Khan, Kamulah Jodohku

Khan, Kamulah Jodohku
Bab 229. Dibalik Kesulitan Ada Hikmah


__ADS_3

Yang awalnya tegang kini berganti senang. Yang awalnya ingin menyalahkan kini diganti kebahagiaan. Hanya ada ucapan syukur dibalik kesulitan pasti ada hikmah yang besar.


Bunda Fatia awalnya membatin karena salah Mpok Ria yang makan sate kambing lebih dari satu porsi. Semua yang berlebihan hasilnya akan tidak baik. Namun menyadari keterbatasan dari Mpok Ria yang tuna rungu pasti memiliki keterbatasan pengetahuan juga.


Pak Gun keluar dengan senyum mengembang walau tanpa menggendong bayi yang baru dilahirkan. Kasus Mpok Ria tidak seperti permasalahan seperti ibu hamil pada umumnya dari awal. Lebih banyak beresiko karena hamil dengan cara bayi tabung dan umur ibu yang tidak lagi muda.


Bayangan Vefe, Pak Gun keluar dengan menggendong bayi yang baru saja dilahirkan sang istri. Sayangnya dia keluar hanya sendiri, "Pak Gun, di mana bayinya?" tanya Vefe.


"Dia laki-laki atau permpuan?" tanya Khan.


"Selamat ya, Pak Gun. Bayinya sehat, 'kan?" tanya Bunda Fatia.


"Bagaimana keadaan Dik Ria?" tanya Mommy Astrid.


Pak Gun tersenyum diberondong pertanyaan yang banyak. Mengambil napas panjang dan menghembuskan dengan perlahan, "Alhamdulillah, bayi dan ibunya sehat, bayinya laki-laki cuma karena prematur untuk sementara harus dirawat di inkubator terlebih dahulu."


"Alhamdulllah, berapa berat badan bayinya, Pak Gun?" tanya Vefe.


"Beratnya hanya satu koma delapan kilogram saja dan panjangnya lima puluh centimeter."


"Lahirannya lancar saja, 'kan?" tanya Umi Maryam.


"Alhamdulillah ...."


Pak Gun bercerita karena saat masuk UGD sudah pembukaan tiga. Mpok Ria ingin melahirkan secara normal. Dokter kandungan juga menyetujui keinginan dari Mppok Ria.


Awalnya terkendala pada bahasa dan cara berkomunikasi. Dokter, suster dan bidan kesulitan dan bingung karena mereka tidak faham dengan bahasa isyarat. Akhirnya Pak Gun yang menjadi juru bicara antara tenaga medis dengan Mpok Ria.


Dengan bekerja sama dan saling menghormati keterbatasan. Persalinan berjalan lancar dan tanpa kendala. Bayi dinyatakan sehat dan normal seperti bayi pada umumnya.


Pak Gun diceritakan tentang masalah yang sebenarnya mengapa lahir prematur oleh Bunda Fatia. Namun ini hanya sebagai pengalaman bukan untuk saling menyalahkan. Semua sudah terjadi dan tidak perlu diungkit lagi.


"Tadi malam Ria memang bilang pingin sate, katanya mau memesan lewat online."


"Jadi Pak Gun tidak tahu kalau Mpok Ria pesan sate kambing dua porsi?" tanya Bunda Fatia.


"Tidak ...."

__ADS_1


"Ya sudah, yang penting jangan menyalahkan Mpok Ria. Diberikan penjelasan saja."


"Baik, Nyonya Bunda. Terima kasih."


Kebahagiaan Pak Gun dan Mpok Ria hari ini lengkap sudah. Memiliki putra yang sehat walau berat badan masih kurang. Ucap syukur berkali-laki dilakukan atas karunia Ilahi yang sangat besar.


Kuasa Ilahi Robbi memang sangatlah besar. Dari awal tidak memiliki harapan untuk mempunyai keturunan. Tidak disangka diberikan kepercayaan oleh yang maha kuasa bayi mungil yang sehat kini dalam pelukan.


Kabar kelahiran putra Pak Gun menambah semangat pasangan Aan yang bersamaan program bayi tabung. Hanya bedanya Kak Mur sekarang ini sedang mengandung bayi perempuan. Kandungan Kak Mur sangat sehat bahkan berat badan bertambah sekitar lima belas kilogram.


"Aduuuh lucunya, mungil dan manis bayinya," kata Kak Mur saat melihat bayi Pak Gun di ruang inkubator.


"Apakah putri kita nanti lucu seperti itu, Sayang?" tanya Aan.


"Bayi kita pasti cantik seperti ibunya dong, Bang."


"Kalau itu pasti, istri Abang memang yang paling cantik."


Wahono yang berdiri di belakang Aan langsung menggepak kepala sahabat sekaligus rekan bisnisnya, "Istri gue juga paling cantik."


Aan hanya nyengir kuda dan meletakkan jari telunjuk di bibir. Terkadang mood ibu hamil sering naik turun. Presepsi cantik tergantung pada pemilik hati saja.


"Kalau yang itu pasti dong," jawab Aan dengan semangat.


Datang Khan dan Vefe dari ruang rawat inap Pak Gun. Bergabung dengan dua pasang sahabat mantan bujang lapuk. Mendengar apa yang mereka perbincangkan sambil melihat putra Pak Gun.


"Pak Gun juga sangat memperhatikan pola makan dan kesehatan Mpok Ria," kata Khan dengan kesal.


"Eeee jangan tersinggung, Bro. Maksud gue bukan menuduh Pak Gun tidak memperhatikan istrinya, tetapi ini hanya nasihat agar bayi Aan lahir sehat."


"Oooo kirain pada menuduh Pak Gun."


Setelah ke luar dari ruang bayi, tiga pasangan sahabat ke kamar ruang rawat inap Pak Gun. Mengucapkan selamat dan berbincang. Bercerita tentang kehamilan, ngidam dan pengalaman melahirkan.


Datang satu pasangan lagi yang sedang hamil juga yaitu Erina dan Daniel bargabung. Dari ketiga ibu hamil, hanya Erina yang paling sehat dan santai saat hamil. Tidak mengalami muntah dan mual atau ngidam. Kata orang hamil kebo karena Erina setiap hari lebih banyak tidur dari pada beraktivitas.


Hanya Umi Maryam saja yang malam ini menemani Mpok Ria dan Pak Gun di rumah sakit. Sampai pukul sepuluh pagi Umi Maryam berpamitan pulang untuk berganti baju dan mengambil keperluan ibu dan bayi. Berencana akan ke rumah sakit setelah istirahat siang bersama Vefe dan Bunda Fatia.

__ADS_1


Setengah jam setelah Umi Maryam pulang ke panti asuhan. Datang Kakek raharjanto bersama Tante Darwati dan Tante Suprapti. Berkunjung untuk memberikan selamat atas kelahiran putra Pak Gun.


"Lo kok sepi, tidak ada yang menemani di sini?" tanya Kakek Raharjanto.


"Umi Maryam baru saja pulang, Kek," jawab Pak Gun.


Kakek Raharjanto hanya bisa mengambil napas panjang. Mencoba menyembunyikan perasaan dan kekecewaan hati. Lebih dari satu minggu tidak bisa bertemu dengan pimpinan panti asuhan.


"Dari tadi malam dia di sini?" tanya Kakek Raharjanto.


"Iya ... apakah Kakek ada perlu sama Umi?" tanya Pak Gun lagi.


"Tidak, Kakek cuma tanya saja."


"Oooo ...."


Datang tamu silih berganti saat ada keluarga Kakek Raharjanto. Dari teman, karyawan PT KURNIA atau karyawan yang bekerja di rumah Khan.


Mengucapkan selamat dan membawa buah tangan sebagai tanda perhatian.


Hampir dua jam Kakek Raharjanto berbincang dengan Pak Gun sambil menunggu Umi Maryam datang. Tidak bertanya kapan Umi Maryam datang. Hanya berharap datang dan seolah bertemu tanpa sengaja.


Hanya sayangnya sampai waktu Zuhur tiba, yang di tunggu tidak juga menunjukkan batang hidungnya. Sampai Tante Darwati mengajak ayahnya pulang, "Ayah ... ayo pulang, aku ada janji sama teman," kata Tante Darwati.


"Baru sebentar, Nak."


"Aku juga mau jemput Putri, Ayah. Ayo kita pamit!" Tante Suprapti juga mengajak ayahnya pulang.


"Baiklah ...."


Keluarga Kakek Raharjanto berpamitan pulang. Tak seorang pun yang tahu sebenarnya sang kakek sedang menunggu pujaan hati. Hanya sayangnya kali ini tidak juga bisa bertemu.


Hanya berselisih sepuluh menit, datang Umi Maryam bersama Vefe dan Bunda Fatia, "Lo banyak banget kadonya, siapa saja yang datang?" tanya Vefe.


"Kakek Raharjanto baru saja pulang, apakah tidak bertemu di parkiran?"


BERSAMBUNG

__ADS_1


ayo mampir ke novel teman author yang rekomen banget ini, ada di novel toon juga kok, terima kasih



__ADS_2