Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 69. Konsekuensi


__ADS_3

Eno terus saja berlari mendekati Khan sambil merentangkan tangannya. Khan tersentak kaget saat tiba-tiba ada Ena berlari mendekatinya. Tidak menyangka Eno akhirnya tahu dan mencarinya.


Ada security yang berlari mendekati Khan bersamaan Eno hampir mendekatinya. Dengan spontan security ditarik oleh Asisten Satria dan masuk kedalam pelukan Eno. Security cengar-cengir dipeluk Eno sedangkan Eno kesal dan mendorong dengan kesal.


"Iiiih kamu pegawai rendahan berani-beraninya mencuri kesempatan!" teriak Eno sambil mendorong Security.


Asisten Satria tergelak dan berbisik kepada security yang kaget didorong oleh Eno, "Kamu nanti menghadap ke kantor nanti saya beri bonus!"


Yang awalnya security ingin marah karena di hina. Dia tersenyum manis dan mengangguk mendengar bisikan Asisten Satria. Tidak memperdulikan ocehan Eno yang marah dan merendahkannya.


Asisten Satria langsung mencegah Eno mendekati tuannya. Khan yang mulai berkeringat dingin memundurkan tubuhnya. Ada jarak antara Khan dengan Eno yaitu security dan Asisten Satria.


"Kamu sadar tidak ini ada di mana?" tanya Asisten Satria dengan tegas.


"Maaf ... Eno lupa karena sangat bahagia melihat Mas ... ?"


Eno tidak sempat melanjutkan ucapannya langsung dipotong oleh Asistern Satria," Jangan memanggil seperti itu dengan pemilik perusahaan!"


Eno cemberut dan menunduk tidak berani menatap wajah Asisten Satria. Kebahagiaan hatinya melihat Khan membuat dia tidak bisa mengendalikan diri. Obsesinya seolah tidak bisa membedakan kenyataan dan khayalan.


Asisten Satria berbisik lagi kepada security, "Kamu kawal Tuan Khan sampai kantornya sekarang, aku yang mengatasi dia!"


Khan hanya mengambil napas panjang melihat Eno mulai bertingkah. Tidak bisa di pungkiri trauma itu masih ada dan belum sepenuhnya hilang. Sekarang ini masih mengeluarkan keringat dingin saat bertemu dengan Eno.


Khan termenung teringat saat bertanya dengan Erina kemarin. Dia tidak mengalami trauma itu berpikir kemungkinan trauma sudah sembuh. Saat bertemu dengan Eno mengapa trauma itu masih tetap saja ada?


"Tuan, silahkan Anda ke kantor terlebih dahulu, saya yang akan menangani dia!" perintah Asiten Satria mengagetkan Khan yang sedang melamun.


"Ya ... Kalau dia masih bersikap tidak sopan kirim saja dia ke Benua Afrika, dasar bod*h!" Khan memandang Eno dengan tatapan marah dan kesal.


Khan meninggalkan lobi dan di kawal oleh security menuju kantornya. Eno masih menunduk dan bediri terdiam. Asisten Satria bertolak pinggang di depan Eno.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak mendapatkan perintah dari Nyonya Bunda kemarin?" Eno menjawab dengan mengangguk dan tetap manunduk.


"Coba kamu ulangi perintah dari Nyonya Bunda!"


"Bunda memerintahkan melarang Eno mendekati Tuan Khan lagi."


"Apakah perintah beliau cuma itu saja?"


"Bunda mengatakan bahwa Eno tidak berjodoh dengan Tuan Khan, Eno harus menjauhi dan berhenti mengejar Tuan Khan lagi."


"Yang baru saja kamu lakukan berarti kamu tidak melakukan perintah Nyonya Bunda, apakah kamu mau saya laporkan kepada beliau?" Eno menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Banyak karyawan yang mendengar dan melihat Eno dimarahi oleh asisten pemilik perusahaan. Mereka hanya melihat sambil belalu dan tidak ada yang berani membela Eno. Bahkan banyak yang tersenyum mengejek memandang wajah Eno yang terlihat datar.


"Kamu tahu konsekuensinya jika Nyonya Bunda tahu 'kan?" Kembali Eno mengangguk.


Jika Asisten Satria sudah marah, tidak perduli tempat dan waktu. Bahasanya menjadi kasar, tetapi sangat tegas. Karena ketegasan itulah banyak karyawan yang takut kepada Asisten Satria.


"Coba kamu ulang konsekuensi apa yang akan kamu terima jika kamu tidak melakukan perintah Nyonya Bunda!"


"Masih ada lagi saya tahu itu, katakan!"


"Akan berpindah tugas Ke Surabaya selamanya bahkan bisa dipecat secara tidak hormat."


"Bagus ... kamu sekarang juga aku pindah tugaskan ke kantor yang ada di Surabaya. Sana kemasi barangmu!"


Asisten Satria meninggalkan Eno sambil tersenyum simpul. Untung tiga hari yang lalu di hubungi oleh Bunda Fatia cara mengatasi Retno Wulandari. Ternyata sangat efektif terbukti Eno sekarang tidak bisa berkutik.


Asisten Satria langsung ke kantor manager perusahaan untuk memerintahkan kepindahan Eno. Semua bagian yang terkait juga harus menyelesaikan hari ini juga tentang Eno. Baik bagian administrasi tentang gaji dan bagian HRD yang membelikan tiket pindah ke Surabaya.


Sampai di kantor Khan, Asisten Satria langsung memberikan uang lima ratus ribu kepada security. Bonus telah menyelamatkan Khan dari aksi Eno yang akan memeluknya.

__ADS_1


Senyum security mengembang sempurna mendapatkan bonus yang lumayan. Hari ini menang banyak dipeluk wanita cantik. Dan mendapatkan uang bonus pula.


Siang itu juga Eno berangkat ke Surabaya. Kembali ke kampung halaman dan bekerja di perusahaan cabang yang ada di sana. Eno tidak bisa membantah sedikitpun keputusan akhir Asisten Satria.


Sampai hari selasa siang, pekerjaan Khan dan Asisten Satria selesai. Mereka langsung kembali ke Jakarta siang itu juga. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu terbuang percuma.


Sampai Bandara Internasional Soekarno Hatta, Khan memerintahkan Asisten Satria pulang sendiri. Koper milik Khanpun Asisten Satria yang membawa pulang. Pulang menggunakan jasa mobil online.


Dalam perjalanan pulang, Khan menanyakan kegiatan Vefe saat ini. Mereka berbincang dengan telegram. Saling bercerita dan bercanda dan terkadang di sertai rayuan Khan.


Khan memakai mobil sendiri langsung meluncur di sebuah perguruan silat. Dia ingin menyaksikan Vefe sedang melatih para pesilat pemula. Melajukan mobilnya dalam kecepatan diatas rata-rata agar cepat sampai di sana.


Rasa rindu tiga hari tidak bertemu rasanya sangat menyesakkan dada. Hanya bisa berbincang melalui telegam, vedio call selama di Sulawesi. Sekarang saatnya bertemu langsung untuk melepaskan rindu yang membara.


Sampai di perguruan silat, Khan memarkirkan mobilnya. berdiri bersandar di mobil sambil memasukkan ke dua tangannya di kantong saku celana. Melihat Vefe yang masih konsentrasi mengajari anak-anak remaja berlatih.


Khan selalu memandang Vefe dengan tersenyum simpul. di mata Khan seolah tidak ada yang indah selain wajah Vefe seorang. Setiap gerakan Vefe dilihat Khan tanpa henti.


Ada tiga pelatih yang sedang mengajari diantaranya ada Daniel di sana. Daniel melambaikan tangan kepada Khan saat melihat Khan berdiri di kejauhan. Khan tersenyum sambil meletakkan jari telunjuk di bibir.


Daniel mengangguk dan melirik Vefe. Dia masih konsentrasi dengan anak-anak yang fokus berlatih. Mengerti maksud Khan agar tidak mengabari Vefe terlebih dahulu.


Setelah setengah jam berlalu, latihan silat selesai. Daniel langsung mendekati Vefe, "Ve di jemput sang pujaan hati, tuuuh di sana!" Daniel menunjuk Khan yang masih setia berdiri bersandar di mobil.


Vefe tersenyum melihat Khan yang tersenyum sambil melambaikan tangan dengan tangan kiri. Tangan kanan di letakkan di belakang. Setelah mengetahui hampir selesai latihan, Khan memgmbil sesuatu yang diletakkan di jok pengemudi.


"Hai Mas ...!"


Khan langsung berjongkok di depan Vefe, "Bunga cantik untuk Ve yang cantik."


BERSAMBUNG

__ADS_1


Yok mampir di novel teman. Ini rekomen banget lo sambil menunggu KKJ up besok pagi.



__ADS_2