
Khan nyengir kuda saat ditanya Vefe tentang uang cash. Sudah terbiasa menggunakan kartu ATM, jadi suka lupa mengisi dompet. Biasanya dompet hanya berisi kartu identitas dan kartu ATM saja.
"Tunggu ya Ve, Mas hubungi Asisten Satria, uang cash dia yang pegang.
Khan mengirim pesan WA kepada Asisten Satria. Memerintahkan untuk segera datang sambil membawa uang cash. Uang untuk membayar kaos yang di pesan.
Asisten Satria yang sudah menebak dan mengetahui kebiasaan tuannya. Dia sudah mempersiapkan uang cash dalam jumlah banyak di tas sebelum berangkat ke Surabaya tadi. Dia langsung mengajak Gi dan Ji berlari mendekati Khan dan Vefe.
"Berapa harga semua kaosnya, Tuan?" tanya Asisten Satria sampai di depan Khan.
"Ini kuitansinya dan jangan lupa bawa kaos itu ke dalam mobil ya!"
"Ok siap." Asisten Satria langsung membayar semua harga kaos yang sudah dipilih dan di pisahkan.
Selesai membayar kaos yang sudah dipilih. Asisten Satria menyenggol lengan Khan, "Tuan, sebaiknya Anda isi dompetnya, nanti tidak perlu tunggu saya untuk membayar."
"Iya ... Sini aku minta uang cash!"
"Ini uangnya, nanti kalau kurang saya ambilkan di ATM, tetapi WA dulu!"
"Hhmm...."
__ADS_1
Setelah dompet terisi uang lembaran merah. Khan mendekati Vefe berniat melanjutkan berkeliling berdua. Melihat Gi dan Ji yang sedang membaca kaos yang lucu dan menggelitik Khan mendekati Asisten Satria dan berbisik di telinganya, "Kamu ajak mereka lagi untuk membaawa kaos ke mobil, aku akan jalan lagi bersama dia."
Asisten Satria tersenyum devil mendengar Khan berbisik di telinganya. Sangat terlihat ada rasa cinta di mata Khan. Tatapan mata yang terlihat berbinar saat memandangi Vefe.
Sudah bisa di pastikan jika tuannya sekarang ini mulai jatuh cinta. Dia mulai terlihat nyaman saat berjalan beriringan dengan Vefe. Tidak seperti saat bertemu dengan wanita seksi dan selalu berkeringat dingin.
Asisten Satria mengajak Gi dan Ji untuk mengangkat kaos ke mobil. Dengan iming-iming akan mendapat uang jajan. Mereka dengan semangkat membantu mengangkat kaos sampai di mobil.
Khan mengajak Vefe berkeliling lagi. Sekarang mereka berada di bawah Tugu Pahlawan. Sambil mendongak memandangi tugu yang menjulang tinggi.
Khan melihat di sekitar mereka banyak yang sedang berselfi untuk mengabadikan momen berada di ikonnya arek Surabaya. Khan mengeluarkan ponselnya membuka aplikasi foto.
"Boleh Mas!"
Berkali-kali Khan mengambil foto dari berbagai sudut. Setengah badan, berdiri berdua dengan latar belakang Tugu Pahlawan. Sampai pipi hampir menempel pipi dengan berselfi terlihat kepalanya saja.
Mereka melanjutkan berjalan kearah keluar Tugu Pahlawan. Ada pedagang yang menjual rambut nenek di pinggir jalan. Vefe langsung berlari mendekati dengan senyum yang mengembang.
"Mas tunggu sebentar ya, Ve pingin beli itu!"
Khan tersenyum mengikuti Vefe dengan langkah panjang. Terkadang keceriaan Vefe membuat hatinya ikut ceria. Seolah hidup tanpa beban walau dalam kekurangan.
__ADS_1
Pedadang rambut nenek itu membuat dagangannya sangat menarik. Di bentuk berbagai macam karakter. Ada bunga, berbagai binatang tetapi ada juga yang original dengan khas warna pink dan di bungkus plastik putih.
"Ve , mau yang mana, yang berbentuk bunga ini mau?" tanya Khan mengambil rambut nenek berwarna merah.
"Mau Mas, cantik banget." Vefe langsung mengambil rambut nenek dari tangan Khan.
"untuk Gi dan Ji mau binatang apa?"
"Itu mas, kelinci dan kucing."
"Dua lagi ya, Pak." Khan mengambil rambut nenek seperti yang di tunujuk Vefe.
"Mas, apakah boleh Ve minta satu lagi yang original?"
"Tentu, ini ambillah." Vefe menerima dengan riang.
Khan membayar dengan satu lembar uang seratus ribu, "Ini Pak uangnya. Sisanya untuk Bapak saja!"
"Terima kasih, semoga berjodoh," jawab Pedagang paruh baya itu.
Aamiin ...!" jawab Khan dengan sepenuh hati.
__ADS_1