Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 80. Dunia Pingsan


__ADS_3

Elya dan Freya hanya menginap dua malam di Jakarta. Mereka harus kembali ke Manhatten segera karena suami Elya kewalahan melayani pesanan pembelian maju muslim. Sekarang ini usaha mereka semakin besar yaitu memiliki konfeksi sendiri.


Khan akan mengantar mereka sampai bandara. Mereka harus menjemput Vefe untuk mengajak ke bandara. Dalam perjalanan Elya banyak sekali memberikan saran kepada kakaknya. Terutama tentang Vefe, walaupun baru bertemu dengan Vefe, Elya sangat memahami pribadi Vefe, "Mas harus banyak merubah Kak Ve agar dia lebih percaya diri."


"Ve tidak mau Mas pegangi ATM, dia tidak mau dianggap wanita matre."


"Caranya dong, Mas. Harus dengan cara yang halus."


"Apa contohnya cara yang halus itu?"


Elya tergelak sambil menggelengkan kepala melihat Khan yang tidak pernah berpacaran. Dia tidak memeiliki pengalaman cara membuat kekasih hati agar tetap di sisinya. Harus memiliki strategi khusus agar sang kekasih tetap berada di sampingnya.


"Isi rekening Kak Ve, agar dia bisa leluasa mengubah penampilannya dengan baik."


"Kemarin sudah Mas kasih ATM, tetapi langsung dikembalikan."


"El akan pesan produk dia, nanti Mas yang akan membayarnya."


"Nanti Mas trfanfer dalam jumlah banyak begitu?"


"Naaaah itu tahu, nanti kalau di tanya bilang saja salah menulis angka nolnya."


"Ok ... nanti Mas coba, tetapi kalau mau dikembalikan bagaimana?"


"Gampang jawabnya, Mas. Bilang saja itu tanda pengikat agar Kak Ve tidak lagi meninggalkan Mas Khan apapun yang terjadi."


Khan mengngguk setuju, sambil mempersiapkan jumlah yang akan di transfer. Harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan bank yang bersangkutan. Agar semua berjalan dengan lancar dan tidak dicurigai masalah pencucian uang.


"El buka saja Verin Olshop dan belanja sekarang!"


"Ok baiklah ...."


Elya membuka popnsel mencari aplikasi belanja online. Hanya dalam kurang dari satu menit Elya menemukan toko milik Vefe. Dengan mudah nomor ponsel dan nomor rekening didapatnya.


"Ini ada nomor dua rekening yang bisa digunakan, yang mana Mas?"


"Coba di cek terlebih dahulu, El. Dua nomor rekening berarti itu nomor milik Ve atau Erina."


Elya memeriksa nama dari pemilik nomor rekening yang ada di keterangan Verin Olshop. Yang pertam bernama Ernina Barkah dan yang satu lagi atas nama Vena Fatmala. Elya mengerutkan keningnya setelah membaca nama asli dari Vefe.


"Mengapa wajahmu jadi kaget begitu, El?"


"Namanya Vena Fatmala mengapa di panggil Vefe, Mas?"

__ADS_1


"Di panti asuhan semua penguninya dipanggil dengan huruf abjad saja, mulai dari Ai, Bi, dan seterusnya."


"Ooo ...."


Mereka sampai depan panti asuhan sudah disambut oleh Umi Maryam dan Mpok Ria serta Vefe. Bahkan Mpok Ria membuatkan kue dan camilan untuk Freya. Berpamitan dengan balita yang ada di panti juga dilakukan oleh Freya.


Dalam perjalan ke bandara Vefe dan Elya banyak berbincang. Khan banyak diam karena mereka berbincang tentang banyak masalah dan sekitar penampilan seorang wanita. Khan seperti hanya sebagai sopir saja tidak terlalu di perhatikan oleh Vefe.


"Kak Ve, tadi El sudah memesan beberapa kosmetik dan produk lainnya di Verin Olshop, nanti tolong di kirim ke Manhetten ya!"


"Mbak El yakin memebli produk yang Ve jual?"


"Eee mengapa tidak percaya, yakinlah?"


Vefe nyengir kuda merasa tidak yakin karena melihat penampilan Elya yang selalu terlihat elegan. Produk yang di jual di Verin Olshop sebagian besar berkualitas standar orang Indonesia. Tidak termasuk barang mewah bagi ukuran keluarga berada seperti Elya.


"Di Manhatten banyak teman El yang suka produk asli Indonesia apalagi yang terbuat dari bahan alami."


Vefe hanyak mengangguk mendengar Elya meyakinkan tentang pembelian produk. Vefe bergegas melihat pesanan dalam jumlah besar oleh Elya, "Kok banyak sekali pesanannya?"


"Sebagian akan El bagikan untuk teman yang di sana terutama teman yang asli Indonesia, untuk promo siapa tahu cocok dan nanti El promokan biar usaha Kak ve semakin maju."


"Waaah terima kasih."


"Baik ... Terima kasih telah berbelanja di toko Verin."


Sampai di bandara Vefe di ajak masuk melalui pintu khusus. Bukan melalui pintu penumpang yang akan menaiki pesawat komersil. Vefe tidak mengetahi jika keluarga Khan memiliki pesawat pribadi.


Saat Khan menggandeng tangan Vefe memasuki area private room Vefe masihi bingung. Khan mendekati telinga Vefe, "Ada apa, Sayang?"


"Kok pintu masuk bandaranya tidak lewat sana, Mas?"


"Ini pintu masuk khusus untuk pesawat pribadi, Sayang."


Vefe tertegun mendengar jawaban Khan. Tidak pernah membayangkan sedikitpun jika keluarga kekasihnya memiliki pesawat pribadi, "Mbak Elya memiliki pesawat sendiri?"


"Pesawat milik keluarga bukan milik Elya saja, mulai sekarang Ve juga termasuk pemiliknya," jawab Khan sekenanya.


"Jangan bercanda, Mas. Dunia nanti pingsan kalau Ve memiliki pesawat pribadi."


Khan tergelak mendengar jawaban Vefe sambil membayangkan seperti apa dunia jika pingsan. Susah dibayangkan dengan nalar dan pikiran, "Ve bisa saja."


Sampai mereka masuk dalam pesawat dan berpamitan. Vefe masih banyak tertegun karena kagum melihat pesawat yang berukuran besar tetapi penumpang hanya dua orang. Kru pesawat yang banyak tidak sebanding dengan penumpangnya.

__ADS_1


Khan mengajak Vefe turun dari pesawat sesaat pesawat sebentar lagi akan terbang. Khan mengajak duduk di kafe bandara hanya sekedar untuk nongkrong dan beristirahat, "Ve ... Mana rekeningnya, Mas mau mentransfer belanjaan Elya."


"Sebentar, Ve kirim lewat telegram ya, Mas."


"Ya ...."


Khan langsung mentranfer bayaran belanjaan Elya dengan digit yang besar. Yang awalnya rekening Vefe hanya tidak sampai puluhan sekarang diatas ratusan. Vefe sampai membuka lebar mulutnya setelah membaca notifikasi dari Bank melaui email.


"Mas ... Mengapa besar sekali, salah Mas kirimnya?"


Khan hanya tersenyum simpul, "Tidak dong, Ve. Itu sesuia dengan jumlah harga yang dikirim Elya tadi."


"Salah ... Mas, Lihatlah ini kelebihan nolnya."


"Sini coba Mas lihat!" Khan mendekatkan badannya untuk membeca email yang di tunjukkan oleh Vefe di ponselnya.


"Oooo Mas salah ya?"


Vefe semakin bingung saat Khan santai dan tidak menanggapi kepanikannya. Uang yang sangat banyak sekarang ini berada direkeningnya. Bahkan membayangkan saja bingung, dia tidak pernah memiliki uang sebanyak itu.


"Mas ...!"


"Apa sih, Sayang."


"Sini Ve minta nomor rekening Mas Khan, akan Ve kembalikan sekarang!"


Khan sengaja mendekatkan wajahnya di pipi Vefe, "Tidak usah, Sayang. Anggap saja itu tanda pengingat agar Ve tidak lagi meninggalkan Mas seperti kemarin," jawab Khan sambil mengedipkan matanya.


"Apa maksudnya pengikat?"


"Jangan berpikir negative lo. Mas tidak akan sanggup lagi jika Ve seperti jauh kemarin, Ve mengerti maksud Mas?"


"Tidak," jawab Vefe semakin bingung.


Khan mengerutkan keningnya berpikir agar Vefe tidak tersinggung, "Begini saja, Mas akan menunjukkan jumlah saldo rekening yang ada di salah satu bank yang Mas miliki, anggap saja Mas titip di rekening Vefe biar terlihat berkurang sedikit saldonya."


"HaaaH ...!" mata Vefe terbelalak sempurna setalah melihat angka saldo yang ada di ponsel Khan.


BERSAMBUNG


sholat Anna, mampir yok di novel teman yang rekomen ini. seru lo ceritanya. sambil menunggu KKJ up lagi


__ADS_1


__ADS_2