
Setelah lebam wajah Khan menghilang karena di berikan salep dan obat. Pukul delapan malam Khan meluncur menuju panti asuhan untuk menemui Vefe. Khan belum sempat membuka ponselnya saat tiba di panti asuhan.
"Assalamualaikum."
"Walaikum salam, Mas Khan?"
"Vefe mau keluar?"
"Tidak, Ve keluar karena mendengar suara Mas, tadi siang Ve mengirim pesan tele pada Mas, tetapi ponsel Mas tidak aktif."
"Ooo iya ponsel Mas masih tidak aktif."
"Asisten Satria tadi siang ke sini mengirim nasi padang. Ve mengirim pesan pada Mas Khan untuk mengucapkan terima kasih."
Khan hanya tersenyum, tidak ingin salah bicara karena harus menyingkronkan ucapannya dengan Asisten Satria. Agar Vefe tidak curiga apa yang terjadi seharian ini.
"Berapa Asisten Satria mengirim nasi padang?"
"Lima puluh bungkus, Mas. Apakah Mas Khan belum bertemu dengan dia?"
"Belum, kebetulan ponsel Mas, mati belum aktif."
__ADS_1
Vefe melihat wajah Khan yang masih terlihat lebam dan ada luka merah di dahi. Vefe langsung mendekat dan memperhatikan dengan seksama, "Apakah Mas Khan habis berkelahi?"
Khan tergelak, wajah Vefe sangat dekat dengan wajahnya sendiri. Baru kali ini Khan merasakan debaran jantung yang terus berdegup kencang. Baru kali ini wajahnya sangat dekat dengan seorang gadis.
Khan hanya terpaku tidak menjawab pertanyaan Vefe. Dia memilih merasakan debaran jantung yang baru pertama kali di rasakan selama seumur hidupnya. Jantung seolah berdekup kencang tanpa henti semakin cepat dan semakin berdebar.
Vefe sampai menyentuh dahi Khan dan memeriksanya, "Iya Mas habis berkelahi ya?"
"Iya tadi Mas bertemu teman di ring tinju, kami bertarung berdua."
"Mengapa bertarungnya sampai luka begini, Mas?" Vefe masih dalam posisi semula sangat dekat dengan wajah Khan.
"Tidak usah khawatir, Ve. Ini biasa kami lakukan saat bertemu." Khan memilih mengundurkan badannya.
"Kok sepi, Ve. Di mana Umi Maryam dan Mpok Ria?"
"Mereka sudah beristirahat."
"Ooo ...." Khan hanya membulatkan bibirnya tidak melanjutkan ucapanannya.
Tanpa di sadari Vefe mendengar suara perut Khan yang meminta diisi. Seharian ini dia memang tidak makan sama sekali. Kecuali dua gelas coklat hangat tadi pagi yang dibuat oleh Pak Gun.
__ADS_1
"Mas Khan belum makan?" tanya Vefe.
Khan hanya menjawab dengan menggelengkan kepala. Berharap bisa mengajak Vefe untuk makan di luar berdua. Menemani mengisi perut yang kosong dari tadi pagi.
"Ayo Mas makan di sini saja, tadi Vefe dan Mpok Ria masak sayur asem dan ikan asin serta sambal terasi!"
Awalnya Khan ragu, seumur hidupnya dia belum pernah makan ikan asin. Ini karena Bunda Fatia dari kecil memang tidak pernah suka makan banyak garam. Tidak pernah minum menggunakan gula pasir, beliau lebih suka mengganti gula dengan gula jagung.
"Ayo Mas, enak lo ikan asinnya!"
"Baiklah ... Tapi benar ya yang masak Vefe?"
"Iya dong, Mas. Walaupun entah rasanya bagaimana. Ve bisa masak, Mas."
Duduk bersebelahan di meja makan panjang di ruang makan. Meja dan kursinya sangat panjang karena memang penghuni panti asuhan banyak. Mereka sering makan bersama dengan duduk berjajar sangat rapi.
Vefe langsung mengambilkan nasi sayur di piring Khan. Mendekatkan sambal terasi dan ikan asin di depan piring nasi. Ditambah satu gelas air putih.
"Silahkan di makan, Mas!"
"Terima kasih ... Ve temani Mas makan dong ayo!"
__ADS_1
"Baiklah, Ve temani Mas makan."
Vefe mengambil piring, mengisi nasi satu centong dan sayur asem. Mengambil sambal terasi dan dua ikan asin. Baru satu suap Khan memakan nasi dan satu potong ikan asin khan langsung terbatuk-batuk, "Mas ... Makan ikan asin itu harus sedikit-sedikit jangan langsung satu potong!"