
Kedua putri ketua anggota dewan juga kaget saat memandang Vefe. Bahkan kado yang mereka bawa sampai terjatuh. Mereka tidak menyadari jika kadonya sudah tergeletak di lantai.
"Ayah ... Siapa dia, mengapa seolah Ibu hidup kembali di hadapan kita?" tanya Putri sulung ketua anggota Dewan yang bernama Darwati Raharjanto.
"Gaun yang dikenakan dia seperti tidak asing lagi, Mbak Darwati." Suprapti Raharjanto adiknya juga bingung.
Khan langsung menyalami ketua anggota dewan, "Selamat datang, Tuan. Terima kasih telah hadir, perkenalkan ... !" Khan tidak jadi melanjutkan ucapannya saat ketua anggota dewan melihat Mommy Astrid datang dengan berlari dari kamar mandi mendekati Vefe dan berdiri di samping Bunda Fatia, "Ayah Janto, apakah Anda masih ingat Astrid?"
"Kamu ...!" teriak Pak Raharjanto.
"Siapa dia, Ayah?" tanya kedua putri ketua anggota dewan bersamaan.
"Dia adalah menyebab Mas Igun meninggal dunia," jawab Pak Raharjanto dengan pandangan mata yang tajam.
"Apakah Anda masih marah pada saya, Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya sudah menanggung rasa bersalah itu selama bertahun-tahun?"
"Dia siapa?" tanya Pak Raharjanto menunjuk ke arah Vefe.
"Maaf ... Ayah. Apakah boleh wartawan keluar sebentar, saya ingin berbincang secara pribadi dan hanya terbatas untuk keluarga saja?"
__ADS_1
Ada beberapa rombongan wartawan yang tadi mengikuti ketua anggota dewan. Mereka ingin meliput kegiatan yang dilakukan oleh ketua dewan. Apalagi jika tentang anak yatim piatu biasanya anggota dewan selalu merespon dengan cepat.
Pada awalnya mereka kagum karena seorang ketua dewan bersedia datang ke undangan ulang tahun dengan membawa serta seluruh keluarga. Namun melihat mata dan wajah ketua anggota dewan tidak ada yang menyangka, dia terlihat marah dan kesal.
"Apa maksud kamu, apakah kamu mau meminta maaf dengan menunjukkan seorang wanita yang mirip dengan mendiang istriku?" tanya Pak Raharjanto dengan nada yang ketus dan emosi.
"Bukan begitu, Ayah. Saya hanya ingin ....?" mulut Mommy Astrid seolah langsung dibungkam saat tangan Pak Raharjanto memberikan kode untuk tidak bicara lagi.
"Cukup ... Usaha kamu tidak akan berhasil."
"Saya ingin menjelaskan dia adalah ...!"
"Tidak perlu menjelaskan apapun, kami tidak akan pernah memafkan kamu!" teriaknya lagi.
"Ayah ... Saya mohon dengarkan saya sebentar!"
"Tidak perlu, anak-anak ayo pergi dari sini. Maaf Tuan Khan kami harus pergi sekarang. Saya mengucapkan selamat ulang tahun kepada istri Anda, permisi!"
Pak Raharjanto beralik badan meninggalkan tempat. Diikuti putri, menantu dan cucunya. Kado tetap tergeletak di lantai tanpa di serahkan kepada yang berulang tahun. Kemungkinan mereka tidak tahu yang mana istri dari Khan.
__ADS_1
Mommy Astrid tergugu duduk di lantai di samping dua kado. Daddy Kim Oen dan Lee Kim Oen langsung mendekati, "Ayo bangun Mom!"
"Darling bersabarlah."
Vefe juga tidak kalah syok melihat dan mendengar kakeknya sendiri emosi. Pikirannya bingung dan bersedih. Ternyata ketakutannya beberapa hari ini terbukti, tidak diterimanya sebagai keluarga mereka.
Khan langsung memeluk Vefe dengan erat, "Sabar ya, Mami. Semua hanya salah faham, pasti nanti ada jalan keluar masalah ini."
Vefe semakin tergugu dalam dekapan suaminya. Bunda Fatia juga hanya bisa mngusap pundaknya, "Suamimu benar, Nak. Mereka belum mengenalmu."
"Maafkan Mommy, Nak Ve. Mammy tidak bisa meyakinkan keluarga ayah kandungmu menerimamu."
Mommy Astrid menangis dalam pelukan Lee Kim Oen dan Daddy Kim Oen, "Yang sabar, Mom."
Untung wartawan mengikuti ketua anggota dewan dan keluarga keluar restoran. Tidak ada yang tertarik meliput acara ulang tahun yang terlihat sederhana. Mereka lebih tertarik dengan latar belakang keluaga Pak Raharjanto.
Lee Kim Oen sengaja mengalihkan perhatian agar Mammy Astrid dan Vefe tidak bersedih. Juga karena penasaran isi amplop yang dipegangnya dari tadi. Dengan cepat Lee Kim Oen membuka amplop perlahan.
"What ... Oh my God ...!" teriak Lee dengan keras.
__ADS_1
Yang awalnya Mommy Astrid dan Vefe menangis tersedu-sedu. Spontan mereka melihat Lee Kim Oen, "Ada apa Lee?" tanya Daddy Kim Oen.
"Abang Ganteng ... Ini betul kado untuk Kak Ve. Abang tidak salah beli?" tanya Lee Kim Oen sambil mengedipkan mata kepala Khan memberikan kode.