
Saat ini Khan sedang duduk berdampingan dengan Vefe di pesawat menuju Jakarta. Jantungnya kini seperti gendang yang ditabuh. Berdegup kenjang saat Vefe tertidur bersender di bahunya.
Biasanya hanya berjalan berdua, berinteraksi dan berbincang. Saat ini dia semakin dekat, pipi Vefe yang menempel di pundak. Tangan rasanya ingin menggapai dan mengelus pipinya.
Tangan ingin juga mendekap dan meraih pundaknya untuk masuk dalam dekapan. Hanya sayangnya itu di dalam angan saja. Khan masih terpaku dan tegang, karena baru pertama kali berdekatan dengan seorang wanita seperti saat ini.
Melirik Gi dan Ji yang duduk di sebelahnya berjarak jalan. Mereka juga terlelap sambil bersender di kursi. Hanya dirinya yang sekarang ini fokus pada pundaknya.
Semakin lama Vefe semakin dekat, yang awalnya hanya pipi yang menempel. Saat ini tangannya di atas pangkuan. Jantung semakin terpaju seperti roller couster.
Khan mencoba menenangkan hati, ditata dengan mengambil napas dalam-dalam. Mencoba memejamkan mata untuk menata hati. Hanya sayangnya walau mata terpejam hati tetap tidak tenang.
Yang dipikir dan duduk di sebelah tetap terlelap dan tidak terbangun. Napasnya yang terdengar teratur menandakan tidur dengan pulas. Tangan Khan perlahan memegang pipinya yang halus.
Jantungnya seolah ingin melompat saat bisa mencuri kesempatan memegang pipinya. Vefe bergerak sambil membetulkan pipisi duduknya. Tangan Khan langsung ditarik dengan cepat, takut dia terbangun.
Ternyata dia hanya membetulkan posisi duduk dan masih bersender dengan sempurna, "Syukurlah ... Dia tidak terbangun." Khan bermonolog sendiri.
Hampir setengah perjalanan, kaki Khan kesemutan duduk kaku tidak berani bergerak. Takut membangunkan Vefe yang terlelap di pundak. Takut mengganggu mimpi indahnya siapa tahu mimpi bersamanya.
__ADS_1
Ada suara pilot atau Co Pilot yang terdengar sedang mengudara. Vefe terbangun dan duduk menegakkan badan. Dia terlihat gugup dan salah tingkah karena tertidur di pundak.
"Maaf ... Mas, Ve tertidur bersender di pundak."
"Tidak apa-apa, Ve. Mau tidur lagi di sini juga boleh!" Khan menepuk pangkuannya.
"Eee ...."
"Bercanda, Ve. Mau minum?"
"Boleh, Mas. Terima kasih."
Kembali terdengar suara yang mengatakan sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara Sukarno Hatta. Gi Dan Ji juga sudah terbangun, "Apakah sudah mau sampai, Kak Ve?" tanya Gi.
"Iya Gi, jangan lupa pasang sabuk pengamannya!"
"Sabuk pengaman Gi tidak pernah dilepas, Kak."
Khan tanpa sengaja memegang sabuk pengaman milik Vefe di samping kiri tempat duduknya. Dia langsung memiringkan badan dan memasangkan di pinggang vefe. Wajah bertemu wajah dengan jarak yang sangat dekat.
__ADS_1
"Ve juga harus pasang sabuk pengaman, Mas bantu ya!"
Vefe mengangguk sambil mencoba memundurkan badan. Padahal sebenarnya tahu betul tidak mungkin bisa mundur dibelakangnya ada sandaran kursi pesawat.
Napas beradu napas sampai terasa di hidung. Mata saling mengunci sesaat. Tangan memasang sabuk pengaman dengan sempurna.
"Terima kasih." Vefe semakin gugup setelah beberapa saat Khan tidak juga menarik wajahnya.
Vefe mengalihkan pandangan mata agar tidak saling menatap. Khan menarik badannya dan kembali di posisi semula. Ke duanya sama-sama gugup dan salah tingkah.
Suara bergemuruh pesawat mengalihkan perhatian Vefe dan Khan. Ke duanya memperhatikan Gi dan Ji yang terihat tegang. Sampai terasa pesawat landing dengan sempurna dan berjalan diatas landasan.
"Alhamdulillah, kita sudah sampai rumah," kata Ji terlihat lega.
Peswat berhenti dengan semprna. Penumpang berdesakan ingin segera turun, "Gi, Ji jangan turun dulu tunggu senggang. Tidak usah berdesakan!" teriak Vefe.
Khan hanya termenung, baru pertama naik pesawat komersil. Mungkin jika tidak ada niat ingin bersama Vefe, Khan enggan naik pesawat umum. Pasalnya naik dan turun selalu berdesakan dengan penumpang lain.
Setelah mulai kosong penumpang, Vefe berdiri dan menyenggol lengan Khan yang melamun, "Mas ayo turun kok malah melamun?"
__ADS_1