
Sambil mengambil buku menu yang sengaja di jatuhkan, Khan melirik Sania Parwati yang berjalan beriringan dengan temannya pemilik kafe. Dia menunggu sampai mereka berjalan sampai pintu utama. Duduk tegak lagi setelah mereka keluar dari pintu utama.
Khan hanya mengambil napas panjang karena merasa lega. Sania Parwati tidak melihat duduk di pojok kafe hatinya menjadi tenang. Karena tidak terjadi drama yang tidak diinginkan.
"Mas Khan kuliahnya di mana?"
"Mas kuliah di New York."
"Bukankah di sana lebih bebas tentang pergaulan, mengapa Mas belum pernah pacaran?"
Khan hanya tersenyum kecut, "Justru karena bebas itu, Ve. Mas jadi ilfil. Awalnya kaget dari pondok ke sana, tetapi setelah Mas memiliki tiga teman yang semuanya laki-laki jadi mulai bisa menyesuaikan diri."
"Menyesuaikan diri dengan kehidupan bebas begitu, Mas?"
"Eeee bukan itu, Ve. Maksudnya Mas bisa menyesuaikan dengan lingkungan dan menghindari wanita yang hidup cenderung bebas, sampai Mas dibilang guy karena tidak pernah berinteraksi dengan wanita di sana."
Vefe tertawa lepas karena di bilang guy, "Mas terima saja dibilang begitu?"
"Ha ha ... awalnya Mas justru senang karena tidak di dekati oleh wanita bule, tetapi lama-kelamaan Mas risih karena di kejar-kejar oleh laki-laki."
__ADS_1
"Ha ha ha ...." Vefe semakin tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Khan.
Khan hanya tersenyum sambil memandagi wajah Vefe yang terlihat bahagia. Wajahnya semakin terlihat cantik dan ceria saat dia tertawa tanpa beban. Seolah dia hidup tidak memiliki beban pikiran sama sekali.
"Bagaimana cara Mas mengatasinya?"
"Gampang saja, Ve. Terkadang bisa dibilang baik-baik dengan mengatakan Mas adalah laki-laki muslim, tetapi jika mereka masih terus mengejar terpaksa Mas kasih bogem mentah."
"Apakah ada yang memahami tentang islam dan muslim di negara adidaya itu, Mas?"
"Sekarang jaman sudah maju, Ve. Mereka banyak yang menghargai tentang agama dan kepercayaan kita."
Vefe yang mendengar ucapan Khan bingung karena tidak mengerti maksud ucapannya, "Mana minyak goreng, Mas?"
Khan gelagapan bingung mau menjawab apa. Untung dia sedang memegang dan melihat layar ponsel saat dua wanita itu lewat, "Ini Ve, ada iklan minyak goreng di ponsel."
"Oooo."
Daripada beresiko bertemu dengan Sania Parwati, Khan mengajak pulang Vefe. Dengan alasan waktu hampir senja dan matahari berada diufuk barat, "Ve ayo pulang, sudah senja nich!"
__ADS_1
"Iya ayo Mas."
"Lewat pintu samping saja biar cepat."
Lewat pintu samping dengan cepat tanpa terlihat oleh Sania Parwati dan temannya. SI Minyak Goreng itu masih asyik berbincang di dekat kasir. Untung kafe membuat sistem membayar terlebih dahulu sebelum makan.
"Mas, tadi perasaan mobil parkir di depan, mengapa sekarang ada di samping?" tanya Vefe heran.
"Tadi saat Mas ke kamar mandi, sekalian memindah mobil karena di parkiran depan tadi panas." Khan memberikan alasan asal saja dan untungnya Vefe tidak bertanya lagi.
Dalam perjalanan Vefe bertanya tentang konsep ulang tahun yang akan dilakukan dua minggu lagi, "Apa rencana konsep ulang tahun Mas Khan nanti?"
"Tidak perlu ada konsep, Ve. Kita bermain dan berkumpul saja."
"Apakah ke dua orang tua Mas Khan nanti hadir.
Khan termenung dan melamun mendengar setelah pertayaan Vefe. Dari kemarin tidak memikirkan tentang Bunda Fatia dan Ayah Jose. Walaupun tidak pernah dirayakan biasanya ke dua orang tua akan mengucapkan doa khusus dan terkadang makan malam bersama.
"Mas belum tahu, Ve."
__ADS_1
"Mengapa belum tahu, Mas?"