Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 223. Satu Dayung Dua Pulau Terlampaui


__ADS_3

Kakek Raharjanto mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Khan. Datang Asisiten Satria bersama pengacara yang telah membantu menangani kasus Eno. Pengacara sekaligus putra dari teman Ayah Jose yang bernama Firman Fadillah.


Pengacara jebolan kampus USA lima tahun yang lalu itu sering memenangkan kasus. Dengan prinsip kejujuran dan bukti kuat tentunya.


"Duduk Firman, bagaimana kabar Abi kamu?" tanya Ayah Jose.


"Abi Alhamdulilla sehat, Uncle."


"Ada apa ke sini, Bro?" tanya Khan kepada Firman.


"Gue mau laporan pada Uncle, karena kasus ini Uncle yang gaji gue."


Firman mulai memberikan laporan tentang kasus Eno. Kabar dari pengadilan Senin pada minggu depan persidangan akan segera di mulai. Disamping gabungan perusahaan yang menuntut hukuman penjara sepuluh tahun. Eno juga menuntut ganti rugi karena kerugian materi dan pencemaran nama baik.


Tuntutan Eno tidak main-main ganti rugi 100 M. Tutuntutan penjara lima tahun serta pemutusan hubungan kekasih. Bahkan dari Toni Prawira tiba di Indonesia, Eno belum pernah menemui mantan calon suami.


Eno hanya menemui May di lapas wanita itupun di temani oleh Rian Santoso. Eno juga menuntut ganti rugi dan pencemaran nama baik pada mantan sahabat sekaligus asistennya. Bahkan Mayasari dimaki-maki oleh Eno di hadapan orang banyak.


Firman Fadillah menyampaikan pesan dari orang tua Eno. Berharap keluarga Ayah Jose menghadiri sidang perdana nanti. Memberikan dukungan sepenuhnya untuk Eno.


Ada pesan satu lagi khusus dari Eno. Dua hari sebelum persidangan dimulai, tepatnya hari Sabtu besok keluarga besar Rian Santoso akan datang ke apartemen milik Eno. Mereka akan melamar secara resmi dan bertemu dengan dua keluarga.


"Katakan pada mereka lebih bagus satu hari sebelum sidang, Eno dan Rian melakukan akad nikah saja!" perintah Ajah Jose.


"Siap ... Uncle, nanti saya sampaikan kepada Pak Marsono."


"Jangan di paksa, Ayah. Kata Mami kemarin Eno masih ragu."


"Khusus untuk Eno harus sedikit dipaksa. Ayah tidak ingin Eno membayangi Khan lagi."


"Setelah dia bicara dengan Mami, Khan percaya tidak mungkin lagi dia mengganggu."


"Apakah kemarin Nak Ve bicara tegas pada Eno?"


"Bukan tegas lagi, Yah. Dia mungkin tidak akan berani lagi melirik Khan seperti kemarin."


Ayah Jose berpesan balik untuk Pak Marsono. Kemungkinan tidak bisa menghadiri sidang perdana yang akan dilakukan minggu depan. Pasalnya harus cepat kembali ke Manhatten, tetapi Bunda Fatia tetap masih ada di Jakarta.


Firman Fadillah masih berbincang dengan Ayah Jose dan Asisten Satria. Kakek Raharjanto mengajak Khan untuk duduk di gazebo yang ada di belakang rumah. Ingin melanjutkan pertanyaan yang tadi ditunda karena ada tamu yang datang.


"Kakek ingin bertanya apa sih?" tanya Khan setelah mereka duduk.

__ADS_1


"Kakek ingin bertanya tentang Umi Maryam."


Khan tersenyum sambil menepuk pundak kakeknya, "Kakek suka sama Umi Maryam?"


"Entahlah ... rasanya adem saat melihat wajah ibu angkat Nak Ve itu, tetapi sepertinya dia tidak suka."


Khan langsung teringat cerita Vefe tentang Umi Maryam dan Abi Syam. Pasangan abadi yang seolah tak terpisahkan padahal salah satunya sudah menghadap Ilahi Robbi. Cinta Umi Maryam yang sampai sekarang tak pernah lekang dimakan jaman.


"Boleh Khan terus terang, Kek?"


"Tentu saja, Nak. Itu yang Kakek harapkan."


Khan akhirnya bercerita tentang kisah hidup Umi Maryam. Menceritakan dedikasi hidupnya hanya untuk panti asuhan setelah Abi Syam berpulang ke haribaan Ilahi Robbi. Bercerita juga dulu ada beberapa laki-laki yang ingin melamarnya juga tetapi ditolak.


Umi Maryam tetap masih setia kepada pasangan hidup. Tidak berniat untuk menikah lagi walaupun belum pernah memiliki keturunan. Sampai sekarang pun Umi Maryam masih menutup diri untuk lawan jenis.


"Apakah Umi Maryam tahu kalau kakek suka sama beliau?"


"Kakek juga tidak tahu, Nak. Tetapi sepertinya dia biasa-biasa saja setiap Kakek datang."


"Menurut Khan, Kakek jangan terlalu berharap besar sama Umi Maryam. Kakek harus bekerja keras untuk bisa mendekati beliau."


Kakek Raharjanto hanya tersenyum dan mengangguk. Sudah merasakan dari kemarin jika pimpinan panti asuhan itu sering menghindar saat dirinya datang bertamu. Sering hanya menemui sesaat saja kemudian lebih memilih menyibukkan diri dengan urusan anak-anak.


"Khan belum bisa menilai secara detail, Kek. Khan harus bicara dulu dengan Umi Maryam."


"Eee jangan cerita pada dia tentang Kakek, Kakek jadi malu."


Khan tergelak mendengar pengakuan jujur Kakek Raharjanto. Ternyata walaupun sudah cukup umur, kalau orang sedang jatuh cinta. Tetap saja malu-malu kucing seperti anak muda yang sedang jatuh cinta.


"Lain kali kalau Kakek ke panti asuhan, hubungi Khan saja, Kek. Jadi Khan bisa menilai bagaimana perasaan Umi."


"Baiklah ...."


"Tetapi jangan sering-sering Kakek ke sana!"


"Kenapa, Nak?"


"Ketahuan banget kalau Kakek suka sama Umi Maryam."


"Kapan kita ke sana?"

__ADS_1


"Nanti saja kalau Khan libur, nanti kita ke sana bareng sama maminya Aaron."


"Ok ... Kakek tunggu!"


Khan mengangguk sambil tersenyum. Berucap syukur karena satu kali dayung dua pulau terlampaui. Bisa menyelesaikan masalah yang di minta Vefe sekaligus bisa membantu kakek untuk mendapatkan jawaban tentang Umi Maryam.


Setelah makan malam, Kakek Raharjanto dan Firman Fadillah berpamitan pulang. Hanya Asisten Satria yang masih duduk menikmati kopi buatan Pak Gun. Masih ingin meminta tanda tangan berkas dokumen penting.


"Saya hari ini terpaksa ikut Firman ke apartemen Eno, Tuan."


"Mengapa terpaksa?"


"Pengacara Firman tidak mau bertemu dengan Eno sendirian."


"Maksudnya apa?"


"Tuan ini, Pengacara Firman orangnya tajir, jadi takut di dekati Eno."


Khan mengerutkan keningnya sambil berpikir. Firman sudah menikah tiga tahun yang lalu. Sekarang ini dia mempunyai putri kembar yang lahir tidak jauh dari baby Aaron.


"Firman itu sudah punya istri dan anak, mengapa takut?"


"Karena kemarin Eno bertanya kepada saya tentang kehidupan pengacara itu."


Asisten Satria bercerita setelah Pengacara Firman berhasil mengeluarkan Eno dari penjara. Berhasil pula mengembalikan uang ibu-ibu sosialita. Eno mulai simpati dan kagum kepada pengacara yang ditunjuk oleh Ayah Jose.


Walaupun Asisten Satria memperingatkan Eno jika Firman Fadillah sudah memiliki istri dan anak. Eno tetap saja sering bertanya tentang kehidupan pribadi sang pengacara. Tidak memperdulikan status dan latar belakang kehidupan pengacara itu.


Tanpa sengaja Vefe mendengar cerita Asisten Satria saat turun tangga, "Yang benar, Bang. Eno mau mendekati pengacaranya sendiri?" tanya Vefe terdengar kesal.


"Belum mendekati, tetapi baru bertanya-tanya saja."


"Kemarin dia berjanji akan berubah, mengapa sekarang dia berubah pikiran?"


"Jangan emosi, Mami. Kata Firman hari Sabtu besok keluarga wakil sipir itu melamar resmi ke apartemen, Keluarga Eno mengundang kita ke sana."


"Mau lamaran mengapa masih bertanya tentang si pengacara, memang minta di sleding Mbak Eno itu!"


"Ha ha ha!"


BERSAMBUNG

__ADS_1


jangan lupa mampir ke novel teman author yang rekomen banget ini ya, ada di novel toon juga kok. terima kasih



__ADS_2