


Hai Shobat mampir yok di novel temen yang rekomen ini.

__ADS_1


ini seru banget lo



__ADS_2