
Sebelum berangkat ke Jakarta, Eno meminta waktu untuk berganti baju. Dibantu MUA dan Emy Suratmi dia mencoba tegar. Hanya Ibu Eno yang terus meraung-raung dan menangis tidak rela putrinya di tangkap polisi.
Air mata Pak Marsono berlinang tanpa disadari. Nasib putrinya yang tidak beruntung membuat hatinya terluka. Tidak bisa berbuat apa-apa saat pihak kepolisian gabungan akan membawa putrinya ke Jakarta.
Eno keluar dari rumah dengan tersenyum walaupun air mata terus mengalir. Berusaha tegar dan ikhlas menerima kenyataan gagal menikah. Hanya dengan membawa tas slempang berisi identitas dan dompet, dia mendekati komandan polisi.
"Saya sudah siap, Pak Komandan."
"Ok terima kasih atas kerja samanya."
Komandan polisi dan anggota berpamitan. Meminta maaf kepada orang tua Eno dan tetangga sekitar. Harus membawa mempalai wanita yang seharusnya akad nikah saat ini.
Tepat pukul sembilan pagi seharusnya Eno resmi menjadi seorang istri. Hanya sayangnya kini dia resmi menjadi tahanan polisi. Harus rela meninggalkan begitu saja pesta mewah yang belum di mulai.
Tamu terus berdatangan di rumah Eno. Acara pesta pernikahan tetap berjalan walau tanpa pengantin. Bedanya tidak ada musik dan hiburan yang terdengar.
Hanya Pak Marsono yang sering menemui tamu undangan. Ibu Eno mengurung diri di kamar dengan didampingi keluarga dekat. Antara simpati, kasihan dan iba para tamu datang silih berganti.
Vefe dan Khan berpamitan pulang sesaat setelah Eno dibawa oleh gabungan polisi. Tidak berpamitan dengan tuan rumah. Hanya berpamitan kepada keluarga yang masih mau menemui para tamu.
"Kasihan Eno ya, Pi."
"Hhmm ...."
"Apakah kemungkinan Eno di penjara lama, Pi?"
"Tergantung, Mi. Dia bisa membuktikan tidak bersalah atau tidak, tetapi jika uang ibu-ibu hilang semua bisa dipastikan dia di penjara."
"Kalau seandainya uang ibu-ibu dikembalikan, bagaimana?"
"Kalau ibu-ibu ikhlas dan mencabut tuntutan dia bebas."
"Sudah lah, jangan bahas Eno terus. Besok pasti Bunda akan membantu mereka."
"Semoga saja mereka tabah dan bisa mengambil hikmahnya ya, Pi."
"Iya Aamiin."
Sampai sore hari hampir semua undangan datang. Banyak yang bersimpati dan banyak juga yang menghujat. Apalagi setelah viral di media sosial, semakin banyak simpati dan hujatan juga semakin besar.
__ADS_1
Rombongan ibu-ibu sosialita hari itu juga pulang ke Jakarta. Mereka beramai-ramai melaporkan Eno dan May ke kantor polisi. Dengan tuduhan menggelapkan uang arisan dan koperasi.
Tante Suprapti hanya singgah sejenak di rumah Bunda Fatia. Dia memilih pulang bersama rombongan ibu-ibu sosialita. Menolak saat diajak Khan untuk pulang bareng menggunakan pesawat pribadi.
Sore harinya Khan dan keluarga kembali ke Jakarta. Termasuk Bunda Fatia dan Ayah Jose serta keluarga Asisten Satria. Bunda Fatia memerintahkan Asisten Satria untuk membantu Eno.
Walau bagaimanapun juga Ibu Eno adalah sahabat Bunda Fatia dari dulu. Tetap tidak tega yang terjadi dengan putri sahabatnya yang terkena masalah hukum. Khan juga mengizinkan untuk sementara Asisten Satria membantu kasus Eno.
Pukul sepuluh pagi Asisten Satria mengunjungi Eno di tahanan. Wanita itu tersenyum saat melihat Asisten Satria duduk menunggunya. Wajahnya terlihat berseri dan tanpa beban sama sekali.
"Bang, terima kasih telah berkunjung ke sini, Akhirnya Mas Khan perduli dengan Eno lagi," kata Eno duduk di depannya dengan tersenyum manis.
"Jangan salah sangka, saya ke sini bukan karena perintah Tuan Khan, melainkan perintah Nyonya Bunda."
Wajah Eno seketika berubah muram dan sedih. Masih berharap laki-laki yang dulu dikejarnya masih menyukai dan perduli. Terlalu berharap yang sudah tidak mungkin lagi.
"Maaf ... Eno kira Mas Khan yang memerintahkan Abang ke sini."
"Sebelum saya menyampaikan tentang kasus kamu ini, saya akan memberikan nasehat sedikit untuk kamu, Eno."
"Iya Bang."
"Rubahlah pandangan hidup kamu yang selalu memandang harta dan kekayaan sebagai faktor utama, ingat mati kita tidak membawa harta. Kalau kamu ingin hidup tenang carilah imam yang sesuai dengan ajaran agama."
"Eno akan memikirkan nasihat Bang Satria, terima kasih."
"Bagus, kamu renungkan baik-baik perkataan tadi."
"Iya ...."
"Oya sebelum ke sini saya sudah menghadap komandan, sudah mendapat laporan tentang kasus kamu."
"Iya bagaimana, Bang?"
Asisten Satria bercerita ibu-ibu sosialita kemarin sudah melaporkan Eno secara resmi di kantor polisi. Pihak perusahaan juga melaporkan Eno ke polisi bersama Toni Prawira karena uang 1,5 triliun itu di transfer atas nama Eno. Dengan sendirinya Eno juga terseret kasus dengan perusahaan yang tidak dikenalnya.
Ada juga kabar baik untuk Eno hari ini. Kemarin rekening milik Eno sudah langsung di blokir oleh pihak bank atas perintah kepolisian. Kabarnya masih ada setengah triliun lagi yang masih ada di rekening itu.
Perpindahan dari rekening Eno ke rekening Toni Prawira memerlukan waktu yang lama. Karena adanya batas limit penarikan setiap harinya. Akan dicurigai jika memindahkan dana yang sangat besar sekaligus oleh pihak bank.
__ADS_1
Asisten Satria juga menceritakan saat ini pihak kepolisian bekerja sama dengan interpol dan kedutaan sedang mencari dua tersangka. May dan Toni Prawira yang kemungkinan berada di negara Belanda. Hanya sayangnya sampai sekarang mereka belum ditemukan.
"Alhamdulillah ...." Eno langsung berucap syukur karena uang ditabungan masih ada sisanya.
"Mengapa kamu berucap Alhamdulillah mereka belum ditemukan?"
"Eno berucap syukur karena uangnya masih sisa, Bang."
"Kamu masih memikirkan uang itu padahal kamu sekarang ini dipenjara karena uang itu?"
"Jangan salah faham dulu, Bang. Maksud Eno uang itu bisa Eno gunakan untuk mengembalikan uang arisan dan koperasi ibu-ibu sosialita."
Asisten Satria tersenyum devil. Sudah terlanjur menilai Eno selalu matre dan gila harta. Jadi bawaannya selalu curiga dan menganggap Eno belum berubah.
"Oooo kirain ...?"
"Apakah bisa uang itu langsung untuk mengganti uang mereka, Bang?"
"Itu yang memutuskan pengadilan, kamu tidak bisa seenaknya sendiri karena ini sudah memasuki ranah hukum." Tegas Asisten Satria.
Eno langsung menunduk lesu mendengar perkataan tegas Asisten Satria. Nasibnya kini berada di ujung tanduk. Ingin mencari suami kaya dan bahagia kini berada di penjara.
"Apakah Mas Khan ... Eee salah, Bunda merekomendasikan pengacara untuk Eno, Bang?"
"Belum, jangan berharap pada Tuan Khan lagi kamu, Eno."
Eno tidak menjawab perkataan Asisten Satria. Pandangan matanya sesaat terlihat kosong dan termenung. Seolah dia masih berat dan tidak bisa move on dari Khan.
"Eno ...!" teriak Asisten Satria.
"Iya Bang, ada apa?"
"Kamu masih mengharapkan Tuan Khan?"
"Dalam hati Eno masih menyukai dia," jawab Eno dengan jujur.
"Eeee ...?"
BERSAMBUNG
__ADS_1
jangan lupa mampir ke novel teman author yang rekomen ini ya, ada di novel toon juga kok, terima kasih.